WELCOME TO CONSUMEDIA INDONESIA BLOGSITE


Selasa, 18 Desember 2012

Tantangan Terkini dalam Inovasi Susu untuk Anak

Permasalah gizi yang ada di  Indonesia saat  ini  dan menjadi tantangan besar bagi Industri susu dalam berinovasi. Dengan menjawab tantangan ini diharapkan industri susu di Indonesia dapat memberi sumbangan yang nyata terhadap peningkatan status gizi anak Indonesia dan pada akhirnya dapat menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang handal dan mampu bersaing dengan bangsa lain di dunia.


Pada intinya Indonesia memiliki empat tantangan besar untuk industri susu dalam berinovasi, yakni menyediakan gizi dengan harga terjangkau, menyediakan gizi untuk kecerdasan, memenuhi kebutuhan gizi anak untuk pertumbuhan optimal dan menyediakan gizi untuk kesehatan. 

1. Susu, gizi dengan harga terjangkau  

Masalah gizi kurang dan gizi buruk masih terjadi di Indonesia. Angka balita yang kekurangan gizi di tahun 2010 berdasarkan Riskesdas 2010 adalah 17.9% (13% balita kurang gizi dan 4.9% balita dengan gizi buruk). Angka ini sudah menurun dibanding 24.5% di tahun 2005 (data SUSENAS 2005).

Berbagai faktor menjadi penyebab kurang gizi pada  anak. Kemiskinan dinilai sebagai penyebab penting masalah kurang gizi karena keluarga miskin tidak dapat memenuhi asupan makanan yang cukup dan berkualitas. Dengan adanya pengenalan konsep 4 sehat 5 sempurna sejak tahun 1950, secara umum masyarakat Indonesia mengetahui bahwa salah satu peranan susu adalah untuk menyediakan gizi dan mencukupi kebutuhan gizi masyarakat.

Untuk mempertajam peranannya dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, tentu saja susu harus dirancang tidak saja memiliki kandungan kalori dan protein yang cukup tetapi juga memiliki tingkat fortifikasi vitamin dan mineral yang sesuai.

Secara khusus, International Food Policy Research Institute (IFPRI), sebuah lembaga riset internasional merekomendasikan Vitamin A, Yodium dan zat besi sebagai zat gizi yang penting yang perlu diperhatikan. Fortifikasi ketiga zat gizi ini pada susu sudah dapat dilakukan sejak lama bersama sama dengan fortifikasi vitamin dan mineral lainnya. 

Walaupun susu dipercaya sebagai sumber gizi yang baik, pada kenyataannya tingkat konsumsi susu di Indonesia masih rendah, yaitu sekitar 11.8 liter per kapita per tahun.  Angka ini jauh lebih rendah dari Cina (20.76) atau bahkan Vietnam (14.05) ataupun Filipina (12.25). Rata rata setiap orang di Indonesia hanya meminum susu kurang dari segelas setiap minggunya atau hanya sekitar 30 ml per hari.

Hal ini sejalan dengan  rendahnya konsumsi pangan hewani, yaitu hanya sekitar 148 kkal  per kapita per hari, jauh dibawah anjuran 240 kkal per kapita per hari.

Seperti diuraikan sebelumnya, kemiskinan adalah penyebab penting masalah kurang gizi. Salah satu alasan masyarakat Indonesia untuk tidak membeli susu adalah karena harganya yang tinggi dan tidak terjangkau. Adalah tantangan yang cukup besar bagi industri susu Indonesia untuk menyediakan gizi berkualitas dalam  jumlah yang cukup dengan harga terjangkau.

Beberapa usaha seperti membuat produk minuman susu dengan protein yang lebih rendah dan kemasan yang lebih kecil dapat membantu menurunkan harga susu sehingga lebih terjangkau. Akan tetapi untuk mencapai kandungan protein setara dengan susu biasa diperlukan jumlah konsumsi yang lebih banyak yang pada akhirnya tidak memberikan harga yang lebih murah secara signifikan.

Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan susu, Indonesia masih tergantung dari impor dengan harga yang relatif tinggi dan sangat fluktuatif. Beberapa usaha telah dan sedang dilakukan diantaranya adalah pembinaan petani susu untuk mendapatkan susu dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik dengan harga yang relatif stabil.

