PT Unilever Indonesia Tbk, kembali menghadirkan terobosan baru dalam dunia kuliner. Kali ini, mereka memperkenalkan tren di kalangan pleasure seekers dalam bentuk Magnoffee, cara menikmati es krim dan coklat premium dengan kopi, dengan menghadirkan Toni Wahid, seorang pemerhati kopi terkenal di tanah air.
WELCOME TO CONSUMEDIA INDONESIA BLOGSITE
Senin, 22 September 2014
Cokelat Couverture Premium
Seiring dengan perkembangan pengetahuan dan selera masyarakat menengah ke atas terhadap cokelat bermutu tinggi maka kebutuhan atas bahan pangan tersebut juga semakin berkembang pesat. Maraknya berbagai tren menu yang menggunakan cokelat sebagai bahan baku utamanya juga menjadi faktor pendukung meningkatnya kebutuhan bahan baku tersebut.
Jumat, 19 September 2014
Hatten Wines Raih 7 Penghargaan di CWSA Wine Competition 2014
Hatten Wines seolah mendapat durian runtuh. Baru saja merayakan hari jadi ke-20 di bulan Agustus lalu, di bulan yang sama secara mengejutkan meraih 7 penghargaan dari China Wine & Spirits Awards (CWSA) Wine Competition 2014 di Hongkong.
Medali emas ganda (double gold) jatuh pada produk Hatten Wines Pino de Bali, Alexandria dan Aga White, sedangkan Hatten Wines Tunjung mendapatkan medali emas. Untuk medali perak ditujukan pada Hatten Wines Jepun, serta medali perunggu diboyong Hatten Wines Rose dan Aga Red.
Medali emas ganda (double gold) jatuh pada produk Hatten Wines Pino de Bali, Alexandria dan Aga White, sedangkan Hatten Wines Tunjung mendapatkan medali emas. Untuk medali perak ditujukan pada Hatten Wines Jepun, serta medali perunggu diboyong Hatten Wines Rose dan Aga Red.
Rabu, 03 September 2014
Senin, 01 September 2014
Selasa, 19 Agustus 2014
Seafood, Good Food
Seafood tergolong dalam bahan makanan berupa hewan laut dan umumnya termasuk dalam jenis ikan, telur ikan, krustasea, moluska, hingga hewan laut berduri (echinodermata). Hewan laut cenderung lebih lezat dijadikan hidangan dibandingkan dengan hewan air tawar. Beberapa seafood disajikan mentah maupun matang.
Tiram (oyster)
Salah satu hidangan laut golongan kerang-kerangan ini termasuk jenis makanan yang sering disuguhkan di restoran kelas atas maupun hotel bintang lima. Tiram umumnya dikonsumsi mentah bersama air jeruk lemon, wine vinegar dan mignonette, namun dapat pula dimasak.
Tiram yang sering dikonsumsi terdiri dari beberapa jenis seperti pacific oyster, sydney rock oyster, nambucca rock oyster dan angassi oyster. Selain dijual dalam kondisi segar, tiram juga dijual dalam bentuk beku. Tiram dapat dikonsumsi langsung maupun dimatangkan. Karena rasa dan aroma yang khas, tiram juga diolah menjadi saus tiram yang sering digunakan sebagai bumbu pada masakan cina dan beberapa negara Asia lainnya.
Kerang Hijau
Kerang yang satu ini termasuk yang paling sering dikonsumsi. Kerang hijau dikenal dengan nama new zealand green-lipped mussel karena berasal dari Selandia Baru. Ada pula tipe black mussel yang berwarna hitaam kebiruan. Kerang ini termasuk dalam hidangan nasional di Belgia dan mudah pula dijumpai pada hidangan Perancis dan Timur Tengah. Namun perlu hati-hati jika memilihnya, karena hewan ini mudah menyerap racun maupun logam berat
Udang
Salah satu seafood yang termasuk sering diolah menjadi beragam hidangan, seperti tempura, tom yum goong, shrimp cocktail, dan masih banyak lagi. Udang disebut juga shrimp jika ukurannya kecil sedangkan prawn untuk udang berukuran besar. Prawn memiliki ukuran kaki dan dua buah antenna yang berukuran 2,5 – 3 cm. Untuk menghilangkan bau udang biasanya menyisihkan bagian kulit, kepala dan urat di punggung udang. Memasak udang cukup 2-3 menit dan jika lebih dari itu biasanya udang menjadi alot.
Cumi-cumi
Salah satu seafood berjenis hewan tanpa tulang belakang atau moluska ini terkenal dengan olahannya berupa calamari ring. Biasanya cumi-cumi diolah dengan cara ditumis, dibakar dan digoreng, serta tidak dimasak dalam waktu lama karena cumi-cumi mudah alot. Tak hanya dagingnya, bagian tinta pun dimanfaatkan untuk memberikan warna hitam pada pasta, risotto, dan bahkan beberapa restoran menggunakannya untuk mewarnai roti pizza.
Rajungan
Hewan laut berkulit keras atau krustasea ini menjadi salah satu bahan makanan favorit di restoran-restoran seafood. Rajungan masih satu keluarga dengan kepiting. Perbedaannya, habitat rajungan berada di laut sedangkan kepiting di air tawar seperti rawa.
Bentuk kaki rajungan pipih dan lebih panjang dibandingkan kepiting. Rajungan sering disebut juga blue manna crab karena warna kulitnya yang biru. Hewan laut ini umumnya ditemukan saat pasang surut di wilayah Samudera Hindia, Samudera Pasifik, Timur Tengah sampai pantai Laut Mediterania.
Ikan Buntal
Ikan ini lazim dikonsumsi di Jepang, dikenal dengan nama fugu. Rupanya mengonsumsi ikan ini berisiko meninggal dunia karena mengandung racun tetrodotoxin. Hampir seluruh tubuh ikan ini beracun dan umumnya disajikan menjadi sashimi. Tidak sembarang orang boleh mengolah dan menyajikan ikan buntal.
Fugu hiki adalah pisau khusus untuk memotong ikan buntal. Sejak 1985 pemerintah Jepang mewajibkan memiliki sertifikat bagi juru masak yang mengolah ikan buntal dan hanya 35% pelamar yang lulus. Walaupun berisiko dikonsumsi, harga hidangan ikan buntal ternyata mahal, harga seporsinya mencapai 5 ribu yen atau sekitar 500 ribu rupiah.
Salmon
Siklus hidup ikan ini cukup unik, salmon bertelur dan menetas di perairan air tawar yang deras, bermigrasi ke lautan, lalu kembali ke air tawar untuk bereproduksi. Ikan ini hidup di wilayah Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Jenis ikan ini di antaranya atlantic salmon, masu salmon, chum salmon, dan chinook salmon atau sering disebut king salmon dengan berat lebih dari 14 kg per ekor. Salmon sering diolah menjadi sashimi dan steak.
Ikan dengan kandungan tinggi omega 3 ini juga dapat diawetkan menjadi smoked salmon dan banyak diproduksi di Norwegia, Skotlandia, Irlandia dan sekitar pantai timur Kanada.
Tuna
Salah satu jenis ikan yang paling banyak dikonsumsi manusia. Bullet tuna adalah jenis tuna paling kecil yang berukuran panjang maksimal 50 cm, sedangkan atlantic bluefin tuna adalah jenis tuna paling besar dan panjang tubuh dapat mencapai 4,6 meter serta dipercaya dapat hidup lebih dari 50 tahun. Umumnya daging tuna berwarna merah dan masyarakat Jepang sering mengolahnya menjadi sushi dan sashimi.
Lobster
Lobster hidup di karang-karang laut khususnya di perairan yang dingin. Tubuh lobster berwarna biru tua hingga kehitaman. Lobster asal Amerika dan Kanada cenderung lebih besar dari Eropa. Seafood yang satu ini termasuk bahan makanan yang cukup mahal dan biasanya disajikan di restoran-restoran kelas atas. Untuk hasil masakan yang optimal sebaiknya menggunakan lobster hidup. Cara terbaik mengolah lobster yakni membekukannya selama 1 jam hingga pingsan lalu direbus.
Teripang (sea cucumber)
Teripang adalah salah satu hewan laut yang tidak memiliki tulang belakang. Hewan lunak ini hidup tersebar di lautan, mulai dari zona pasang surut hingga laut dalam, khususnya di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Bentuk hewan yang menyerupai timun ini biasanya sering diolah dalam masakan cina. Hanya bagian kulit teripang yang dikonsumsi, sedangkan isi perut disisihkan. Teripang banyak dijual dalam bentuk segar maupun kering.
foodservicetoday
Tiram (oyster)
Salah satu hidangan laut golongan kerang-kerangan ini termasuk jenis makanan yang sering disuguhkan di restoran kelas atas maupun hotel bintang lima. Tiram umumnya dikonsumsi mentah bersama air jeruk lemon, wine vinegar dan mignonette, namun dapat pula dimasak.
Tiram yang sering dikonsumsi terdiri dari beberapa jenis seperti pacific oyster, sydney rock oyster, nambucca rock oyster dan angassi oyster. Selain dijual dalam kondisi segar, tiram juga dijual dalam bentuk beku. Tiram dapat dikonsumsi langsung maupun dimatangkan. Karena rasa dan aroma yang khas, tiram juga diolah menjadi saus tiram yang sering digunakan sebagai bumbu pada masakan cina dan beberapa negara Asia lainnya.
Kerang Hijau
Kerang yang satu ini termasuk yang paling sering dikonsumsi. Kerang hijau dikenal dengan nama new zealand green-lipped mussel karena berasal dari Selandia Baru. Ada pula tipe black mussel yang berwarna hitaam kebiruan. Kerang ini termasuk dalam hidangan nasional di Belgia dan mudah pula dijumpai pada hidangan Perancis dan Timur Tengah. Namun perlu hati-hati jika memilihnya, karena hewan ini mudah menyerap racun maupun logam berat
Udang
Salah satu seafood yang termasuk sering diolah menjadi beragam hidangan, seperti tempura, tom yum goong, shrimp cocktail, dan masih banyak lagi. Udang disebut juga shrimp jika ukurannya kecil sedangkan prawn untuk udang berukuran besar. Prawn memiliki ukuran kaki dan dua buah antenna yang berukuran 2,5 – 3 cm. Untuk menghilangkan bau udang biasanya menyisihkan bagian kulit, kepala dan urat di punggung udang. Memasak udang cukup 2-3 menit dan jika lebih dari itu biasanya udang menjadi alot.
