WELCOME TO CONSUMEDIA INDONESIA BLOGSITE


Jumat, 19 September 2014

Hatten Wines Raih 7 Penghargaan di CWSA Wine Competition 2014

Hatten Wines seolah mendapat durian runtuh. Baru saja merayakan hari jadi ke-20 di bulan Agustus lalu, di bulan yang sama secara mengejutkan meraih 7 penghargaan dari China Wine & Spirits Awards (CWSA) Wine Competition 2014 di Hongkong. 

Medali emas ganda (double gold) jatuh pada produk Hatten Wines Pino de Bali, Alexandria dan Aga White, sedangkan Hatten Wines Tunjung mendapatkan medali emas. Untuk medali perak ditujukan pada Hatten Wines Jepun, serta medali perunggu diboyong Hatten Wines Rose dan Aga Red.

Senin, 07 Juli 2014

Ini dia Mentega Cair Pertama di Asia Tenggara

Umumnya terdapat dua jenis lemak padat yang digunakan dalam masakan maupun kue, yakni margarin dan mentega (butter). Margarin berbahan dasar lemak nabati dan umumnya berasal dari minyak kelapa sawit, sedangkan mentega dibuat dari lemak susu.

Kedua bahan makanan ini memiliki kelebihannya masing-masing pada masakan dan kue. Namun dari segi cita rasa, mentega memiliki rasa yang lebih lezat dan aroma yang kuat ketimbang margarin. Tak heran jika mentega sering digunakan dalam usaha bakery dan restoran.


Perkembangan industri makanan saat ini mampu memproduksi mentega dalam bentuk cair. Mungkin mentega cair (liquid butter) masih terdengar asing, namun produk inovasi ini dapat memberikan kemudahan penggunaannya.

Di Eropa maupun negara maju lainnya telah memproduksi mentega cair, dan Indonesia pun telah mengikutinya. Di dalam negeri, produk inovasi ini dibuat oleh PT Kreasi Edhoval Nutrindo (KEN). Perusahaan manufaktur bahan baku makanan untuk usaha bakery maupun minuman ini mengeluarkan Gallfiro sebagai merek mentega cair miliknya. “Produk ini kami klaim pertama di Asia Tenggara selama pengamatan kami di wilayah tersebut,” ujar Nusa Putra, Managing Director PT KEN.

Sekedar informasi, PT KEN merupakan perusahaan lokal yang berdiri sejak 2009 dan memproduksi beragam bahan baku makanan untuk kebutuhan usaha bakery, meliputi cake emulsifier, softness bread improver, baking powder double acting, food whitening, filling powder, milky booster, baking chocolate, hingga mayonnaise.

Perusahaan ini memiliki dua pabrik di Tangerang, yakni di Cikupa dan Kamal. Hingga saat ini PT KEN memiliki 10 merek produk dan empat di antaranya merupakan merek utama yakni Bendictone, Nulatte, Eggies dan tentu saja Gallfiro.

Gallfiro merupakan mentega olahan berbentuk cair yang dibuat dari beberapa bahan, meliputi lemak susu, lemak nabati, ekstrak mentega, enzim dan lainnya. “Sekitar 25% bahan baku yang digunakan lokal, khusus enzim memang kami impor,” jelasnya. Meski demikian, Nusa meyakinkan produknya aman dikonsumsi karena telah mengantongi sertifikat halal MUI dan BPOM RI.

Kegunaan mentega cair ini sama seperti mentega padat. “Ini bukan pengganti mentega tapi memang mentega. Bukan pula pewangi, flavor, esens, tetapi memang mentega semi sintetis dalam bentuk cair,” ungkapnya. Produk ini berwarna kuning seperti minyak goreng, hanya saja lebih kental.


Mentega cair memudahkan proses membuat adonan cake karena tidak perlu mencairkannya. Di samping itu, akan lebih hemat karena mentega cair langsung digunakan di dalam adonan tanpa tertinggal melekat pada panci saat melelehkan mentega padat. Standar penggunaannya sekitar 2-5% dari total tepung dalam resep.