Usaha lain adalah mencari sumber protein alternatif untuk komponen susu misalnya kedelai dan bahan protein nabati lainnya. Selain kedua usaha tersebut, adalah tantangan yang cukup besar bagi industri susu untuk melakukan peningkatan efisiensi produksi, menekan biaya dan menahan laju peningkatan harga susu di Indonesia. 

2. Gizi untuk kecerdasan

Sejumlah penelitian telah menunjukkan peran penting zat gizi tidak saja pada pertumbuhan fisik tubuh tetapi juga dalam  pertumbuhan otak, perkembangan perilaku, motorik, dan kecerdasan.  Kekurangan gizi pada anak usia dini menyebabkan keterlambatan dalam pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, dan gangguan perkembangan kognitif. Selain itu, akibat kekurangan gizi dapat berdampak pada perubahan perilaku sosial, berkurangnya perhatian dan kemampuan belajar sehingga berakibat pada rendahnya hasil belajar. 

|  next page  |

Tantangan Terkini Dalam Inovasi Susu Untuk Anak (2)

Dalam perkembangannya, industri susu telah melakukan banyak penelitian untuk menemukan komponen gizi yang baik secara alamiah terdapat di dalam susu atau yang dapat ditambahkan ke dalam susu dan dapat membantu pertumbuhan otak dan diharapkan dapat mengoptimalkan kecerdasan anak.

Dimulai dengan pemenuhan gizi dasar untuk otak seperti zat besi dan yodium dan berlanjut ke asam lemak seperti asam linoleat, asam linolenat, DHA, ARA, komponen karbohidrat seperti asam sialat, eksplorasi terhadap komponen penunjang pertumbuhan dan perkembangan otak ini akan terus berlanjut hingga beberapa tahun kedepan. Tidak hanya komponen itu sendiri tetapi juga level yang tepat yang dapat memberikan manfaat sesuai dengan bukti ilmiah  yang ada. 

3. Gizi untuk tumbuh optimal
Di awal artikel ini disebutkan bahwa salah satu harapan konsumen adalah mendapatkan gizi untuk menunjang pertumbuhan optimal yang ditunjukkan dengan berat dan tinggi badan anak. Hal ini sesuai dengan tolok ukur yang digunakan secara internasional oleh WHO. WHO telah menyediakan standar baku rujukan berat badan dan tinggi badan menurut umur yang dapat digunakan untuk mencerminkan status gizi pada anak balita.

Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan pada tahun 2007 dan 2010 secara konsisten menunjukkan bahwa rata-rata asupan kalori dan protein anak balita masih di bawah Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Akibat dari keadaan tersebut, anak balita perempuan dan anak balita laki-laki Indonesia mempunyai rata-rata tinggi badan masing-masing 6,7 cm dan 7,3 cm lebih pendek daripada standar rujukan WHO 2005, bahkan pada kelompok usia 5-19 tahun kondisi ini lebih buruk karena anak perempuan pada kelompok ini tingginya 13,6 cm dan anak laki-laki 10,4 cm di bawah standar WHO.

Anak yang memiliki status gizi kurang atau buruk (underweight) berdasarkan pengukuran berat badan terhadap umur (BB/U) dan pendek atau sangat pendek (stunting) berdasarkan pengukuran tinggi badan terhadap umur (TB/U) yang sangat rendah dibanding standar WHO mempunyai risiko kehilangan tingkat kecerdasan atau intelligence quotient (IQ) sebesar 10-15 poin.

Penelitian tentang kalsium  pada susu, ketersedian dan manfaatnya terhadap pertumbuhan tulang dan gigi yang pada gilirannya menunjang pertumbuhan tinggi badan anak telah banyak dilakukan. Tetapi selain kalsium, rupanya masih terdapat faktor faktor gizi lainnya yang perlu ditelaah lebih lanjut. Adalah tantangan yang cukup besar bagi industri susu saat ini untuk menyediakan gizi dengan kalori dan protein yang cukup dan menemukan komponen gizi seimbang yang dapat membantu pertumbuhan anak sehingga dapat mencapai tinggi dan berat badan yang sesuai umurnya. 