Cumi-cumi
Salah satu seafood berjenis hewan tanpa tulang belakang atau moluska ini terkenal dengan olahannya berupa calamari ring. Biasanya cumi-cumi diolah dengan cara ditumis, dibakar dan digoreng, serta tidak dimasak dalam waktu lama karena cumi-cumi mudah alot. Tak hanya dagingnya, bagian tinta pun dimanfaatkan untuk memberikan warna hitam pada pasta, risotto, dan bahkan beberapa restoran menggunakannya untuk mewarnai roti pizza.
Rajungan
Hewan laut berkulit keras atau krustasea ini menjadi salah satu bahan makanan favorit di restoran-restoran seafood. Rajungan masih satu keluarga dengan kepiting. Perbedaannya, habitat rajungan berada di laut sedangkan kepiting di air tawar seperti rawa.
Bentuk kaki rajungan pipih dan lebih panjang dibandingkan kepiting. Rajungan sering disebut juga blue manna crab karena warna kulitnya yang biru. Hewan laut ini umumnya ditemukan saat pasang surut di wilayah Samudera Hindia, Samudera Pasifik, Timur Tengah sampai pantai Laut Mediterania.
Ikan Buntal
Ikan ini lazim dikonsumsi di Jepang, dikenal dengan nama fugu. Rupanya mengonsumsi ikan ini berisiko meninggal dunia karena mengandung racun tetrodotoxin. Hampir seluruh tubuh ikan ini beracun dan umumnya disajikan menjadi sashimi. Tidak sembarang orang boleh mengolah dan menyajikan ikan buntal.
Fugu hiki adalah pisau khusus untuk memotong ikan buntal. Sejak 1985 pemerintah Jepang mewajibkan memiliki sertifikat bagi juru masak yang mengolah ikan buntal dan hanya 35% pelamar yang lulus. Walaupun berisiko dikonsumsi, harga hidangan ikan buntal ternyata mahal, harga seporsinya mencapai 5 ribu yen atau sekitar 500 ribu rupiah.
Salmon
Siklus hidup ikan ini cukup unik, salmon bertelur dan menetas di perairan air tawar yang deras, bermigrasi ke lautan, lalu kembali ke air tawar untuk bereproduksi. Ikan ini hidup di wilayah Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Jenis ikan ini di antaranya atlantic salmon, masu salmon, chum salmon, dan chinook salmon atau sering disebut king salmon dengan berat lebih dari 14 kg per ekor. Salmon sering diolah menjadi sashimi dan steak.
Ikan dengan kandungan tinggi omega 3 ini juga dapat diawetkan menjadi smoked salmon dan banyak diproduksi di Norwegia, Skotlandia, Irlandia dan sekitar pantai timur Kanada.
Tuna
Salah satu jenis ikan yang paling banyak dikonsumsi manusia. Bullet tuna adalah jenis tuna paling kecil yang berukuran panjang maksimal 50 cm, sedangkan atlantic bluefin tuna adalah jenis tuna paling besar dan panjang tubuh dapat mencapai 4,6 meter serta dipercaya dapat hidup lebih dari 50 tahun. Umumnya daging tuna berwarna merah dan masyarakat Jepang sering mengolahnya menjadi sushi dan sashimi.
Lobster
Lobster hidup di karang-karang laut khususnya di perairan yang dingin. Tubuh lobster berwarna biru tua hingga kehitaman. Lobster asal Amerika dan Kanada cenderung lebih besar dari Eropa. Seafood yang satu ini termasuk bahan makanan yang cukup mahal dan biasanya disajikan di restoran-restoran kelas atas. Untuk hasil masakan yang optimal sebaiknya menggunakan lobster hidup. Cara terbaik mengolah lobster yakni membekukannya selama 1 jam hingga pingsan lalu direbus.
Teripang (sea cucumber)
Teripang adalah salah satu hewan laut yang tidak memiliki tulang belakang. Hewan lunak ini hidup tersebar di lautan, mulai dari zona pasang surut hingga laut dalam, khususnya di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Bentuk hewan yang menyerupai timun ini biasanya sering diolah dalam masakan cina. Hanya bagian kulit teripang yang dikonsumsi, sedangkan isi perut disisihkan. Teripang banyak dijual dalam bentuk segar maupun kering.
foodservicetoday
Senin, 07 Juli 2014
Ini dia Mentega Cair Pertama di Asia Tenggara
Umumnya terdapat dua jenis lemak padat yang digunakan dalam masakan maupun kue, yakni margarin dan mentega (butter). Margarin berbahan dasar lemak nabati dan umumnya berasal dari minyak kelapa sawit, sedangkan mentega dibuat dari lemak susu.
Kedua bahan makanan ini memiliki kelebihannya masing-masing pada masakan dan kue. Namun dari segi cita rasa, mentega memiliki rasa yang lebih lezat dan aroma yang kuat ketimbang margarin. Tak heran jika mentega sering digunakan dalam usaha bakery dan restoran.
Perkembangan industri makanan saat ini mampu memproduksi mentega dalam bentuk cair. Mungkin mentega cair (liquid butter) masih terdengar asing, namun produk inovasi ini dapat memberikan kemudahan penggunaannya.
Di Eropa maupun negara maju lainnya telah memproduksi mentega cair, dan Indonesia pun telah mengikutinya. Di dalam negeri, produk inovasi ini dibuat oleh PT Kreasi Edhoval Nutrindo (KEN). Perusahaan manufaktur bahan baku makanan untuk usaha bakery maupun minuman ini mengeluarkan Gallfiro sebagai merek mentega cair miliknya. “Produk ini kami klaim pertama di Asia Tenggara selama pengamatan kami di wilayah tersebut,” ujar Nusa Putra, Managing Director PT KEN.
Sekedar informasi, PT KEN merupakan perusahaan lokal yang berdiri sejak 2009 dan memproduksi beragam bahan baku makanan untuk kebutuhan usaha bakery, meliputi cake emulsifier, softness bread improver, baking powder double acting, food whitening, filling powder, milky booster, baking chocolate, hingga mayonnaise.
Perusahaan ini memiliki dua pabrik di Tangerang, yakni di Cikupa dan Kamal. Hingga saat ini PT KEN memiliki 10 merek produk dan empat di antaranya merupakan merek utama yakni Bendictone, Nulatte, Eggies dan tentu saja Gallfiro.
Gallfiro merupakan mentega olahan berbentuk cair yang dibuat dari beberapa bahan, meliputi lemak susu, lemak nabati, ekstrak mentega, enzim dan lainnya. “Sekitar 25% bahan baku yang digunakan lokal, khusus enzim memang kami impor,” jelasnya. Meski demikian, Nusa meyakinkan produknya aman dikonsumsi karena telah mengantongi sertifikat halal MUI dan BPOM RI.
Kegunaan mentega cair ini sama seperti mentega padat. “Ini bukan pengganti mentega tapi memang mentega. Bukan pula pewangi, flavor, esens, tetapi memang mentega semi sintetis dalam bentuk cair,” ungkapnya. Produk ini berwarna kuning seperti minyak goreng, hanya saja lebih kental.
Mentega cair memudahkan proses membuat adonan cake karena tidak perlu mencairkannya. Di samping itu, akan lebih hemat karena mentega cair langsung digunakan di dalam adonan tanpa tertinggal melekat pada panci saat melelehkan mentega padat. Standar penggunaannya sekitar 2-5% dari total tepung dalam resep.
Menurutnya lagi, Gallfiro dapat digunakan untuk makanan apapun yang dipanggang (baking) bahkan sebagai bahan tambahan pembuatan permen lunak (soft candy). Hanya saja belum dapat diaplikasikan untuk proses pelipatan adonan pastry tetapi masih dapat digunakan pada adonan dasarnya.
Produk ini diperkenalkan sejak pameran Interfood 2013 lalu di Jakarta. Proses formulasi Gallfiro ini hingga siap diproduksi massal membutuhkan waktu 8 bulan. “Kami menggunakan teknologi dan tenaga ahli dari Eropa. Kami berani klaim Gallfiro tidak ada yang bisa meniru seutuhnya setidaknya hingga 5 tahun ke depan. Kemungkinan mereka bisa buat produk yang sama tetapi karakternya tidak akan dapat,” beber Nusa.
Karakter sekaligus keunggulan Gallfiro adalah mampu memberikan kelembutan pada cake dan mengurangi aroma tepung. “Menggunakan Gallfiro pada pembuatan bolu akan menghasilkan tekstur lebih lembut setelah 3 hari padahal bolu yang biasa akan mengering,” tambahnya.
Semakin tinggi Anhydrous Milk Fat (AMF) atau konsentrat lemak susu, maka mentega semakin beraroma. Namun karena AMF berasal dari bahan alami sehingga tidak kuat saat terkena panas. “Produk kami bukan AMF tetapi ekstrak dan termasuk mentega semi sintetis sehingga akan tahan pada proses pembakaran,” jelasnya lagi.
Gallfiro dijual dalam kemasan berukuran 1 kg, 5 kg dan 25 kg. Produk ini terdiri dari 3 jenis yakni Gallfiro Silver, Gallfiro Gold, dan Gallfiro Platinum. “Perbedaan jenis produk tersebut memengaruhi efek yang didapat, misalkan aroma, tekstur dan tentu harga,” ujar Nusa. Mentega cair ini cukup disimpan dalam ruang teduh pada temperatur 25-280C. Pada suhu dingin pun produk ini tidak membeku kecuali disimpan pada suhu di bawah 00C.
Melihat peluang pasar mentega cair yang besar di Asia Tenggara, PT KEN tak ragu untuk mendistribusikan ke Manila, Bangkok dan Vietnam. Rencananya PT KEN juga ikut serta di ajang Food Hotel Asia 2014 di Singapura.
Inovasi mentega cair terus dilakukan PT KEN. “Kalau kami sudah mengembangkan produknya untuk hotel, varian mentega cair akan bertambah seperti untuk barbeque, kari dan lainnya,” tutupnya.
foodservicetoday
Kedua bahan makanan ini memiliki kelebihannya masing-masing pada masakan dan kue. Namun dari segi cita rasa, mentega memiliki rasa yang lebih lezat dan aroma yang kuat ketimbang margarin. Tak heran jika mentega sering digunakan dalam usaha bakery dan restoran.
Perkembangan industri makanan saat ini mampu memproduksi mentega dalam bentuk cair. Mungkin mentega cair (liquid butter) masih terdengar asing, namun produk inovasi ini dapat memberikan kemudahan penggunaannya.