Menurutnya lagi, Gallfiro dapat digunakan untuk makanan apapun yang dipanggang (baking) bahkan sebagai bahan tambahan pembuatan permen lunak (soft candy). Hanya saja belum dapat diaplikasikan untuk proses pelipatan adonan pastry tetapi masih dapat digunakan pada adonan dasarnya.

Produk ini diperkenalkan sejak pameran Interfood 2013 lalu di Jakarta. Proses formulasi Gallfiro ini hingga siap diproduksi massal membutuhkan waktu 8 bulan. “Kami menggunakan teknologi dan tenaga ahli dari Eropa. Kami berani klaim Gallfiro tidak ada yang bisa meniru seutuhnya setidaknya hingga 5 tahun ke depan. Kemungkinan mereka bisa buat produk yang sama tetapi karakternya tidak akan dapat,” beber Nusa.

Karakter sekaligus keunggulan Gallfiro adalah mampu memberikan kelembutan pada cake dan mengurangi aroma tepung. “Menggunakan Gallfiro pada pembuatan bolu akan menghasilkan tekstur lebih lembut setelah 3 hari padahal bolu yang biasa akan mengering,” tambahnya.

Semakin tinggi Anhydrous Milk Fat (AMF) atau konsentrat lemak susu, maka mentega semakin beraroma. Namun karena AMF berasal dari bahan alami sehingga tidak kuat saat terkena panas. “Produk kami bukan AMF tetapi ekstrak dan termasuk mentega semi sintetis sehingga akan tahan pada proses pembakaran,” jelasnya lagi.

Gallfiro dijual dalam kemasan berukuran 1 kg, 5 kg dan 25 kg. Produk ini terdiri dari 3 jenis yakni Gallfiro Silver, Gallfiro Gold, dan Gallfiro Platinum. “Perbedaan jenis produk tersebut memengaruhi efek yang didapat, misalkan aroma, tekstur dan tentu harga,” ujar Nusa. Mentega cair ini cukup disimpan dalam ruang teduh pada temperatur 25-280C. Pada suhu dingin pun produk ini tidak membeku kecuali disimpan pada suhu di bawah 00C.


Melihat peluang pasar mentega cair yang besar di Asia Tenggara, PT KEN tak ragu untuk mendistribusikan ke Manila, Bangkok dan Vietnam. Rencananya PT KEN juga ikut serta di ajang Food Hotel Asia 2014 di Singapura.

Inovasi mentega cair terus dilakukan PT KEN. “Kalau kami sudah mengembangkan produknya untuk hotel, varian mentega cair akan bertambah seperti untuk barbeque, kari dan lainnya,” tutupnya.

foodservicetoday

Senin, 28 April 2014

Kecap Bango, Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara

Pada tanggal 26 Maret 2014, Kecap Bango produksi PT Unilever Indonesia mengumumkan perjalanan menelusuri kekayaan warisan kuliner Nusantara bertajuk “Bango Ekpedisi Warisan Kuliner Nusantara”. Ekspedisi ini akan menelusuri kekayaan kuliner di lebih dari 100 kota mulai dari Indonesia Barat, Tengah, Hingga Timur.

Arie Parikesit, pakar kuliner Nusantara, selaku koordinator ekspedisi mengatakan bahwa acara akan berlangsung serentak dari bulan April hingga Juli 2014. Ia menambahkan bahwa ekspedisi ini akan dipimpin oleh Odillia Winneke untuk Indonesia wilayah Barat, Aldio Merancia untuk Indonesia wilayah Tengah, dan Dina ‘Dua Ransel” untuk Indonesia Wilayah Timur.


Nuning Wahyuningsih selaku Senior Brand Manager Bango PT Unilever Indonesia Tbk berujar bahwa hasil Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara ini akan diabadikan menjadi sebuah dokumentasi lengkap dalam buku “Bango Jelajah Warisan Kuliner dari Barat ke Timur Nusantara”.

