WELCOME TO CONSUMEDIA INDONESIA BLOGSITE


Kamis, 28 Maret 2013

Indonesia Pasar Potensial Bagi Industri Kosmetik

Kosmetik sangat identik dengan keindahan dan kesehatan tubuh dari ujung rambut sampai kaki. Bagi wanita, produk kosmetik selalu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, demi mendapatkan dan mempertahankan kecantikan dari waktu ke waktu. Inilah yang menjadi alasan mengapa wanita lebih banyak mengenal berbagai macam kosmetik untuk mereka gunakan setiap hari.
 
Kondisi ini dimanfaatkan menjadi peluang besar bagi produsen kosmetik. Jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, menjadikan Indonesia pasar yang menjanjikan bagi perusahaan kosmetik. Kendati mayoritas industri kosmetik membidik target konsumen utama kaum wanita, belakangan mulai berinovasi dengan produk-produk untuk pria.


Saat ini perkembangan industri kosmetik Indonesia tergolong solid. Hal ini terlihat dari peningkatan penjualan kosmetik pada 2012 sebesar 14% menjadi Rp 9,76 triliun dari sebelumnya Rp 8,5 triliun, berdasarkan data Kementerian Perindustrian.

 
Produk kecantikan dan perawatan tubuh global pada 2012 mencapai US$ 348 miliar, tumbuh tipis US$ 12 miliar dibanding tahun sebelumnya berdasarkan data Euro Monitor. Meskipun 2012 perekonomian dunia masih diwarnai krisis keuangan seperti yang terjadi di kawasan Euro, maupun perlambatan ekonomi China, produk-produk kecantikan bermerek terbukti masih dapat bertumbuh dengan solid. Produk kecantikan bermerek diprediksi tumbuh 6% tahun ini, lebih tinggi dari pertumbuhan produk kosmetik umum sebesar 4%.

 
Pertumbuhan volume penjualan kosmetik ditopang oleh peningkatan permintaan, khususnya dari konsumen kelas menengah.

Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) memperkirakan tahun ini penjualan kosmetik dapat tumbuh hingga Rp 11,22 triliun, naik 15% dibanding proyeksi 2012 sebesar Rp 9,76 triliun.  Dari sisi ekspor, industri kosmetik ditaksir tumbuh 20% menjadi US$ 406 juta.
  
Ketua Umum Perkosmi Nuning S Barwa, mengatakan pertumbuhan volume penjualan kosmetik ditopang oleh peningkatan permintaan, khususnya dari konsumen kelas menangah. Pertumbuhan penjualan kosmetik juga didorong oleh tren kenaikan penggunaan kosmetik oleh kaum pria. “Dulu pria tidak tertarik membeli produk perawatan kulit yang maskulin, tapi sekarang ketertarikan mereka tinggi,” katanya.
 
Peluang pasar kosmetik di Indonesia masih sangat besar. Karena itu, produsen kosmetik nasional perlu memenuhi kebutuhan konsumen yang terus meningkat. Apalagi, Kementerian Perindustrian juga memberikan insentif untuk mendorong pengembangan industri komsetik di Tanah Air.

Menteri Perindustrian,
MS Hidayat mengatakan pemberian insentif tersebut dilakukan untuk meningkatkan daya saing, khususnya dalam menghadapi persaingan dengan produk impor.  Insentif diberikan kepada industri kosmetik antara lain dalam bentuk tax allowance dan pembebasan bea masuk atas impor mesin.

Dengan adanya insentif itu, pemerintah berharap industri kosmetik mampu berekspansi secara rutin untuk meningkatkan kapasias produksi. Menurut Hidayat, industri kosmetik juga perlu didorong dalam kemandirian bahan baku, khususunya bahan baku herbal. “Indonesia memiliki keanekaragaman hayati dengan 30 ribu spesies tanaman obat, kosmetik, dan aromatik, terbanyak kedua setelah Brazil,” katanya.

Saat ini, industri kosmetik dalam negeri mendapat tantangan dengan peredaran produk kosmetik impor di pasar domestik. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan pasar domestik premium (high branded). Menurut data Perkosmi, tahun lalu penjualan kosmetik impor mencapai Rp 2,44 triliun, naik 30% dibanding 2011 sebesar Rp 1,87 triliun. Tahun ini, penjualan produk kosmetik impor diproyeksikan naik lagi 30% menjadi Rp 3,17 triliun. Peningkatan tersebut ditopang oleh kenaikan volume penjualan serta penurunan tarif bea masuk seiring perjanjian perdagangan bebas.
  
Wiyantono, Ketua Bidang Perdagangan Perkosmi, memperkirakan pertumbuhan pasar kosmetik impor tahun ini akan melewati pertumbuhan penjualan kosmetik lokal. Menurut dia, produk kosmetik impor masuk ke Indonesia umumnya melalui perusahaan skala kecil serta sistem pemasaran berjenjang (multilevel marketing). “Perusahaan besar seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) sudah memiliki unit produksi di sini,” katanya.  


Peluang Besar

Industri kecantikan nasional memiliki peluang yang besar di lingkup ASEAN. Hal ini ditunjukkan oleh masih rendahnya kontribusi penjualan ekspor dari perusahaan kosmetik yang hanya sebesar 18% terhadap penjualan total. Rendahnya kontribusi penjualan ekspor menunjukkan perusahaan kosmetik belum secara penuh berusaha mengupayakan penjualannya ke luar negeri.


Selain itu, faktor kesamaan iklim, sosial budaya, daya beli, berpotensi membuat konsumen ASEAN memiliki preferensi yang sama dengan konsumen Indonesia. Hal ini dapat menjadi pendorong produk kosmetik Indonesia dapat diterima dengan baik di pasar ASEAN.