Di Eropa maupun negara maju lainnya telah memproduksi mentega cair, dan Indonesia pun telah mengikutinya. Di dalam negeri, produk inovasi ini dibuat oleh PT Kreasi Edhoval Nutrindo (KEN). Perusahaan manufaktur bahan baku makanan untuk usaha bakery maupun minuman ini mengeluarkan Gallfiro sebagai merek mentega cair miliknya. “Produk ini kami klaim pertama di Asia Tenggara selama pengamatan kami di wilayah tersebut,” ujar Nusa Putra, Managing Director PT KEN.
Sekedar informasi, PT KEN merupakan perusahaan lokal yang berdiri sejak 2009 dan memproduksi beragam bahan baku makanan untuk kebutuhan usaha bakery, meliputi cake emulsifier, softness bread improver, baking powder double acting, food whitening, filling powder, milky booster, baking chocolate, hingga mayonnaise.
Perusahaan ini memiliki dua pabrik di Tangerang, yakni di Cikupa dan Kamal. Hingga saat ini PT KEN memiliki 10 merek produk dan empat di antaranya merupakan merek utama yakni Bendictone, Nulatte, Eggies dan tentu saja Gallfiro.
Gallfiro merupakan mentega olahan berbentuk cair yang dibuat dari beberapa bahan, meliputi lemak susu, lemak nabati, ekstrak mentega, enzim dan lainnya. “Sekitar 25% bahan baku yang digunakan lokal, khusus enzim memang kami impor,” jelasnya. Meski demikian, Nusa meyakinkan produknya aman dikonsumsi karena telah mengantongi sertifikat halal MUI dan BPOM RI.
Kegunaan mentega cair ini sama seperti mentega padat. “Ini bukan pengganti mentega tapi memang mentega. Bukan pula pewangi, flavor, esens, tetapi memang mentega semi sintetis dalam bentuk cair,” ungkapnya. Produk ini berwarna kuning seperti minyak goreng, hanya saja lebih kental.
Mentega cair memudahkan proses membuat adonan cake karena tidak perlu mencairkannya. Di samping itu, akan lebih hemat karena mentega cair langsung digunakan di dalam adonan tanpa tertinggal melekat pada panci saat melelehkan mentega padat. Standar penggunaannya sekitar 2-5% dari total tepung dalam resep.
Menurutnya lagi, Gallfiro dapat digunakan untuk makanan apapun yang dipanggang (baking) bahkan sebagai bahan tambahan pembuatan permen lunak (soft candy). Hanya saja belum dapat diaplikasikan untuk proses pelipatan adonan pastry tetapi masih dapat digunakan pada adonan dasarnya.
Produk ini diperkenalkan sejak pameran Interfood 2013 lalu di Jakarta. Proses formulasi Gallfiro ini hingga siap diproduksi massal membutuhkan waktu 8 bulan. “Kami menggunakan teknologi dan tenaga ahli dari Eropa. Kami berani klaim Gallfiro tidak ada yang bisa meniru seutuhnya setidaknya hingga 5 tahun ke depan. Kemungkinan mereka bisa buat produk yang sama tetapi karakternya tidak akan dapat,” beber Nusa.
Karakter sekaligus keunggulan Gallfiro adalah mampu memberikan kelembutan pada cake dan mengurangi aroma tepung. “Menggunakan Gallfiro pada pembuatan bolu akan menghasilkan tekstur lebih lembut setelah 3 hari padahal bolu yang biasa akan mengering,” tambahnya.
Semakin tinggi Anhydrous Milk Fat (AMF) atau konsentrat lemak susu, maka mentega semakin beraroma. Namun karena AMF berasal dari bahan alami sehingga tidak kuat saat terkena panas. “Produk kami bukan AMF tetapi ekstrak dan termasuk mentega semi sintetis sehingga akan tahan pada proses pembakaran,” jelasnya lagi.
Gallfiro dijual dalam kemasan berukuran 1 kg, 5 kg dan 25 kg. Produk ini terdiri dari 3 jenis yakni Gallfiro Silver, Gallfiro Gold, dan Gallfiro Platinum. “Perbedaan jenis produk tersebut memengaruhi efek yang didapat, misalkan aroma, tekstur dan tentu harga,” ujar Nusa. Mentega cair ini cukup disimpan dalam ruang teduh pada temperatur 25-280C. Pada suhu dingin pun produk ini tidak membeku kecuali disimpan pada suhu di bawah 00C.
Melihat peluang pasar mentega cair yang besar di Asia Tenggara, PT KEN tak ragu untuk mendistribusikan ke Manila, Bangkok dan Vietnam. Rencananya PT KEN juga ikut serta di ajang Food Hotel Asia 2014 di Singapura.
Inovasi mentega cair terus dilakukan PT KEN. “Kalau kami sudah mengembangkan produknya untuk hotel, varian mentega cair akan bertambah seperti untuk barbeque, kari dan lainnya,” tutupnya.
foodservicetoday
Senin, 28 April 2014
Kecap Bango, Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara
Pada tanggal 26 Maret 2014, Kecap Bango produksi PT Unilever Indonesia mengumumkan perjalanan menelusuri kekayaan warisan kuliner Nusantara bertajuk “Bango Ekpedisi Warisan Kuliner Nusantara”. Ekspedisi ini akan menelusuri kekayaan kuliner di lebih dari 100 kota mulai dari Indonesia Barat, Tengah, Hingga Timur.
Arie Parikesit, pakar kuliner Nusantara, selaku koordinator ekspedisi mengatakan bahwa acara akan berlangsung serentak dari bulan April hingga Juli 2014. Ia menambahkan bahwa ekspedisi ini akan dipimpin oleh Odillia Winneke untuk Indonesia wilayah Barat, Aldio Merancia untuk Indonesia wilayah Tengah, dan Dina ‘Dua Ransel” untuk Indonesia Wilayah Timur.
Nuning Wahyuningsih selaku Senior Brand Manager Bango PT Unilever Indonesia Tbk berujar bahwa hasil Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara ini akan diabadikan menjadi sebuah dokumentasi lengkap dalam buku “Bango Jelajah Warisan Kuliner dari Barat ke Timur Nusantara”.
Akhyaruddin SE, M.Sc selaku Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konvensi Insentif dan Even, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menambahkan bahwa pihak pemerintah menyambut baik dan memberikan apresiasi terhadap acara ini sebagai upaya pelestarian warisan kuliner Nusantara.
foodservicetoday
Arie Parikesit, pakar kuliner Nusantara, selaku koordinator ekspedisi mengatakan bahwa acara akan berlangsung serentak dari bulan April hingga Juli 2014. Ia menambahkan bahwa ekspedisi ini akan dipimpin oleh Odillia Winneke untuk Indonesia wilayah Barat, Aldio Merancia untuk Indonesia wilayah Tengah, dan Dina ‘Dua Ransel” untuk Indonesia Wilayah Timur.
Nuning Wahyuningsih selaku Senior Brand Manager Bango PT Unilever Indonesia Tbk berujar bahwa hasil Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara ini akan diabadikan menjadi sebuah dokumentasi lengkap dalam buku “Bango Jelajah Warisan Kuliner dari Barat ke Timur Nusantara”.
Akhyaruddin SE, M.Sc selaku Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konvensi Insentif dan Even, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menambahkan bahwa pihak pemerintah menyambut baik dan memberikan apresiasi terhadap acara ini sebagai upaya pelestarian warisan kuliner Nusantara.
foodservicetoday
Senin, 03 Februari 2014
Banjir dan Depresiasi Rupiah Dorong Inflasi Januari
Laju inflasi Januari 2014 diperkirakan lebih tinggi dari Desember 2013, karena terganggunya distribusi barang akibat banjir, dan masih ada dampak kenaikan harga barang karena melemahnya nilai tukar rupiah.
Hasil polling IFT terhadap delapan ekonom dan analis dari lembaga kajian, perbankan, dan sekuritas didapat median inflasi Januari 2014 sebesar 1,04% (month on month), lebih tinggi dibanding Januari 2013 sebesar 0,55%. Sementara untuk year on year Januari 2014 sebesar 8,35%, sedikit lebih rendah dibanding Januari 2013 sebesar 8,38%.
Gundy Cahyadi, Ekonom DBS Group Research Singapura, mengatakan beberapa tekanan inflasi masih terjadi pada Januari karena dampak yang belum hilang dari melemahnya nilai tukar rupiah, karena retailer tengah menyesuaikan harga mereka.
“ Kami melihat meningkatnya risiko berasal dari gangguan disebabkan bajir di wilayah Jakarta dan beberapa kota di Indonesia,” katanya.
Inflasi inti diperkirakan akan mencapai 5,1%, karena diprediksi masih ada tekanan inflasi. Inflasi akan mulai mereda mulai Februari atau Maret.
Ryan Kiryanto, Kepala Ekonom PT Bank BNI Tbk (BBNI), mengatakan inflasi Januari diperkirakan di kisaran 0,9%-1,2% karena dampak banjir yang ekskalatif sehingga mengganggu distribusi barang, terutama kelompok bahan pangan. Selain itu juga ada gangguan pasokan, karena gagal panen. Banjir yang mengganggu distribusi juga menyebabkan naiknya biaya distribusi.
Anton Hendranata, Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), mengatakan inflasi Januari diperkirakan akan naik menjadi 0,92% (month on month) dibanding 0,55% pada Desember 2013.
Meski inflasi Januari 2014 naik, tetapi masih lebih rendah daripada inflasi Januari 2013 sebesar 1,03%. Penurunan ini karena inflasi year on year Januari 2014 sedikit menurun menjadi 8,28%, dari 8,38% pada Desember 2013.
Menurut Anton, inflasi lebih bersifat musiman, karena musim hujan lebat pada Januari yang menyebabkan banjir dan kemacetan lalu lintas di beberapa wilayah, sehingga mengganggu distribusi makanan.
“ Kami perkirakan harga bahan makanan seperti ikan, beras, telur, cabai, dan lainnya akan memberikan kontribusi yang lebih tinggi pada inflasi Januari 2014, meski sedikit lebih rendah dibanding Januari 2013,” katanya.
Sebaliknya inflasi inti (month on month) sedikit menurun, sehingga inflasi Januari 2014 (year on year) menjadi 4,94%, dibandingkan dengan 4,98% pada Desember 2013. Hal ini disebabkan dasar inflasi Januari 2013 yang lebih tinggi (0,32% month on month pada Januari 2014 dibandingkan dengan 0,36% pada Januari 2013), karena permintaan sedikit menurun.
Harga emas perhiasan telah memberikan kontribusi yang lebih signifikan pada inflasi inti.
Juniman, Ekonom PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII), mengatakan inflasi Januari 2014 diperkirakan 1,04% (month on moth) dan 8,84% (year on year).