Akhyaruddin SE, M.Sc selaku Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konvensi Insentif dan Even, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menambahkan bahwa pihak pemerintah menyambut baik dan memberikan apresiasi terhadap acara ini sebagai upaya pelestarian warisan kuliner Nusantara.

foodservicetoday

Senin, 03 Februari 2014

Unilever Siapkan Belanja Modal Rp 1,1 Triliun

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), emiten produsen barang konsumsi harian, menyiapkan belanja modal tahun ini sebesar Rp 900 miliar - Rp 1,1 triliun untuk peningkatan kapasitas produksi. Menurut direksi perseroan, anggaran belanja modal di 2014 akan didanai kas internal, pinjaman bank asing, serta pinjaman induk usaha.

"Dana belanja modal kami selalu improve. Tahun lalu Rp 1 triliun. Tahun ini belanja modal sedang kami finalisasi, kisarannya Rp 900 miliar - Rp 1,1 triliun," ujar Sancoyo Antarikso, Direktur Unilever.

Menurut dia, belanja modal tahun ini akan didanai kas internal, pinjaman bank swasta asing, serta pinjaman induk usaha. "Tapi, pendanaan pinjaman bank hanya minoritas," katanya tanpa memerinci lebih lanjut.


Berdasarkan laporan keuangan perseroan, hingga kuartal III 2013 kas Unilever mencapai Rp 520 miliar, naik signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 229 miliar. Pada periode tersebut, Unilever memperoleh pinjaman dari PT Bank Mizuho Indonesia sebesar Rp 250 miliar, JP Morgan Chase Jakarta Rp 150 miliar, dan Standard Chartered Bank Jakarta Rp 100 miliar. "Suku bunga atas pinjaman tersebut single digit," ucapnya.

Sancoyo menambahkan rata-rata nilai belanja modal perseroan dalam lima tahun terakhir cukup besar. Belanja modal Unilever sepanjang 2010-2012 mencapai Rp 4,2 triliun. Alokasi belanja modal ditujukan guna mendukung pertumbuhan kinerja keuangan perseroan.

Meski demikian, dia mengakui, sejak kuartal III 2013 permintaan barang konsumsi harian cukup tertekan oleh sejumlah faktor antara lain kenaikan tarif dasar listrik, pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM), pelemahan rupiah, serta kenaikan suku bunga kredit. Pertumbuhan penjualan Unilever hingga kuartal III 2013 cenderung melambat menjadi 13% dibanding sebelumnya 16%. "Pertumbuhan penjualan melambat, tapi masih oke," paparnya.

Penambahan kapasitas yang dilakukan sejak tahun lalu juga mendorong Unilever mencatat pendapatan sebesar Rp 23 triliun per kuartal III 2013, tumbuh 13,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 20,3 triliun. Peningkatan pendapatan ditopang oleh penjualan di pasar dalam negeri dan ekspor yang masing-masing tumbuh sebesar 10% dan 20%.

Pertumbuhan penjualan ikut menyebabkan beban pokok penjualan perseroan meningkat 13,1% menjadi Rp 11,2 triliun secara tahunan. Laba kotor perseroan tumbuh 14,5% menjadi Rp 11,8 triliun.

Meski demikian, persentase pertumbuhan beban usaha sebesar 17,2% tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan persentase pertumbuhan pendapatan 13,3%, sehingga margin usaha perseroan tertekan hingga kuartal III 2013. Margin usaha Unilever turun 23 basis poin menjadi 23,86% per kuartal III tahun lalu.

Sementara itu, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID), emiten pesaing Unilever di segmen perawatan tubuh, mencatat peningkatan margin usaha sebesar 140 basis poin menjadi 13,8% hingga kuartal III 2013. Peningkatan margin usaha tersebut antara lain terjadi seiring dengan peningkatan beban yang lebih kecil dibanding pertumbuhan pendapatan.