4. Gizi untuk kesehatan
Jika membeli susu adalah investasi yang baik. Pada kenyataannya, kekurangan gizi pada anak balita memang dapat meningkatkan pengeluaran rumah tangga dan pemerintah untuk biaya kesehatan karena banyak warga yang mudah jatuh sakit akibat kurang gizi.

Faktor makanan dan penyakit infeksi, sebagai penyebab langsung masalah gizi, keduanya saling berkaitan. Anak balita yang tidak mendapat cukup makanan bergizi seimbang memiliki daya tahan yang rendah terhadap penyakit sehingga mudah terserang infeksi. Sebaliknya penyakit infeksi seperti diare dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dapat mengakibatkan asupan gizi tidak dapat diserap tubuh dengan baik sehingga berakibat gizi buruk. Oleh karena itu, mencegah terjadinya infeksi juga dapat mengurangi kejadian gizi kurang dan gizi buruk.

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menjadikan susu sebagai sumber gizi yang tidak saja dapat memenuhi kebutuhan gizi anak tetapi juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh anak. Dalam hal ini, penelitian terhadap komponen gizi seperti prebiotik, probiotik, sinbiotik, nukleotida, laktoferin dan komponen lain berkaitan dengan fungsi dan manfaatnya terhadap kesehatan dan daya tahan masih terus akan berlanjut. 

Tidak berhenti pada daya tahan tubuh anak, beberapa literatur mengatakan bahwa kondisi gizi sejak balita bahkan sejak lahir dapat mempengaruhi kesehatannya sewaktu dewasa. Bayi dengan berat badan lahir rendah misalnya, memiliki risiko menderita diabetes mellitus, penyakit jantung dan pembuluh darah, kegemukan (obesity), kanker, dan stroke (James et al., 2000).

Penelitian tentang pola makan anak dan pengaruhnya kepada kesehatan di masa dewasa sedang dilakukan. Kita dapat berharap bahwa inovasi susu sebagai gizi yang dapat mengurangi risiko penyakit di masa depan akan dapat terwujud sehingga masyarakat Indonesia dapat menikmati kualitas hidup yang lebih baik di masa datang. 

Pemerintah, Lembaga Penelitian dan Industri
Masalah gizi di Indonesia adalah masalah yang serius. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah, peneliti dan industri. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan perlu membuat arahan dan kebijakan yang mengedepankan kepentingan masyarakat banyak.

Alangkah baiknya jika kebijakan kebijakan yang dituangkan dalam bentuk peraturan dan regulasi, memberikan ruang pada peneliti dan industri untuk berperan dalam turut mengatasi masalah gizi yang ada saat ini.

Dengan menetapkan regulasi yang jelas dalam mengatur klaim gizi, pemerintah dapat membuka peluang bahkan mendorong penelitian yang serius tentang zat zat gizi penting yang dibutuhkan masyarakat yang pada akhirnya dapat bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Lembaga penelitian sesuai fungsinya dapat berperan aktif dalam menyediakan pengetahuan dan data yang akurat sehingga dapat digunakan secara baik oleh pemerintah dan industri. Pemerintah tentunya membutuhkan pengetahuan dan data untuk menetapkan kebijakan, membuat peraturan dan melakukan pengawasan yang baik.

Industri pun memerlukan pengetahuan dan data untuk dapat menyediakan produk dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Industri memiliki tanggung jawab untuk menyediakan produk dan jasa yang berkualitas baik, tidak saja aman tetapi juga memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Tjatur Lestijaman,
Praktisi Industri Pangan, Peneliti dan Pengembang Produk Gizi, 
saat ini bekerja di Pfizer Nutrition

|  previous  |

Rabu, 13 Juni 2012

Enriched Dairy Beverage Mix

Milk is now part of our daily drinks. Correlation between milk and calcium and thus osteoporosis is widely known. Even more, milk is now has various functions, for babies as well as for adults. Not only it is fortified with vitamins and minerals but also other functional ingredients beneficial for human health.

Melambungnya biaya pengobatan menjadi salah satu pendorong masyarakat mencari alternatif yang lebih murah untuk menjaga kesehatan. Hal ini meningkatkan minat masyarakat terhadap pangan fungsional, pangan atau bahan pangan yang memberikan manfaat fisiologis lebih dibandingkan pangan pada umumnya.