Menurut Juniman, ada tiga faktor yang mendorong naiknya inflasi Januari. Pertama, banjir dan longsor yang mengganggu distribusi barang dan jasa. Di sisi lain gagal panen di sejumlah daerah, sehingga harga pangan naik. Banjir dan longsor ini hampir merata di seluruh Indonesia, sehingga harga bahan makanan naik. “ Harga mi goreng, daging sapi, daging ayam, telur, beras terigu, mie instan, susu, cabai, sayur mayur, dan ikan mengalami kenaikan,” katanya.
Kedua, kenaikan harga LPG 12 kilogram (kg) sebesar 17% atau Rp 10 ribu per kg. Di sisi lain, harga BBM non subsidi naik signifikan akibat depresiasi rupiah .
Ketiga, produsen menyesuaikan harga terkait dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Sementara pada tahun lalu, inflasi Januari mencapai 1,03% karena miss management impor bahan makanan, dengan menerapkan kuota impor.
Hasil polling IFT terhadap delapan ekonom dan analis dari lembaga kajian, perbankan, dan sekuritas didapat median inflasi Januari 2014 sebesar 1,04% (month on month), lebih tinggi dibanding Januari 2013 sebesar 0,55%. Sementara untuk year on year Januari 2014 sebesar 8,35%, sedikit lebih rendah dibanding Januari 2013 sebesar 8,38%.
Gundy Cahyadi, Ekonom DBS Group Research Singapura, mengatakan beberapa tekanan inflasi masih terjadi pada Januari karena dampak yang belum hilang dari melemahnya nilai tukar rupiah, karena retailer tengah menyesuaikan harga mereka.
“ Kami melihat meningkatnya risiko berasal dari gangguan disebabkan bajir di wilayah Jakarta dan beberapa kota di Indonesia,” katanya.
Inflasi inti diperkirakan akan mencapai 5,1%, karena diprediksi masih ada tekanan inflasi. Inflasi akan mulai mereda mulai Februari atau Maret.
Ryan Kiryanto, Kepala Ekonom PT Bank BNI Tbk (BBNI), mengatakan inflasi Januari diperkirakan di kisaran 0,9%-1,2% karena dampak banjir yang ekskalatif sehingga mengganggu distribusi barang, terutama kelompok bahan pangan. Selain itu juga ada gangguan pasokan, karena gagal panen. Banjir yang mengganggu distribusi juga menyebabkan naiknya biaya distribusi.
Anton Hendranata, Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), mengatakan inflasi Januari diperkirakan akan naik menjadi 0,92% (month on month) dibanding 0,55% pada Desember 2013.
Meski inflasi Januari 2014 naik, tetapi masih lebih rendah daripada inflasi Januari 2013 sebesar 1,03%. Penurunan ini karena inflasi year on year Januari 2014 sedikit menurun menjadi 8,28%, dari 8,38% pada Desember 2013.
Menurut Anton, inflasi lebih bersifat musiman, karena musim hujan lebat pada Januari yang menyebabkan banjir dan kemacetan lalu lintas di beberapa wilayah, sehingga mengganggu distribusi makanan.
“ Kami perkirakan harga bahan makanan seperti ikan, beras, telur, cabai, dan lainnya akan memberikan kontribusi yang lebih tinggi pada inflasi Januari 2014, meski sedikit lebih rendah dibanding Januari 2013,” katanya.
Sebaliknya inflasi inti (month on month) sedikit menurun, sehingga inflasi Januari 2014 (year on year) menjadi 4,94%, dibandingkan dengan 4,98% pada Desember 2013. Hal ini disebabkan dasar inflasi Januari 2013 yang lebih tinggi (0,32% month on month pada Januari 2014 dibandingkan dengan 0,36% pada Januari 2013), karena permintaan sedikit menurun.
Harga emas perhiasan telah memberikan kontribusi yang lebih signifikan pada inflasi inti.
Juniman, Ekonom PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII), mengatakan inflasi Januari 2014 diperkirakan 1,04% (month on moth) dan 8,84% (year on year).
Menurut Juniman, ada tiga faktor yang mendorong naiknya inflasi Januari. Pertama, banjir dan longsor yang mengganggu distribusi barang dan jasa. Di sisi lain gagal panen di sejumlah daerah, sehingga harga pangan naik. Banjir dan longsor ini hampir merata di seluruh Indonesia, sehingga harga bahan makanan naik. “ Harga mi goreng, daging sapi, daging ayam, telur, beras terigu, mie instan, susu, cabai, sayur mayur, dan ikan mengalami kenaikan,” katanya.
Kedua, kenaikan harga LPG 12 kilogram (kg) sebesar 17% atau Rp 10 ribu per kg. Di sisi lain, harga BBM non subsidi naik signifikan akibat depresiasi rupiah .
Ketiga, produsen menyesuaikan harga terkait dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Sementara pada tahun lalu, inflasi Januari mencapai 1,03% karena miss management impor bahan makanan, dengan menerapkan kuota impor.
Indonesia Economy: Slower Growth In Q3, For 5th Consecutive Quarter
Indonesia reported the fifth consecutive quarter of slower growth and the weakest reading in 15 quarters in the third quarter, raising fears that the once stellar-performing Southeast Asian economy could be hitting a wall.
Year-on-year GDP growth in the third quarter slowed to 5.6 percent, down slightly from 5.8 percent in the second quarter. Household and government expenditure growth both accelerated while investment and net exports slowed. The numbers are disappointing, but are in line with expectations.
“For an economy that only a year or so ago some were predicting could be on the verge of sustained growth of 7 percent or higher, growth of under 6 percent is quite a disappointment,” a note from Capital Economics said, while conceding that concerns over the gradual slowdown in Indonesia should not be overdone.
The outlook for Indonesia is also not optimistic. Household spending will likely be checked by higher interest rates, which the central bank has been hiking since summer, and fuel price hikes following a cut in subsidy. Government spending will likely slow as well with the conservative 2014 budget that was recently unveiled.
Investment growth, which has slowed for five consecutive quarters, is expected to continue to slow on higher interest rates, lower commodity prices, uncertainty ahead of the general elections due in 2014, and a general deterioration in the policymaking environment, the Capital Economics note said.
Exports won’t offer any hope despite a recovery in global demand that should provide support for the manufacturing exports sector. Outlook for commodity exporters, the majority of Indonesia’s exports, remains less than rosy as China readjusts its economy away from investment.
With the release of the latest data, experts believe Indonesia’s expansion will stagnate at below 6 percent for both this year and the next, as high inflation and higher interest rates continue to weigh on the rate of expansion.
ibtimes.com
Year-on-year GDP growth in the third quarter slowed to 5.6 percent, down slightly from 5.8 percent in the second quarter. Household and government expenditure growth both accelerated while investment and net exports slowed. The numbers are disappointing, but are in line with expectations.
“For an economy that only a year or so ago some were predicting could be on the verge of sustained growth of 7 percent or higher, growth of under 6 percent is quite a disappointment,” a note from Capital Economics said, while conceding that concerns over the gradual slowdown in Indonesia should not be overdone.
The outlook for Indonesia is also not optimistic. Household spending will likely be checked by higher interest rates, which the central bank has been hiking since summer, and fuel price hikes following a cut in subsidy. Government spending will likely slow as well with the conservative 2014 budget that was recently unveiled.
Investment growth, which has slowed for five consecutive quarters, is expected to continue to slow on higher interest rates, lower commodity prices, uncertainty ahead of the general elections due in 2014, and a general deterioration in the policymaking environment, the Capital Economics note said.
Exports won’t offer any hope despite a recovery in global demand that should provide support for the manufacturing exports sector. Outlook for commodity exporters, the majority of Indonesia’s exports, remains less than rosy as China readjusts its economy away from investment.
With the release of the latest data, experts believe Indonesia’s expansion will stagnate at below 6 percent for both this year and the next, as high inflation and higher interest rates continue to weigh on the rate of expansion.
ibtimes.com
Indonesia Economic Outlook 2014: Stronger GDP Growth On Trade Balance Recovery And Lower Inflation
Indonesia can expect an easier 2014, as the Southeast Asian nation’s economic fundamentals improve across the board. In particular, GDP is expected to grow 5.8 percent, the current account deficit should narrow as the trade balance recovers and inflation should drop to safer levels with no further fuel-price hikes for the year.
The year just ended was rough for Indonesia. After fuel-price hikes, resulting from reductions in the government fuel subsidy, inflation climbed to 8.4 percent at the end of year, nearly double of the 4.3 percent at the end of 2012, and real GDP growth was estimated to have fallen from 6.2 percent to 5.6 percent, according to a Standard Chartered research note.
While most 2013 statistics have not yet been released, the current account deficit is expected to have widened, from $24.4 billion to $32.3 billion. The Indonesian rupiah, as a result of worsening fundamentals and concerns over the risk of capital outflows triggered by the U.S. Fed tapering, weakened to 12,171 rupiahs per dollar at the end of 2013, compared to 9,793 rupiahs at the end of 2012.
But those fundamentals should look up in the coming year. The trade balance, which contributed a great deal to the nation’s current account deficit, will improve as imports slow. The fourth quarter of 2013 was already showing signs of a recovery – the trade surplus rose to $777 million in November from just $24 million in October, according to data from the National Statistics Agency.
In 2012, Indonesia’s trade deficit was just $1.7 billion, while the figure for the first 11 months of 2013 amounted to $5.6 billion.
January 2014 saw the implementation of a law banning mineral exports, which may cause the potential loss of revenue of $5 billion, but since the law excludes coal, which contributes around 13 percent of Indonesia’s total exports, the impact of the ban on the nation’s overall exports should be limited.
As the trade balance gets under control, the overall current account deficit is expected to fall back to $26.9 billion (3.1 percent of nominal GDP) in 2014 from the 3.7 percent in 2013. Before 2011, the nation was still consistently running a current account surplus.
The legal limit of budget deficits in Indonesia is 3 percent, and overshooting the limit in June 2013 prompted the government to cut back fuel subsidies that economists have warned for years to be detrimental to the economy. The resulting hike in fuel prices – 44 percent at one point – caused inflation to almost double from 2012.
But this year, as elections loom, no further fuel-price hikes are expected, and inflation should slow to 5 percent year-on-year by the end of 2014, the Standard Chartered note said, within the central bank’s target range of 3.5 to 5.5 percent for the year.
Recovering fundamentals will have benefits for the rupiah as well, with a stronger second half.