"Meningkatnya beban pokok penjualan sebesar 8,8% menjadi Rp 979,8 miliar yang ditopang oleh kenaikan beban tenaga kerja tidak berdampak pada pertumbuhan laba kotor perseroan sebesar 14,9% menjadi Rp 580,3 miliar. Hal itu pada akhirnya juga menyebabkan kinerja laba usaha, laba bersih, beserta margin perseroan terus tumbuh," kata Takeshi Hibi, Direktur Utama Mandom Indonesia dalam keterangan tertulis.

Hingga September 2013, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 1,56 triliun atau tumbuh 11,4% dibanding periode yang sama tahun 2012. “Peningkatan penjualan produk-produk perseroan baik di pasar domestik maupun ekspor mendorong kinerja pendapatan sepanjang periode tersebut," kata Hibi.

ift.com

Selasa, 12 Maret 2013

RNI Siapkan Dua Anak Usaha Go Publik

Ismet Hasan Putro
PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) tengah menyiapkan dua anak usahanya untuk 'melantai' ke bursa saham pada tahun depan. Direktur Utama RNI, Ismet Hasan Putro, mengungkapkan kedua anak usaha yang akan dibawa ke bursa saham itu ialah PT Phapros dan PT Perkebunan Mitra Ogan. 

Dia menjelaskan alasan membawa kedua anak usaha ke bursa saham adalah untuk memenuhi kebutuhan permodalan dan meningkatkan good corporate governance. "Kami sudah tunjuk konsultan untuk penjaminan emisi. Rencananya, 25% dari saham masing-masing perusahaan kita lepas. RNI tetap akan menjadi mayoritas," ungkap dia.

Phapros bergerak dalam bidang farmasi dan alat kesehatan, sementara Mitra Ogan bergerak pada usaha perkebunan sawit di Sumatra Selatan. Dana yang diharapkan Phapros dari IPO tersebut minimal 250 miliar rupiah.

Sebelum IPO, Phapros diharapkan menyelesaikan akuisisi PT Rajawali Banjaran, perusahaan produsen kondom dan sarung tangan plastik yang juga anak usaha RNI. Akuisisi horizontal itu diharapkan tuntas sebelum akhir 2013, untuk selanjutnya melakukan IPO.

Sementara itu, dana hasil IPO Mitra Ogan ditargetkan mencapai sekitar satu triliun rupiah yang akan digunakan antara lain untuk memperluas areal perkebunan. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat dana internal perusahaan dalam upaya membuka lahan baru, penanaman sawit baru dalam 6-7 tahun ke depan.

"Nanti IPO akan melihat situasi pasar. Bisa saja tidak keduanya, tergantung antusiasme pasar, terutama terkait dengan sektor perkebunan dan farmasi," ujar dia.

Menggenjot Bisnis Retail
BUMN itu juga tengah merambah bisnis retail dengan membuka jaringan gerai pada tahun 2013 sebanyak 150 titik Rajawali Mart dan 100 unit Waroeng Nusantara. "Untuk tahap awal, jaringan gerai RNI akan dibangun di Jawa, Bali, dan Lombok. Sementara, hingga saat ini, sudah terdapat 15 gerai Rajawali Mart di Denpasar, Bali, dan 1 gerai Waroeng Rajawali di Jakarta," ungkap dia.

Rajawali Mart merupakan gerai seperti toko kelontong pada umumnya, sementara Waroeng Rajawali memiliki keistimewaan karena menjual produk-produk unggulan yang dimiliki oleh BUMN. "Kami juga bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia, di mana gerai tersebut dapat didirikan di setidaknya 48 stasiun kereta api," ujar Ismet.