Dalam konteks ini, minuman berbasis susu mengambil bagian yang cukup besar dalam pasar pangan fungsional, mendekati 43% dari pasar. Hasil survei yang ditampilkan pada seminar Vitafood Europe 2010 menunjukkan bahwa 98% responden Eropa merasa produk berbasis susu merupakan produk pangan fungsional yang penting bagimereka. Bagaimana dengan masyarakat Indonesia? 

Minuman berbasis susu  sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Tidak hanya lidah yang makin terbiasa dengan karakteristik susu namun juga pengetahuan akan manfaat susu makin meluas ke semua lapisan masyarakat. Sejalan dengan maraknya pangan fungsional, kini susu tak hanya berisi susu. 

Berbagai bahan pangan fungsional dapat ditambahkan untuk memberikan nilai lebih produk tersebut. 

Dalam International Journal of Dairy Technology, disebutkan bahwa secara garis besar, produk berbasis susu dapat dibagi menjadi tiga kelompok:

• Basic milk products, seperti yogurt, keju, mentega, es krim dan lain-lain.

• Added value products, seperti produk rendah atau bebas laktosa, produk hypoallergenic, produk yang difortifikasi dengan vitamin dan mineral.

• Functional dairy foods, minuman susu dengan probiotik. Produk di kelompok ini memberikan manfaat kesehatan lebih dari produk susu pada dasarnya. Berbicara mengenai functional dairy foods memang sangat menarik. Apalagi bahan pangan fungsional juga semakin beragam.

Lalu, bahan pangan apa saja yang sudah banyak digunakan dalam produk susu?

Probiotik merupakan salah satunya. Produk berbasis susu mempunyai peranan khusus untuk mengantarkan bacteria bermanfaat sampai di usus kita. Susu merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan dan kemampuan hidup bakteri-bakteri baik tersebut. Banyak penelitian yang menunjukkan manfaat probiotik bagi saluran pencernaan dan di Indonesia, probiotik banyak ditambahkan pada produk susu formula untuk bayi dan anak-anak.

Di samping probiotik, prebiotik juga merupakan salah satu bahan pangan fungsional yang digunakan dalam minuman berbasis susu. Contoh prebiotik yang telah diakui oleh BPOM adalah inulin karena kemampuannya menstimulasi perkembangbiakan bakteri baik di dalam usus.

Selain berfungsi sebagai prebiotik, inulin sendiri sebagai serat larut juga mempunyai fungsi dalam membantu menurunkan kolesterol sehingga bermanfaat untuk kesehatan jantung. Inulin ini banyak digunakan pada produk-produk susu yang menekankan fortifikasi serat serta mengutamakan klaim penurunan kolesterol maupun kesehatan jantung.

Oat juga merupakan sumber serat larut sekaligus tidak larut. Kandungan beta glukan pada oat, dalam jumlah yang mencukupi telah terbukti membantu penurunan kolesterol. Sementara itu kandungan serat tidak larutnya membantu melancarkan buang air besar serta memberikan efek kenyang. Karena itulah oat banyak ditambahkan ke dalam susu yang bermanfaat untuk kesehatan jantung dan juga susu pengganti makan.

Asam lemak tak jenuh seperti Omega 3 dan Omega 6 juga banyak digunakan pada susu ibu hamil, menyusui, bayi, anak-anak maupun dewasa. Hal ini karena manfaatnya yang cukup luas mulai dari membantu perkembangan otak hingga untuk kesehatan jantung dan kelancaran peredaran darah.

Senyawa sterol pada tanaman yaitu fitosterol dan fitostanol yang dalam dosis tertentu telah terbukti membantu menurunkan kolesterol, banyak digunakan dalam minuman susu yang mengutamakan klaim ke arah kesehatan jantung.

Asam lemak rantai sedang seperti CLA (Conjugated Linoleic Acid) juga banyak digunakan pada minuman susu dewasa. Banyak penelitian yang menunjukkan manfaat CLA terkait dengan pembakaran lemak.

L-Carnitine, sejenis vitamin, banyak digunakan di produk susu dewasa terkait pembakaran lemak. L-Carnitine merupakan senyawa alami yang banyak terdapat apda daging-dagingan. Senyawa ini memfasilitasi pembakaran asam lemka rantai panjang di dalam otot kita.