“The Indonesian rupiah (IDR) is likely to remain under pressure in early 2014 amid uncertainty over the election results and U.S. Fed tapering,” according to Standard Chartered. “However, we expect the IDR to strengthen in H2, reaching 11,400 by end-2014, once the election results are known and U.S. Fed tapering is in place.”
ibtimes.com
The year just ended was rough for Indonesia. After fuel-price hikes, resulting from reductions in the government fuel subsidy, inflation climbed to 8.4 percent at the end of year, nearly double of the 4.3 percent at the end of 2012, and real GDP growth was estimated to have fallen from 6.2 percent to 5.6 percent, according to a Standard Chartered research note.
While most 2013 statistics have not yet been released, the current account deficit is expected to have widened, from $24.4 billion to $32.3 billion. The Indonesian rupiah, as a result of worsening fundamentals and concerns over the risk of capital outflows triggered by the U.S. Fed tapering, weakened to 12,171 rupiahs per dollar at the end of 2013, compared to 9,793 rupiahs at the end of 2012.
But those fundamentals should look up in the coming year. The trade balance, which contributed a great deal to the nation’s current account deficit, will improve as imports slow. The fourth quarter of 2013 was already showing signs of a recovery – the trade surplus rose to $777 million in November from just $24 million in October, according to data from the National Statistics Agency.
In 2012, Indonesia’s trade deficit was just $1.7 billion, while the figure for the first 11 months of 2013 amounted to $5.6 billion.
January 2014 saw the implementation of a law banning mineral exports, which may cause the potential loss of revenue of $5 billion, but since the law excludes coal, which contributes around 13 percent of Indonesia’s total exports, the impact of the ban on the nation’s overall exports should be limited.
As the trade balance gets under control, the overall current account deficit is expected to fall back to $26.9 billion (3.1 percent of nominal GDP) in 2014 from the 3.7 percent in 2013. Before 2011, the nation was still consistently running a current account surplus.
The legal limit of budget deficits in Indonesia is 3 percent, and overshooting the limit in June 2013 prompted the government to cut back fuel subsidies that economists have warned for years to be detrimental to the economy. The resulting hike in fuel prices – 44 percent at one point – caused inflation to almost double from 2012.
But this year, as elections loom, no further fuel-price hikes are expected, and inflation should slow to 5 percent year-on-year by the end of 2014, the Standard Chartered note said, within the central bank’s target range of 3.5 to 5.5 percent for the year.
Recovering fundamentals will have benefits for the rupiah as well, with a stronger second half.
“The Indonesian rupiah (IDR) is likely to remain under pressure in early 2014 amid uncertainty over the election results and U.S. Fed tapering,” according to Standard Chartered. “However, we expect the IDR to strengthen in H2, reaching 11,400 by end-2014, once the election results are known and U.S. Fed tapering is in place.”
ibtimes.com
Unilever Siapkan Belanja Modal Rp 1,1 Triliun
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), emiten produsen barang konsumsi harian, menyiapkan belanja modal tahun ini sebesar Rp 900 miliar - Rp 1,1 triliun untuk peningkatan kapasitas produksi. Menurut direksi perseroan, anggaran belanja modal di 2014 akan didanai kas internal, pinjaman bank asing, serta pinjaman induk usaha.
"Dana belanja modal kami selalu improve. Tahun lalu Rp 1 triliun. Tahun ini belanja modal sedang kami finalisasi, kisarannya Rp 900 miliar - Rp 1,1 triliun," ujar Sancoyo Antarikso, Direktur Unilever.
Menurut dia, belanja modal tahun ini akan didanai kas internal, pinjaman bank swasta asing, serta pinjaman induk usaha. "Tapi, pendanaan pinjaman bank hanya minoritas," katanya tanpa memerinci lebih lanjut.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, hingga kuartal III 2013 kas Unilever mencapai Rp 520 miliar, naik signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 229 miliar. Pada periode tersebut, Unilever memperoleh pinjaman dari PT Bank Mizuho Indonesia sebesar Rp 250 miliar, JP Morgan Chase Jakarta Rp 150 miliar, dan Standard Chartered Bank Jakarta Rp 100 miliar. "Suku bunga atas pinjaman tersebut single digit," ucapnya.
Sancoyo menambahkan rata-rata nilai belanja modal perseroan dalam lima tahun terakhir cukup besar. Belanja modal Unilever sepanjang 2010-2012 mencapai Rp 4,2 triliun. Alokasi belanja modal ditujukan guna mendukung pertumbuhan kinerja keuangan perseroan.
Meski demikian, dia mengakui, sejak kuartal III 2013 permintaan barang konsumsi harian cukup tertekan oleh sejumlah faktor antara lain kenaikan tarif dasar listrik, pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM), pelemahan rupiah, serta kenaikan suku bunga kredit. Pertumbuhan penjualan Unilever hingga kuartal III 2013 cenderung melambat menjadi 13% dibanding sebelumnya 16%. "Pertumbuhan penjualan melambat, tapi masih oke," paparnya.
Penambahan kapasitas yang dilakukan sejak tahun lalu juga mendorong Unilever mencatat pendapatan sebesar Rp 23 triliun per kuartal III 2013, tumbuh 13,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 20,3 triliun. Peningkatan pendapatan ditopang oleh penjualan di pasar dalam negeri dan ekspor yang masing-masing tumbuh sebesar 10% dan 20%.
Pertumbuhan penjualan ikut menyebabkan beban pokok penjualan perseroan meningkat 13,1% menjadi Rp 11,2 triliun secara tahunan. Laba kotor perseroan tumbuh 14,5% menjadi Rp 11,8 triliun.
Meski demikian, persentase pertumbuhan beban usaha sebesar 17,2% tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan persentase pertumbuhan pendapatan 13,3%, sehingga margin usaha perseroan tertekan hingga kuartal III 2013. Margin usaha Unilever turun 23 basis poin menjadi 23,86% per kuartal III tahun lalu.
Sementara itu, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID), emiten pesaing Unilever di segmen perawatan tubuh, mencatat peningkatan margin usaha sebesar 140 basis poin menjadi 13,8% hingga kuartal III 2013. Peningkatan margin usaha tersebut antara lain terjadi seiring dengan peningkatan beban yang lebih kecil dibanding pertumbuhan pendapatan.
"Meningkatnya beban pokok penjualan sebesar 8,8% menjadi Rp 979,8 miliar yang ditopang oleh kenaikan beban tenaga kerja tidak berdampak pada pertumbuhan laba kotor perseroan sebesar 14,9% menjadi Rp 580,3 miliar. Hal itu pada akhirnya juga menyebabkan kinerja laba usaha, laba bersih, beserta margin perseroan terus tumbuh," kata Takeshi Hibi, Direktur Utama Mandom Indonesia dalam keterangan tertulis.
Hingga September 2013, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 1,56 triliun atau tumbuh 11,4% dibanding periode yang sama tahun 2012. “Peningkatan penjualan produk-produk perseroan baik di pasar domestik maupun ekspor mendorong kinerja pendapatan sepanjang periode tersebut," kata Hibi.
ift.com
"Dana belanja modal kami selalu improve. Tahun lalu Rp 1 triliun. Tahun ini belanja modal sedang kami finalisasi, kisarannya Rp 900 miliar - Rp 1,1 triliun," ujar Sancoyo Antarikso, Direktur Unilever.
Menurut dia, belanja modal tahun ini akan didanai kas internal, pinjaman bank swasta asing, serta pinjaman induk usaha. "Tapi, pendanaan pinjaman bank hanya minoritas," katanya tanpa memerinci lebih lanjut.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, hingga kuartal III 2013 kas Unilever mencapai Rp 520 miliar, naik signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 229 miliar. Pada periode tersebut, Unilever memperoleh pinjaman dari PT Bank Mizuho Indonesia sebesar Rp 250 miliar, JP Morgan Chase Jakarta Rp 150 miliar, dan Standard Chartered Bank Jakarta Rp 100 miliar. "Suku bunga atas pinjaman tersebut single digit," ucapnya.
Sancoyo menambahkan rata-rata nilai belanja modal perseroan dalam lima tahun terakhir cukup besar. Belanja modal Unilever sepanjang 2010-2012 mencapai Rp 4,2 triliun. Alokasi belanja modal ditujukan guna mendukung pertumbuhan kinerja keuangan perseroan.
Meski demikian, dia mengakui, sejak kuartal III 2013 permintaan barang konsumsi harian cukup tertekan oleh sejumlah faktor antara lain kenaikan tarif dasar listrik, pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM), pelemahan rupiah, serta kenaikan suku bunga kredit. Pertumbuhan penjualan Unilever hingga kuartal III 2013 cenderung melambat menjadi 13% dibanding sebelumnya 16%. "Pertumbuhan penjualan melambat, tapi masih oke," paparnya.
Penambahan kapasitas yang dilakukan sejak tahun lalu juga mendorong Unilever mencatat pendapatan sebesar Rp 23 triliun per kuartal III 2013, tumbuh 13,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 20,3 triliun. Peningkatan pendapatan ditopang oleh penjualan di pasar dalam negeri dan ekspor yang masing-masing tumbuh sebesar 10% dan 20%.
Pertumbuhan penjualan ikut menyebabkan beban pokok penjualan perseroan meningkat 13,1% menjadi Rp 11,2 triliun secara tahunan. Laba kotor perseroan tumbuh 14,5% menjadi Rp 11,8 triliun.
Meski demikian, persentase pertumbuhan beban usaha sebesar 17,2% tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan persentase pertumbuhan pendapatan 13,3%, sehingga margin usaha perseroan tertekan hingga kuartal III 2013. Margin usaha Unilever turun 23 basis poin menjadi 23,86% per kuartal III tahun lalu.
Sementara itu, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID), emiten pesaing Unilever di segmen perawatan tubuh, mencatat peningkatan margin usaha sebesar 140 basis poin menjadi 13,8% hingga kuartal III 2013. Peningkatan margin usaha tersebut antara lain terjadi seiring dengan peningkatan beban yang lebih kecil dibanding pertumbuhan pendapatan.
"Meningkatnya beban pokok penjualan sebesar 8,8% menjadi Rp 979,8 miliar yang ditopang oleh kenaikan beban tenaga kerja tidak berdampak pada pertumbuhan laba kotor perseroan sebesar 14,9% menjadi Rp 580,3 miliar. Hal itu pada akhirnya juga menyebabkan kinerja laba usaha, laba bersih, beserta margin perseroan terus tumbuh," kata Takeshi Hibi, Direktur Utama Mandom Indonesia dalam keterangan tertulis.