RNI juga membuka peluang kerja sama dengan BRI, Pelabuhan Indonesia (Pelindo), PT Angkasa Pura, termasuk hotelhotel milik BUMN. Sebagai bisnis baru yang digeluti RNI, diharapkan selama tahun 2013 gerai Rajawali meraih pendapatan 5 miliar-10 miliar rupiah. (*)


Baca juga : RNI Targetkan 250 Gerai Retail di 2013

Kamis, 07 Maret 2013

2013: Barclay Mematok Target 30% Pangsa Pasar Lotion

Anak usaha PT Tempo Scan Pacific, Barclay Products pada tahun ini mematok target 30% pangsa pasar lotion pada 2013.

Olivia Lubis Jensen
PT Barclay Products meluncurkan produk terbarunya, Marina Hand Body Lotion UV White Ekstra SPF 15, pada 7 Maret 2013.

Acara peluncuran Marina Hand Body Lotion UV White Extra SPF 15 ini berlangsung di gedung Tempo Scan Tower, Jalan Rasuna Said kav 3-4, lantai 16. Dalam Jumpa Pers dan Talk Show ini menghadirkan pembicara Nina M. Yunianto (PT Barclay Product), dr M Rachadian Ramadhan (Gentur Cleft Foundation) dan Aktris cantik Olivia Jensen Lubis.

Marketing Director PT Barclay Product, Nina M. Yunianto dalam jumpa pers di sela peluncuran tersebut menyatakan, "Marina UV White Extra SPF 15 dapat membuat kulit tampak lebih cerah dan perlindungan extra yang akan menjaga dari pengaruh buruk sinar matahari dan merawatnya setiap hari. Fungsi SPF 15 sendiri adalah pelindung kulit yang optimal dari sengatan sinar UVB saat beraktivitas di tempat terbuka," ujarnya.

Ia menambahkan, Marina UV White Extra SPF 15 lebih sekedar dari perlindungan agar kulit tidak terbakar sinar Matahari saja. "Selain SPF 15, Marina UV White Extra SPF 15 juga mengandung PA+ sebagai proteksi terhadap radiasi UVA dan menghambat proses penggelapan kulit serta Biowhitetening Complex dari Yoghurt dan vitamin B3 yang kaya nutrisi untuk membantu mencerahkan kulit dari dalam," tambahnya.


Produk hand and body lotion merek Marina itu diusung sebagai produk utama perseroan dari total delapan merek milik Barclay. President Director PT Barclay Products Phillips Gunawan mengklaim pada 2012 Marina mencapai 27% pangsa pasar di kategori produk lotion di Tanah Air, kedua terbesar setelah produk lotion Unilever.

Menurut Phillips, saban tahun volume penjualan Marina tumbuh di atas pertumbuhan industri. Pertumbuhan volume penjualan industri lotion sendiri kurang dari 10%.

Lewat pertumbuhan pangsa pasar, Phillips menargetkan kontribusi pendapatan Marina terhadap total pendapatan perseroan turut membesar. Pada 2012, Marina menyumbang pendapatan sekitar 50% dari total pendapatan perseroan. Kontributor terbesar kedua yakni My Baby.

Untuk mencapai target pangsa pasar Marina sebesar 30%, perseroan, dibantu divisi pemasaran dan distribusi dari Grup Tempo, berencana menambah jumlah outlet di beberapa kota di Indonesia pada tahun ini. Sampai saat ini Grup Tempo memiliki 40 cabang pemasaran dan distribusi dari Banda Aceh hingga Jayapura.

Tak hanya di dalam negeri, Tempo Group sudah berancang-ancang menambah jumlah perwakilan di luar negeri. Menurut Phillips, penambahan perwakilan akan difokuskan di Asia Tenggara. Sayang, dia enggan membeberkan negara mana yang akan didatangi Grup Tempo. Hingga sekarang, perwakilan grup baru ada di Malaysia, Filipina, Nigeria, dan Afrika.

"Kontribusi penjualan di luar negeri terhadap total penjualan grup masih kecil. Tahun lalu masih 10%. Lewat penambahan perwakilan, kami harap kontribusi bisa lebih besar," kata Phillips.