Isoflavon yang diekstrak dari kedelai juga banyak digunakan untuk memfortifikasi susu dewasa. Hal ini terkait dengan manfaatnya membantu menurunkan risiko penyakit jantung.

Glucosamine dan Chondroitin merupakan dua senyawa alami yang banyak digunakan pada susu dewasa. Banyak penelitian yang menunjukkan manfaat kedua senyawa ini untuk kesehatan sendi. Sebelum kemunculannya di dalam produk susu, kedua senyawa ini sudah dikenal sebagai suplemen oleh penderita rematik.

Madu pun sekarang banyak ditemukan di dalam minuman berbasis susu. Madu dipercaya sebagai sumber energi dan baik untuk daya tahan tubuh serta kesehatan pada umumnya. Jika kita lihat di pasaran Indonesia, minuman berbasis susu yang difortifikasi dengan madu, kebanyakan adalah susu formula, susu anak-anak ataupun susu untuk pria.

Masih ada banyak lagi bahan pangan fungsional yang saat ini sudah diaplikasikan di berbagai minuman berbasis susu, misalnya kolin, spingomielin dan kolagen.

Sebagian besar masyarakat sudah tahu bahwa susu baik untuk mencegah osteoporosis karena kandungan kalsium dan mineral-mineral lainnya. Namun dapat kita lihat, dengan semakin berkembangnya ilmu gizi dan teknologi pangan, minuman berbasis susu tak lagi hanya untuk kesehatan tulang. Banyak sekali manfaat lain yang dapat dirasakan oleh kita melalui produk minuman berbasis susu yang telah difortifikasi bahan pangan fungsional.

Seperti yang dituliskan di awal artikel ini, perkembangan minuman berbasis susu sebagai pangan fungsional masih akan terus berlanjut. Tak hanya dari jenis fortifikasi, namun kini sudah marak susu rendah atau tanpa lemak, susu tanpa penambahan gula dan bahkan susu organik. (dbs)

Susana, Head of Nutrition Research Center for Diet and Sport Nutrition
PT Nutrifood Indonesia

------------------------------------------------------------------------------------

Rabu, 06 Juni 2012

Inovasi Jadi Penentu Pertumbuhan Produk Susu

Susu merupakan produk pangan yang mengandung zat gizi lengkap dan bernilai tinggi bagi tubuh. Tidak hanya oleh masyarakat menengah ke atas, manfaat susu juga dirasakan masyarakat oleh kalangan menengah ke bawah. Dapat dikatakan susu telah menjadi kebutuhan semua lapisan usia dan strata ekonomi. 

Merespon tingginya minat masyarakat pada produk asal ternak ini, sejumlah merek susu makin meningkat dan meramaikan pasar nasional, baik susu dalam sediaan bubuk maupun cair. 


Menurut Associate Director Retail Measurement Service Nielsen Indonesia, Ika Jatmikasari, susu cair adalah kategori susu yang tumbuh paling pesat, dan menjadi pilihan sebagian besar masyarakat Indonesia, karena sejumlah kelebihan yang dimiliki, salah satunya karena kepraktisannya.

Data Nielsen Indonesia menunjukkan, pertumbuhan nilai penjualan susu cair meningkat 13%, sedangkan susu lainnya berada pada angka di bawah 10%. Bandingkan dengan pertumbuhan susu bubuk yang hanya tumbuh 4%, atau bahkan susu pertumbuhan yang justru tumbuh negatif.
 


Nielsen membagi pertumbuhan susu dalam beberapa kategori, yakni susu bubuk susu pertumbuhan, susu cair, susu kental manis, dan susu spesial. Yang disebut terakhir adalah susu yang dikhususkan untuk orang-orang tertentu, misal khusus untuk orang tua, atau untuk olahragawan.

Tidak berbeda jauh dengan susu bubuk, pertumbuhan penjualan susu kental manis (SKM) meningkat pada angka 3 %. Secara lebih detail, SKM dibagi lagi dalam dua kategori besar, yakni yang creamer dan non creamer, yang berturut-turut menyumbang 42 % dan 58 % dari total penjualan SKM.