Hingga September 2013, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 1,56 triliun atau tumbuh 11,4% dibanding periode yang sama tahun 2012. “Peningkatan penjualan produk-produk perseroan baik di pasar domestik maupun ekspor mendorong kinerja pendapatan sepanjang periode tersebut," kata Hibi.
ift.com
Rabu, 15 Januari 2014
Minister: Economy to grow 5.8% to 6.1% in 2014
Finance Minister Chatib Basri says he remains optimistic that economic growth in 2014 will stand at 5.8 to 6.1 percent even though the World Bank (WB) has not revised its forecast for the country’s economic growth, which it set at 5.3 percent.
“What did the WB’s forecast look like last year? I think our forecast is much more accurate, that our economy will grow between 5.8 percent and 6.1 percent,” he said after speaking at the 2014 Indonesia Summit in Jakarta on Wednesday, as quoted by Antara news agency.
On Tuesday, the WB revised its growth forecast for the global economy for the first time in three years to 3.2 percent from 3 percent in 2014. It said such global growth might occur as the easing of austerity policies in advanced economies, such as Japan, the United States and European countries, supported their recovery from the global financial crisis.
Despite a revised growth forecast for the global economy, the WB did not revise its forecast for Indonesia.
The WB also projected that East Asia and the Pacific’s economy would grow by 7.2 percent in 2014, as in the previous year. It said East Asia and the Pacific’s economy was still affected by the global financial crisis so that this year, the region’s economy would grow at the same rate as in 2013.
Bank Indonesia (BI) projected that national economic growth in 2014 would be closer to the lower level of growth forecast of between 5.8 and 6.2 percent in line with the improved global economy.
However, BI Governor Agus Martowardojo has voiced optimism that 6 percent economic growth could still be achieved. “It’s still possible to reach the middle range of the target,” he said.
thejakartapost.com
“What did the WB’s forecast look like last year? I think our forecast is much more accurate, that our economy will grow between 5.8 percent and 6.1 percent,” he said after speaking at the 2014 Indonesia Summit in Jakarta on Wednesday, as quoted by Antara news agency.
On Tuesday, the WB revised its growth forecast for the global economy for the first time in three years to 3.2 percent from 3 percent in 2014. It said such global growth might occur as the easing of austerity policies in advanced economies, such as Japan, the United States and European countries, supported their recovery from the global financial crisis.
Despite a revised growth forecast for the global economy, the WB did not revise its forecast for Indonesia.
The WB also projected that East Asia and the Pacific’s economy would grow by 7.2 percent in 2014, as in the previous year. It said East Asia and the Pacific’s economy was still affected by the global financial crisis so that this year, the region’s economy would grow at the same rate as in 2013.
Bank Indonesia (BI) projected that national economic growth in 2014 would be closer to the lower level of growth forecast of between 5.8 and 6.2 percent in line with the improved global economy.
However, BI Governor Agus Martowardojo has voiced optimism that 6 percent economic growth could still be achieved. “It’s still possible to reach the middle range of the target,” he said.
thejakartapost.com
Jumat, 10 Januari 2014
Unilever Realisasikan Belanja Modal untuk Ekspansi Kapasitas
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), emiten produsen barang konsumsi harian, telah merealisasikan dana belanja modal sebesar Rp 800 miliar per kuartal III 2013, menurut direksi perseroan. Realisasi tersebut setara 80% dari anggaran belanja modal Unilever di tahun ini sebesar Rp 1 triliun.
"Dari budget belanja modal 2013 sebesar Rp 1 triliun, sampai September 2013 sudah terserap Rp 800 miliar digunakan untuk ekspansi kapasitas pabrik di daerah Cikarang dan Surabaya serta untuk membeli alat produksi ice cream," ujar Sancoyo Antarikso, Direktur Unilever (10/1/14).
Menurut dia, perseroan akan menggunakan dana belanja modal sebesar Rp 400 miliar di semester II 2013. Sancoyo menuturkan, dana belanja modal hingga akhir semester II masih difokuskan untuk peningkatan kapasitas.
“Kami telah menggunakan dana belanja modal hingga akhir semester I hingga Rp 600 miliar,” tutur Sancoyo. Dia optimistis anggaran dana belanja modal perseroan bisa terserap pada akhir 2013.
Unilever menganggarkan belanja modal sebesar Rp 1 triliun tahun ini, turun 16,6% dibanding anggaran tahun lalu Rp 1,2 triliun. Penurunan tersebut karena Unilever telah menganggarkan dana belanja modal yang relatif besar sepanjang 2010-2012 yang mencapai Rp 4,2 triliun.
Penambahan kapasitas produksi dilakukan seiring pertumbuhan permintaan produk perseroan tiap tahun, dan perkiraan kenaikan permintaan tahun ini. Unilever akan menambah lini produksi untuk produk-produk yang utilisasinya mencapai 80%. "Selain untuk peningkatan kapasitas, belanja modal tahun ini juga untuk revitalisasi sistem distribusi," jelas Sancoyo.
Penambahan kapasitas yang dilakukan sejak tahun lalu juga mendorong Unilever mencatat pendapatan sebesar Rp 23 triliun per kuartal III 2013, tumbuh 13,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 20,3 triliun. Peningkatan pendapatan ditopang oleh penjualan di pasar dalam negeri dan ekspor yang masing-masing tumbuh sebesar 10% dan 20%.
Pertumbuhan penjualan ikut menyebabkan beban pokok penjualan perseroan meningkat 13,1% menjadi Rp 11,2 triliun secara tahunan. Laba kotor perseroan tumbuh 14,5% menjadi Rp 11,8 triliun.
Meski demikian, persentase pertumbuhan beban usaha sebesar 17,2% tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan persentase pertumbuhan pendapatan 13,3%, sehingga margin usaha perseroan tertekan hingga kuartal III 2013.
Sementara itu, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID), emiten pesaing Unilever di segmen perawatan tubuh, mencatat peningakatan margin usaha sebesar 140 basis poin menjadi 13,8% hingga kuartal III 2013. Peningkatan margin usaha tersebut antara lain terjadi seiring dengan peningkatan beban yang lebih kecil dibanding pertumbuhan pendapatan.
"Meningkatnya beban pokok penjualan sebesar 8,8% menjadi Rp 979,8 miliar yang ditopang oleh kenaikan beban tenaga kerja tidak berdampak pada pertumbuhan laba kotor perseroan sebesar 14,9% menjadi Rp 580,3 miliar. Hal itu pada akhirnya juga menyebabkan kinerja laba usaha, laba bersih, beserta margin perseroan terus tumbuh," kata Takeshi Hibi, Direktur Utama Mandom Indonesia dalam keterangan tertulis.
Hingga September 2013, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 1,56 triliun atau tumbuh 11,4% dibanding periode yang sama tahun 2012. “Peningkatan penjualan produk-produk perseroan baik di pasar domestik maupun ekspor mendorong kinerja pendapatan sepanjang periode tersebut," kata Hibi.
(consumediaindonesia)
"Dari budget belanja modal 2013 sebesar Rp 1 triliun, sampai September 2013 sudah terserap Rp 800 miliar digunakan untuk ekspansi kapasitas pabrik di daerah Cikarang dan Surabaya serta untuk membeli alat produksi ice cream," ujar Sancoyo Antarikso, Direktur Unilever (10/1/14).
Menurut dia, perseroan akan menggunakan dana belanja modal sebesar Rp 400 miliar di semester II 2013. Sancoyo menuturkan, dana belanja modal hingga akhir semester II masih difokuskan untuk peningkatan kapasitas.
“Kami telah menggunakan dana belanja modal hingga akhir semester I hingga Rp 600 miliar,” tutur Sancoyo. Dia optimistis anggaran dana belanja modal perseroan bisa terserap pada akhir 2013.
Unilever menganggarkan belanja modal sebesar Rp 1 triliun tahun ini, turun 16,6% dibanding anggaran tahun lalu Rp 1,2 triliun. Penurunan tersebut karena Unilever telah menganggarkan dana belanja modal yang relatif besar sepanjang 2010-2012 yang mencapai Rp 4,2 triliun.
Penambahan kapasitas produksi dilakukan seiring pertumbuhan permintaan produk perseroan tiap tahun, dan perkiraan kenaikan permintaan tahun ini. Unilever akan menambah lini produksi untuk produk-produk yang utilisasinya mencapai 80%. "Selain untuk peningkatan kapasitas, belanja modal tahun ini juga untuk revitalisasi sistem distribusi," jelas Sancoyo.
Penambahan kapasitas yang dilakukan sejak tahun lalu juga mendorong Unilever mencatat pendapatan sebesar Rp 23 triliun per kuartal III 2013, tumbuh 13,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 20,3 triliun. Peningkatan pendapatan ditopang oleh penjualan di pasar dalam negeri dan ekspor yang masing-masing tumbuh sebesar 10% dan 20%.
Pertumbuhan penjualan ikut menyebabkan beban pokok penjualan perseroan meningkat 13,1% menjadi Rp 11,2 triliun secara tahunan. Laba kotor perseroan tumbuh 14,5% menjadi Rp 11,8 triliun.
Meski demikian, persentase pertumbuhan beban usaha sebesar 17,2% tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan persentase pertumbuhan pendapatan 13,3%, sehingga margin usaha perseroan tertekan hingga kuartal III 2013.
Sementara itu, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID), emiten pesaing Unilever di segmen perawatan tubuh, mencatat peningakatan margin usaha sebesar 140 basis poin menjadi 13,8% hingga kuartal III 2013. Peningkatan margin usaha tersebut antara lain terjadi seiring dengan peningkatan beban yang lebih kecil dibanding pertumbuhan pendapatan.
"Meningkatnya beban pokok penjualan sebesar 8,8% menjadi Rp 979,8 miliar yang ditopang oleh kenaikan beban tenaga kerja tidak berdampak pada pertumbuhan laba kotor perseroan sebesar 14,9% menjadi Rp 580,3 miliar. Hal itu pada akhirnya juga menyebabkan kinerja laba usaha, laba bersih, beserta margin perseroan terus tumbuh," kata Takeshi Hibi, Direktur Utama Mandom Indonesia dalam keterangan tertulis.
Hingga September 2013, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 1,56 triliun atau tumbuh 11,4% dibanding periode yang sama tahun 2012. “Peningkatan penjualan produk-produk perseroan baik di pasar domestik maupun ekspor mendorong kinerja pendapatan sepanjang periode tersebut," kata Hibi.