Potensi pasar produk-produk Barclay Products di luar Indonesia, menurutnya, cukup besar. Ambil contoh Filipina, negara di Asia Tenggara dengan penduduk hampir 100 juta.

Tanpa menyebut angka, Phillips menargetkan kontribusi konsumen dan kosmetik terhadap total pendapatan grup pada tahun ini lebih besar dari 2012. Pada tahun lalu, pendapatan dari divisi konsumen dan domestik menyumbang 25% hingga 30% terhadap total bisnis Grup Tempo.

Perusahaan yang berdiri sejak 1953 itu memiliki tiga divisi bisnis, yakni farmasi, pemasaran dan distribusi, serta konsumen dan kosmetik. "Target tahun ini tidak mau sebutkan. Yang pasti lebih besar dari 2012," ujar Phillips.(*)

------------------------------------------------------------------------
.

Senin, 04 Maret 2013

Naiknya Biaya Produksi Tekan Margin Kotor PT Nippon Indosari

PT Nippon Indosari Corpindo, memproyeksikan margin kotor tahun ini sebesar 45%, turun 172 basis poin dibanding margin kotor 2012 sebesar 46,72%, menurut direksi perseroan. Penurunan margin terjadi akibat peningkatan biaya produksi tahun ini.

Menurut Direktur Nippon Indosari Alex Chin, "Kenaikan sejumlah unsur seperti tarif listrik dan upah buruh menjadikan biaya produksi meningkat, namun tidak signifikan.  Dia memberi contoh, tarif tenaga listrik (TTL) untuk industri yang naik sebesar 15% pada awal kuartal I 2013 ikut mempengaruhi biaya produksi.
 
Namun demikian, kenaikan TTL tidak berpengaruh banyak terhadap biaya produksi perseroan, karena menurutnya, tarif listrik hanya berkontribusi 4%-5% terhadap biaya produksi keseluruhan.

Biaya produksi yang dinilai stabil juga menjadikan Nippon Indosari tidak berencana menaikkan harga jual. "Meski harga jual tidak naik, kami optimistis penjualan tahun ini tetap naik, karena didorong pertumbuhan volume penjualan," ujar Chin.

Tahun lalu perseroan mampu mempertahankan margin kotor sebesar 46% yang ditopang kenaikan harga jual. Kenaikan harga jual tahun lalu diberlakukan untuk produk roti manis dan roti tawar.

Proyeksi penurunan margin kotor Nippon Indosari di 2013 seiring dengan estimasi yang dilakukan oleh asosiasi industri. Asosiasi Pengusaha bakery Indonesia (APEBI) memperkirakan margin kotor rata-rata produsen roti tertekan hingga 3%-4% pada tahun ini dibanding tahun lalu.

Menurut Ketua Umum APEBI, Chris Hardijaya, penurunan margin terjadi seiring peningkatan biaya produksi, sebagai dampak kenaikan sejumlah unsur biaya produksi. Biaya produksi roti pada tahun ini rata-rata bisa naik hingga 22%.
Rata-rata produsen roti akan menaikkan harga jual sebesar 10%-15% pada tahun ini untuk menghindari kerugian margin yang lebih besar. "Sebenarnya kalau ingin menjaga margin, kenaikan harga jual harus 20%. Tapi jika dinaikkan sebesar itu, bisa-bisa konsumen mengurangi konsumsi dan volume penjualan turun," kata Chris.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi Siswaja Lukman  mengatakan harga jual produk makanan dan minuman tahun ini diperkirakan naik 10%-11%. "Langkah menaikkan harga dilakukan produsen untuk bisa menjaga margin kotor," kata Adhi.
Sementara PT Indofood Sukses Makmur juga mencatat penurunan margin kotor sebesar 72 basis poin menjadi 27,65% hingga kuartal III 2012 dibanding periode yang sama 2011 sebesar 28,37%. Penurunan margin itu antara lain disebabkan penurunan harga jual rata-rata hasil perkebunan, serta kenaikan biaya produksi di divisi agribisnis.