Menurut Ika, pertumbuhan atau perkembangan suatu jenis atau merk susu di Indonesia saat ini sangat ditentukan oleh suatu inovasi. Oleh karenanya, ia menyarankan agar para produsen susu untuk selalu mencari inovasi pada setiap produk mereka. “Inovasi dapat dilakukan dari segi rasa, kemasan ataupun jenis produk,” kata Ika. 

Sejauh ini, menurut pengamatan Nielsen, inovasi yang paling umum dilakukan oleh para produsen adalah dalam hal rasa dan kemasan. Untuk inovasi rasa, hingga kini susu cair dengan rasa coklat merupakan susu dengan rasa yang lebih banyak diminati. Adapun untuk susu bubuk, rasa vanilla adalah yang paling banyak diminati konsumen.

Mengenai inovasi kemasan, para produsen susu telah mencoba mengeluarkan produk dengan kemasan yang menarik, khususnya pada susu yang targetnya adalah anak-anak. Danone misalnya, telah meluncurkan produk susu cair dengan botol berbentuk macan, atau susu cair Frisian Flag yang menambahkan gambar tokoh kartun Disney pada setiap kemasannya. “Hal-hal seperti inilah yang dimaksud dengan inovasi kemasan,” ujar Ika. 

Inovasi lainnya, lanjutnya adalah dari segi harga. Meningkatnya daya beli konsumen pada kelas menengah ke bawah mengakibatkan banyak produsen melakukan inovasi produk mereka sehingga bisa menjaring konsumen menengah ke bawah. Inovasi itu yakni dengan memproduksi kemasan yang lebih kecil, sehingga harga yang ditawarkannyapun menjadi lebih murah. 

Ika mencontohkan pada apa yang dilakukan pada produk susu kental manis, yang para produsennya meluncurkan produk susu kental manisnya dalam kemasan sachet sehingga lebih menjangkau kelas menengah dan bawah.

Selain pada inovasi, positioning juga merupakan hal penting yang harus dimiliki perusahaan. “Produk susu yang mereka buat harus memiliki manfaat yang jelas, dengan positioning jelas,” katanya. Ika mencontohkan susu Bear Brand dari Nestle Indonesia yang tidak terlalu melakukan inovasi yang berlebihan, namun senantiasa memperkuat positioning susu Bear Brand pada rasa dan kemasan aslinya. 

Dari segi harga, Bear Brand sebenarnya tergolong lebih mahal dari produk susu cair lainnya, namun Nestle tetap mempertahankannya, karena positioning Bear Brand yang sudah kokoh, sebagai susu kesehatan. 

Positioning yang dibangun tersebut membuat banyak masyarakat yang setia memilih Bear Brand apabila kondisi tubuh sedang tidak sehat ataupun untuk sekadar menjaga kesehatan. “Pada kasus ini dapat dilihat bahwa suatu positioning yang kuat dan tepat amatlah penting dalam perkembangan suatu produk,” tandas Ika.

Pemilihan pasar juga merupakan hal yang sangat diperhatikan para produsen susu. Terbaginya susu menjadi tiga kategori besar, yakni super premium, premium dan affordablemembuat produsen susu mempunyai pembagian strategi pemasaran yakni ke modern market dan tradisional market. Penentuan pasar ini tentu didasarkan pada karakteristik konsumen di daerah atau market tersebut.

Produk susu super premium dan premium umumnya dipasarkan di modern market, khususnya hipermarket, sedangkan untuk produk affordable umum dipasarkan di tradisional market atau modern market khususnya di Mini Market.

Pemilihan strategi pemasaran, positioning, dan inovasi yang tepat merupakan upaya yang harus dilakukan agar dapat membujuk konsumen untuk membeli dan menyukai produk susu yang dihasilkan.

Disadari atau tidak, upaya yang dilakukan ini juga akan meningkatkan angka konsumen atau peminum susu di Indonesia, sehingga kesadaran masyarakat akan pentingnya susupun juga turut meningkat. Kerjasama dari semua pihak inilah yang perlu diperkuat agar tercipta masyarakat Indonesia yang cerdas dan sehat melalui susu. (dbs)


------------------------------------------------------------------------
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...