(consumediaindonesia)
Sabtu, 07 Desember 2013
General Economic Outline of Indonesia
Indonesia, currently the 18th-largest economy in the world, is experiencing remarkable economic growth. After the Asian Financial Crisis of the late 1990s halted a booming economy fostered by the Suharto government, Indonesian macroeconomic indicators started to come back on track in the mid 2000s.
Although the Asian Financial Crisis had disastrous consequences (especially on the poorer urban segments of society), important lessons have been learned too. The financial system for example, which to a large extent lacked supervision and transparency, was replaced by a system entailing more prudent fiscal policies in line with international economic standards, thus fostering integration with global markets. Moreover, the Asian Financial Crisis has been the catalyst for a process of political democratization and liberalization that continues up to the present.
Prudent financial macroeconomic policy is one reason why Indonesia was resilient to the global financial crisis of 2008-2009. Both public and private debt have fallen sharply (as a percentage of GDP), international reserves have grown fast and inflation has been under control. In combination with relative political stability and certain favorable demographic trends it provides opportunities for strong economic performance over the medium term. Regarding the longer term, the Indonesian government aims to be in the top six of largest global economies by the year 2030.
Another key element that accounts for Indonesia's recent economic growth is domestic consumption. In line with rising per capita GDP and low borrowing costs, Indonesia's private consumption is robust. It accounted for 56 percent of the country's economic activity in 2011 and future projections indicate that it is to grow further.
Despite such positive conditions Indonesia remains a complex country from a business, social and political perspective. We advise those that intend to invest in Indonesia to read our Risks of Investing in Indonesia page as one should be aware of matters that can negatively influence Indonesia's investment climate.
The table below shows recent results and future forecasts of important macroeconomic indicators. For a more detailed account on these indicators please visit the Macroeconomic Indicators page or click on the links in the table.
Although the Asian Financial Crisis had disastrous consequences (especially on the poorer urban segments of society), important lessons have been learned too. The financial system for example, which to a large extent lacked supervision and transparency, was replaced by a system entailing more prudent fiscal policies in line with international economic standards, thus fostering integration with global markets. Moreover, the Asian Financial Crisis has been the catalyst for a process of political democratization and liberalization that continues up to the present.
Prudent financial macroeconomic policy is one reason why Indonesia was resilient to the global financial crisis of 2008-2009. Both public and private debt have fallen sharply (as a percentage of GDP), international reserves have grown fast and inflation has been under control. In combination with relative political stability and certain favorable demographic trends it provides opportunities for strong economic performance over the medium term. Regarding the longer term, the Indonesian government aims to be in the top six of largest global economies by the year 2030.
Another key element that accounts for Indonesia's recent economic growth is domestic consumption. In line with rising per capita GDP and low borrowing costs, Indonesia's private consumption is robust. It accounted for 56 percent of the country's economic activity in 2011 and future projections indicate that it is to grow further.
Despite such positive conditions Indonesia remains a complex country from a business, social and political perspective. We advise those that intend to invest in Indonesia to read our Risks of Investing in Indonesia page as one should be aware of matters that can negatively influence Indonesia's investment climate.
The table below shows recent results and future forecasts of important macroeconomic indicators. For a more detailed account on these indicators please visit the Macroeconomic Indicators page or click on the links in the table.
Composition of Indonesia's Economy: the three main sectors
The table below indicates a remarkable development during the last five decades in the percentage shares of the three main economic sectors (to wit agriculture, industry and services) with regard to Indonesia's Gross Domestic Product (GDP). Indonesia changed from being an economy that was highly dependent on agriculture into a more balanced economy in which the percentage share of manufacturing in the country's GDP quickly exceeded that of the agriculture sector.
This also indicates that Indonesia lessened its traditional dependency on primary exports, although it still remains relatively high today. It should also be underlined that all of these sectors underwent rapid expansion, despite the fact that its contribution to Indonesia's GDP fell (agriculture) or remained at a similar level throughout the indicated period (the services sector). For a more detailed account please click on one of the sectors in the table below.
1965 | 1980 | 1996 | 2010 | |
Agriculture | 51 | 24 | 16 | 15 |
(percent of GDP) | ||||
Industry | 13 | 42 | 43 | 47 |
(percent of GDP) | ||||
Services | 36 | 34 | 41 | 37 |
(percent of GDP) |
Indonesia's Economic Fact Sheet |
• Indonesia was an USD $850 billion economy in 2012 |
• In 2012 private consumption accounted for about 55 percent of economic activity in Indonesia, partly due to low borrowing costs and rising GDP per capita |
• Per Capita GDP rose from USD $780 in 2000 to USD $3,540 in 2011 |
• Exports account for around 20 percent of GDP. China, Japan, USA and India are Indonesia's largest export destinations |
• Around half of Indonesia's exports consist of commodities (in particular palm oil, coal and rubber) |
• In 2012 Foreign Direct Investment (FDI) in Indonesia jumped around 26 percent (to USD $29.5 billion) compared to 2011 |
• Mining accounted for around 12 percent of gross domestic product in 2011 |
indonesia-investments.com
Senin, 02 September 2013
Membangun Pabrik Mie Instan Indonesia di Kazakhstan
Mie instan buatan Indonesia, terutama Indomie, sudah menjelajah ke berbagai belahan dunia. Ada keinginan Indonesia untuk berinvestasi membangun pabrik Indomie di Kazakhstan, yang merupakan salah satu ladang gandum di dunia ini. Terhadap keinginan Indonesia ini, pemerintah Kazakhstan menyambut baik.
Dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev, Presiden SBY menyampaikan sejumlah kerjasama yang akan digenjot, yaitu antara lain kerjasama di bidang pangan, kerjasama di bidang energi, dan kerjasama di bidang pariwisata. Dalam bidang pangan, SBY menyampaikan rencana melakukan investasi pembangunan pabrik mie instan Indofood di Kazakhstan.
"Kazakhstan merupakan produsen gandum dalam jumlah besar. Sedangkan Indonesia memiliki perjalanan panjang dalam membangun perusahaan mie instan. Karena itu Indonesia akan berinvestasi di sini (Kazakhstan-Red) untuk membangun pabrik mie instan," kata Presiden SBY saat melakukan jumpa pers bersama Presiden Nazarbayev usai pertemuan bilateral yang digelar di Istana Kepresidenan Ak-Orda, Astana, Senin (2/9/2013).
Tidak disebutkan secara detil berapa nilai investasi pembangunan pabrik mie instan yang akan dilakukan Indonesia di negeri pecahan Uni Soviet ini. Namun beberapa waktu lalu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyebutkan investasi Indonesia di negara ber-GDP perkapita US$ 15.000 ini akan bernilai total US$ 1 miliar. Namun, nilai ini tidak hanya untuk pembangunan pabrik mie instan saja, tapi termasuk untuk investasi di bidang lain, seperti farmasi, migas, perbankan, infrastruktur, transportasi, hingga manufaktur.
Menurut Hatta, perusahaan Indonesia yang akan masuk ke Kazakhstan antara lain PT Indofood Tbk, PT Pertamina (Persero), PT Indofarma Tbk, dan perusahaan swasta lainnya. Indofood akan mendirikan pabrik mie instan, Pertamina akan melakukan eksplorasi migas, Indofarma akan mendirikan pabrik obat, dan PT Multistrada Arah Sarana yang akan mendirikan pabrik ban dengan bahan baku karet didatangkan dari Indonesia. Investasi di Kazakhstan dianggap strategis untuk memanfaatkan pasar Eropa dan Rusia.
Terhadap keinginan Indonesia berinvestasi mendirikan pabrik mie instan, Presiden Nazarbayev pun menyambut baik. "Untuk rencana membangun pabrik mie instan, kami siap membantu," kata Nazarbayev. Pemerintah Kazakhstan juga akan berencana menambah investasi di Indonesia.
Secara geografis, Kazakhstan merupakan negara terbesar di bekas wilayah Uni Soviet yang memiliki kekayaan sumber daya alam, khususnya cadangan migas dan tambang lainnya, seperti uranium, tembaga, dan seng. Kazakhstan juga terdiri dari daerah pertanian luas yang menghasilkan gandum dan ternak.
Pembicaraan mengenai rencana dibangunnya pabrik mie instan Indonesia di Kazakhstan sebenarnya sudah dibicarakan pada April 2012 saat Presiden Nazarbayev berkunjung ke Indonesia. Ada kesepakatan antara Indonesia dan Kazakhstan untuk memperkuat kerjasama bilateral di bidang pengelolaan minyak bumi, pembangunan pabrik kendaraan, dan pembangunan pabrik mie instan.
Dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev, Presiden SBY menyampaikan sejumlah kerjasama yang akan digenjot, yaitu antara lain kerjasama di bidang pangan, kerjasama di bidang energi, dan kerjasama di bidang pariwisata. Dalam bidang pangan, SBY menyampaikan rencana melakukan investasi pembangunan pabrik mie instan Indofood di Kazakhstan.
"Kazakhstan merupakan produsen gandum dalam jumlah besar. Sedangkan Indonesia memiliki perjalanan panjang dalam membangun perusahaan mie instan. Karena itu Indonesia akan berinvestasi di sini (Kazakhstan-Red) untuk membangun pabrik mie instan," kata Presiden SBY saat melakukan jumpa pers bersama Presiden Nazarbayev usai pertemuan bilateral yang digelar di Istana Kepresidenan Ak-Orda, Astana, Senin (2/9/2013).
Tidak disebutkan secara detil berapa nilai investasi pembangunan pabrik mie instan yang akan dilakukan Indonesia di negeri pecahan Uni Soviet ini. Namun beberapa waktu lalu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyebutkan investasi Indonesia di negara ber-GDP perkapita US$ 15.000 ini akan bernilai total US$ 1 miliar. Namun, nilai ini tidak hanya untuk pembangunan pabrik mie instan saja, tapi termasuk untuk investasi di bidang lain, seperti farmasi, migas, perbankan, infrastruktur, transportasi, hingga manufaktur.
Menurut Hatta, perusahaan Indonesia yang akan masuk ke Kazakhstan antara lain PT Indofood Tbk, PT Pertamina (Persero), PT Indofarma Tbk, dan perusahaan swasta lainnya. Indofood akan mendirikan pabrik mie instan, Pertamina akan melakukan eksplorasi migas, Indofarma akan mendirikan pabrik obat, dan PT Multistrada Arah Sarana yang akan mendirikan pabrik ban dengan bahan baku karet didatangkan dari Indonesia. Investasi di Kazakhstan dianggap strategis untuk memanfaatkan pasar Eropa dan Rusia.