Adanya pasar bebas ASEAN dan China (AC-FTA) yang akan berlaku pada 2015 selain dapat menjadi peluang pasar bagi industri kosmetik Indonesia, juga dapat menjadi tantangan karena adanya perjanjian ini membuat produk China lebih leluasa masuk ke pasar ASEAN. Hal ini berpotensi meningkatkan persaingan yang harus dihadapi pemain Indonesia.(dbs)


---------------------------------------------------------------------------------------- 
 

Rabu, 20 Maret 2013

Pemain Baru di Pasar Terigu Tahun Ini

Menurut Ratna Sari Loppies, Direktur Eksekutif Aptindo, lonjakan konsumsi turut mendorong masuknya pemain baru di industri terigu. 
Tahun ini, ada empat produsen tepung terigu baru yang siap meramaikan industri terigu nasional

Kendati hampir seluruh kebutuhan bahan baku gandum berasal dari impor, industri terigu tetap tumbuh subur di negeri ini. Terbukti, industri ini terus kedatangan pemain baru.

Data Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) menyebutkan, pada tahun 2013 ini, ada empat pemain baru yang akan meramaikan industri terigu nasional.


Mereka adalah PT Sarana Prima Makmur, PT Wilmar Flour Mills, PT Crown Flour Mills, dan PT Agrofood Makmur Mandiri. Rencananya, keempat perusahaan itu mulai beroperasi tahun ini.

Lokasi Pendirian pabrik terigu ini berbeda-beda. PT Sarana Prima Makmur mendirikan pabrik di Banjarmasin, PT Wilmar Flour Mills di Gresik, PT Crown Flour Mills di Tangerang, dan PT Agrofood Makmur di Mojokerto.

Saat ini, sudah ada 21 perusahaan yang meramaikan persaingan bisnis terigu nasional. Dengan bergabungnya keempat perusahaan ini, maka total pabrik terigu di Indonesia menjadi 24 unit.

Ketua Umum Aptindo, Franciscus Welirang mengatakan, masuknya keempatnya pemain anyar ini bakal mengerek kapasitas produksi terigu nasional.

“Saat ini, total kapasitas giling gandum mencapai 8,1 juta ton pertahun, dengan masuknya pemain baru, maka kapasitas akan di atas itu,” ujarnya saat berkunjung ke redaksi KONTAN, Kamis (14/3).

Sayang, pria yang akrab disapa Franky ini mengaku tidak tahu persis kapasitas produksi dari masing-masing pendatang baru tersebut. Bagitu juga dengan total investasi yang mereka siapkan.

Yang jelas, total investasi baru yang bakal mengalir kesektor ini akan terus bertambah. Soalnya, menurut data Aptindo, masih ada tujuh perusahaan lagi yang akan membangun pabrik terigu.

Beberapa dari mereka diantaranya PT Bungasari Flour Mills dan PT Murti Jaya. Mereka ini rencananya mulai beroperasi tahun 2014.

Pasar Terus Tumbuh
Kendati pemain kian banyak, Franky optimis, persaingan di bisnis ini tetap sehat lantaran pasar terigu nasional juga terus tumbuh. Pada 2012, misalnya, konsumsi terigu mencapai 5,5 juta metrik ton, tumbuh 7,6% dari tahun 2011.

Sekitar 92% dari jumlah konsumsi itu dipenuhi produsen lokal. Hanya 8% saja yang bersumber dari impor. Selain mengandalkan pasal lokal, produsen terigu juga getol mengekspor produk terigunya ke sejumlah negara.

Direktur Eksekutif Aptindo, Ratna Sari Loppies memprediksi konsumsi terigu tahun ini akan tumbuh lebih tinggi lagi dari tahun lalu. “Lonjakan konsumsi ini turut mendorong masuknya pemain baru itu,” kata Ratna.

Hingga saat ini, PT Bogasari Flour Mills masih menguasai pasar terigu nasional dengan pangsa pasar sekitar 51%. Adapun total kapasitas produksi Bogasari lebih dari 4 juta ton per tahun.


Indofood Bantu Kembangkan Ubi Jalar Gantikan Tepung Terigu

Dalam meneliti bahan alternatif pengganti tepung terigu, mahasiswa banyak mengembangkan ubi jalar. Komoditas ubi jalar menjadi bahan terfavorit mahasiswa dalam program diversifikasi pangan yang diadakan PT Indofood Sukses Makmur Tbk.

Kepopuleran ubi jalar juga tidak terlepas dari potensinya yang bisa menggantikan beras karena mengandung karbohidrat dengan indeks glikemik yang rendah.

"Pengembangan potensi pangan ini kita tekankan pada kearifan lokal untuk mengantisipasi krisis pangan," ujar Manager CSR PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Deni Puspahadi kepada Tribun Jogja Minggu (23/6/2013).

Dalam kegiatan yang diadakan PT Indofood Sukses Makmur Tbk ini, pihaknya menyalurkan dana sebesar Rp 1,6 miliar untuk penelitian mahasiswa. Melalui program Corporate Social Responbility (CSR)-nya ini pihaknya mendorong mahasiswa untuk menciptakan bahan alternatif selain tepung terigu.

Tahun ini pihaknya mengalokasikan dana mahasiswa dan tim khusus. Setidaknya ada 235 proposal penelitian bidang pangan mahasiswa S1 untuk memperoleh bantuan dana penelitian yang mengangkat tema 'Penganekaragaman Pangan Melalui Pemanfaatan Aneka Tepung Komposit dengan Memaksimalkan Komoditas Lokal' ini.

Program ini memberikan bantuan penelitian kepada 51 proposal penelitian dari Mahasiswa dari 32 perguruan tinggi. "Jumlah ini meningkat dari tahun lalu yang hanya 224 proposal,"kata Deni.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...