Terhadap keinginan Indonesia berinvestasi mendirikan pabrik mie instan, Presiden Nazarbayev pun menyambut baik. "Untuk rencana membangun pabrik mie instan, kami siap membantu," kata Nazarbayev. Pemerintah Kazakhstan juga akan berencana menambah investasi di Indonesia.
Secara geografis, Kazakhstan merupakan negara terbesar di bekas wilayah Uni Soviet yang memiliki kekayaan sumber daya alam, khususnya cadangan migas dan tambang lainnya, seperti uranium, tembaga, dan seng. Kazakhstan juga terdiri dari daerah pertanian luas yang menghasilkan gandum dan ternak.
Pembicaraan mengenai rencana dibangunnya pabrik mie instan Indonesia di Kazakhstan sebenarnya sudah dibicarakan pada April 2012 saat Presiden Nazarbayev berkunjung ke Indonesia. Ada kesepakatan antara Indonesia dan Kazakhstan untuk memperkuat kerjasama bilateral di bidang pengelolaan minyak bumi, pembangunan pabrik kendaraan, dan pembangunan pabrik mie instan.
Minggu, 18 Agustus 2013
Waralaba Gerai Minimarket Rajawali Ditawarkan 150 Juta, Berminat?
BUMN PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) menawarkan kerjasama waralaba minimarket rajawali. Bagi yang berminat hanya perlu menyiapkan dana Rp 150 juta dan lokasi tempat usaha.Direktur Utama PT RNI Ismed Hasan Putro mengungkapkan beberapa pihak sudah berminat untuk membuka waralaba atas minimarket yang bernama Waroeng Rajawali. Pada bulan November tahun ini, Waroeng Rajawali siap diwaralabakan.
"Nanti November kita akan mulai waralabakan, masyarakat akan kita libatkan, mungkin bisa dipercepat jadi Oktober. Sudah 400-500 dari BUMN dan masyarakat yang memesan," kata Ismed saat peresemian Gerai Waroeng Rajawali di Hanggar, Pancoran, Jaksel, Jumat (17/8/2013).
Ismed mengungkapkan pihaknya hanya akan menyediakan produk-produk yang dijual. Peminat harus menginvestasikan uangnya sebesar Rp 150 juta dan menandatangani sebuah perjanjian yang berlaku selama 3 tahun. Lokasi diharuskan memiliki lebar minimal 10 meter dengan panjang yang tidak ditentukan.
"Kami hanya mengisi barang. Tempat dan perizinan mereka yang proses. Nanti kita setting tempatnya," katanya.
Persyaratan lain, lanjut Ismed harus tersedia tempat khusus menjual daging sapi, atau semacam lemari pendingin. Selain itu akan ada 1500 item produk yang akan dijual disatu gerai Waroeng Rajawali.
"Nanti ada 1500 item. Syaratnya juga ada ruang untuk showcase daging. Karena daging itu merupakan langkah kita membantu menstabilisasi harga," jelasnya.
Di luar waralaba, RNI berencana membuka 1500 gerai Waroeng Rajawali di seluruh Indonesia hingga bulan Juni tahun depan. Selain itu, RNI pun berencana untuk membuat Hipermarket, atau toko grosir besar minimal 1 toko di kota besar Indonesia. Dalam jangka pendek, Hipermarket akan dibuka di Hanggar Pancoran, di atas lahan seluas 3 hektar.
Kamis, 28 Maret 2013
Indonesia Pasar Potensial Bagi Industri Kosmetik
Kosmetik sangat identik dengan keindahan dan kesehatan tubuh dari ujung rambut sampai kaki. Bagi wanita, produk kosmetik selalu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, demi mendapatkan dan mempertahankan kecantikan dari waktu ke waktu. Inilah yang menjadi alasan mengapa wanita lebih banyak mengenal berbagai macam kosmetik untuk mereka gunakan setiap hari.
Kondisi ini dimanfaatkan menjadi peluang besar bagi produsen kosmetik. Jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, menjadikan Indonesia pasar yang menjanjikan bagi perusahaan kosmetik. Kendati mayoritas industri kosmetik membidik target konsumen utama kaum wanita, belakangan mulai berinovasi dengan produk-produk untuk pria.
Saat ini perkembangan industri kosmetik Indonesia tergolong solid. Hal ini terlihat dari peningkatan penjualan kosmetik pada 2012 sebesar 14% menjadi Rp 9,76 triliun dari sebelumnya Rp 8,5 triliun, berdasarkan data Kementerian Perindustrian.
Produk kecantikan dan perawatan tubuh global pada 2012 mencapai US$ 348 miliar, tumbuh tipis US$ 12 miliar dibanding tahun sebelumnya berdasarkan data Euro Monitor. Meskipun 2012 perekonomian dunia masih diwarnai krisis keuangan seperti yang terjadi di kawasan Euro, maupun perlambatan ekonomi China, produk-produk kecantikan bermerek terbukti masih dapat bertumbuh dengan solid. Produk kecantikan bermerek diprediksi tumbuh 6% tahun ini, lebih tinggi dari pertumbuhan produk kosmetik umum sebesar 4%.
Pertumbuhan volume penjualan kosmetik ditopang oleh peningkatan permintaan, khususnya dari konsumen kelas menengah.
Kondisi ini dimanfaatkan menjadi peluang besar bagi produsen kosmetik. Jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, menjadikan Indonesia pasar yang menjanjikan bagi perusahaan kosmetik. Kendati mayoritas industri kosmetik membidik target konsumen utama kaum wanita, belakangan mulai berinovasi dengan produk-produk untuk pria.
Saat ini perkembangan industri kosmetik Indonesia tergolong solid. Hal ini terlihat dari peningkatan penjualan kosmetik pada 2012 sebesar 14% menjadi Rp 9,76 triliun dari sebelumnya Rp 8,5 triliun, berdasarkan data Kementerian Perindustrian.
Produk kecantikan dan perawatan tubuh global pada 2012 mencapai US$ 348 miliar, tumbuh tipis US$ 12 miliar dibanding tahun sebelumnya berdasarkan data Euro Monitor. Meskipun 2012 perekonomian dunia masih diwarnai krisis keuangan seperti yang terjadi di kawasan Euro, maupun perlambatan ekonomi China, produk-produk kecantikan bermerek terbukti masih dapat bertumbuh dengan solid. Produk kecantikan bermerek diprediksi tumbuh 6% tahun ini, lebih tinggi dari pertumbuhan produk kosmetik umum sebesar 4%.
Pertumbuhan volume penjualan kosmetik ditopang oleh peningkatan permintaan, khususnya dari konsumen kelas menengah.
Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) memperkirakan tahun ini penjualan kosmetik dapat tumbuh hingga Rp 11,22 triliun, naik 15% dibanding proyeksi 2012 sebesar Rp 9,76 triliun. Dari sisi ekspor, industri kosmetik ditaksir tumbuh 20% menjadi US$ 406 juta.
Ketua Umum Perkosmi Nuning S Barwa, mengatakan pertumbuhan volume penjualan kosmetik ditopang oleh peningkatan permintaan, khususnya dari konsumen kelas menangah. Pertumbuhan penjualan kosmetik juga didorong oleh tren kenaikan penggunaan kosmetik oleh kaum pria. “Dulu pria tidak tertarik membeli produk perawatan kulit yang maskulin, tapi sekarang ketertarikan mereka tinggi,” katanya.
Peluang pasar kosmetik di Indonesia masih sangat besar. Karena itu, produsen kosmetik nasional perlu memenuhi kebutuhan konsumen yang terus meningkat. Apalagi, Kementerian Perindustrian juga memberikan insentif untuk mendorong pengembangan industri komsetik di Tanah Air.
Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengatakan pemberian insentif tersebut dilakukan untuk meningkatkan daya saing, khususnya dalam menghadapi persaingan dengan produk impor. Insentif diberikan kepada industri kosmetik antara lain dalam bentuk tax allowance dan pembebasan bea masuk atas impor mesin.
Dengan adanya insentif itu, pemerintah berharap industri kosmetik mampu berekspansi secara rutin untuk meningkatkan kapasias produksi. Menurut Hidayat, industri kosmetik juga perlu didorong dalam kemandirian bahan baku, khususunya bahan baku herbal. “Indonesia memiliki keanekaragaman hayati dengan 30 ribu spesies tanaman obat, kosmetik, dan aromatik, terbanyak kedua setelah Brazil,” katanya.
Saat ini, industri kosmetik dalam negeri mendapat tantangan dengan peredaran produk kosmetik impor di pasar domestik. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan pasar domestik premium (high branded). Menurut data Perkosmi, tahun lalu penjualan kosmetik impor mencapai Rp 2,44 triliun, naik 30% dibanding 2011 sebesar Rp 1,87 triliun. Tahun ini, penjualan produk kosmetik impor diproyeksikan naik lagi 30% menjadi Rp 3,17 triliun. Peningkatan tersebut ditopang oleh kenaikan volume penjualan serta penurunan tarif bea masuk seiring perjanjian perdagangan bebas.
Wiyantono, Ketua Bidang Perdagangan Perkosmi, memperkirakan pertumbuhan pasar kosmetik impor tahun ini akan melewati pertumbuhan penjualan kosmetik lokal. Menurut dia, produk kosmetik impor masuk ke Indonesia umumnya melalui perusahaan skala kecil serta sistem pemasaran berjenjang (multilevel marketing). “Perusahaan besar seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) sudah memiliki unit produksi di sini,” katanya.
Peluang Besar
Industri kecantikan nasional memiliki peluang yang besar di lingkup ASEAN. Hal ini ditunjukkan oleh masih rendahnya kontribusi penjualan ekspor dari perusahaan kosmetik yang hanya sebesar 18% terhadap penjualan total. Rendahnya kontribusi penjualan ekspor menunjukkan perusahaan kosmetik belum secara penuh berusaha mengupayakan penjualannya ke luar negeri.
Selain itu, faktor kesamaan iklim, sosial budaya, daya beli, berpotensi membuat konsumen ASEAN memiliki preferensi yang sama dengan konsumen Indonesia. Hal ini dapat menjadi pendorong produk kosmetik Indonesia dapat diterima dengan baik di pasar ASEAN.
Adanya pasar bebas ASEAN dan China (AC-FTA) yang akan berlaku pada 2015 selain dapat menjadi peluang pasar bagi industri kosmetik Indonesia, juga dapat menjadi tantangan karena adanya perjanjian ini membuat produk China lebih leluasa masuk ke pasar ASEAN. Hal ini berpotensi meningkatkan persaingan yang harus dihadapi pemain Indonesia.(dbs)
----------------------------------------------------------------------------------------


