"Meski margin kotor turun, Indofood tetap mencatat kenaikan laba kotor hingga kuartal III 2012 sebesar 7,5% secara tahunan menjadi Rp 10,3 triliun," kata Anthoni Salim, Direktur Utama Indofood Sukses Makmur. (dbs)

-------------------------------------------------------------------------

Sabtu, 02 Maret 2013

Sari Roti Akan Bangun Tiga Pabrik di Jawa dan Kalimantan

PT Nippon Indosari Corporindo produsen Sari Roti berencana membangun 3 pabrik baru tahun ini. Pembangunan satu pabrik diperkirakan akan menghabiskan dana Rp 100-200 miliar. Untuk lokasi, Indosari memilih mendirikan 2 pabrik di Jawa dan 1 pabrik di Kalimantan.
 
Presiden Director Indosari, Alex Chin mengaku telah menyiapkan dana atau anggaran capex 2013 Rp 400 miliar tahun ini untuk aksi ekspansinya. "Capex untuk tiga pabrik itu kira Rp300-400 miliar di 2013," ucap Chin dalam konfrensi pers di Jakarta, Kamis (28/2).

Chin mengatakan anggaran capex tahun ini lebih besar dari tahun lalu karena kenaikan harga tanah di kawasan industri. Produsen sari roti ini mengambil pendanaan capex 2013 dari dana internal dan pinjaman perbankan dari BCA.



Ditempat yang sama, Public Relations Sari Roti, Stephen Orlando mengatakan, "Lahannya sudah dapat, tapi kita belum umumkan. Investasi untuk satu pabrik diperkirakan membutuhkan hingga Rp200 miliar. Rencananya satu lini untuk produksi roti tawar dan satu lini untuk roti manis.

Dengan dibangunnya pabrik tersebut, menurutnya, diharapkan akan menunjang kapasitas produksi. Sebab, kebiasaan mengonsumsi roti terus meningkat dari tahun ke tahun. "Dengan bangun tiga pabrik, mesin lini untuk produksi menjadi 30 mesin. Sebelumnya, kami hanya memiliki 24 mesin," tegas Stephen.

Untuk proses pembangunanya, Stephen memastikan akan segara dibangun di semester satu tahun ini, karena ditargetkan akan beroperasi tahun ini juga. 

Sekedar informasi, dalam membangun tiga pabrik baru tersebut, perseroan mendapat pendanaan dari fasilitas kredit investasi dari PT Bank Central Asia Tbk senilai Rp220 miliar.

"Fasilitas kredit itu diperoleh pada 11 Desember 2012," kata Sekretaris Perusahaan Nippon Indosari Corpindo, Sri Mulyana, dalam penjelasan tertulis kepada PT Bursa Efek Indonesia, akhir tahun lalu.

Sri menjelaskan, fasilitas kredit itu berjangka waktu enam tahun sejak 11 Desember 2012. Namun, tidak dijelaskan, di mana lokasi tiga pabrik yang akan dibangun itu.
-------------------------------------------------------------------------

Selasa, 26 Februari 2013

Ekspansi Hero Supermarket Kian Agresif

Situasi ekonomi Indonesia yang kondusif membuat pertumbuhan industri ritel terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Pertumbuhan ini ditopang oleh pengembangan usaha yang kian agresif sejalan dengan upaya perbaikan jalur distribusi serta kemampuan pemerintah untuk menjaga laju inflasi, memelihara stabilitas politik dan kondisi keamanan nasional.

Melihat peluang ini, salah satu perusahaan jaringan ritel terbesar, PT Hero Supermarket terus bergerak dalam melakukan ekspansi dengan melakukan pembukaan cabang baru. Pada 2012 lalu HERO telah membuka 97 toko baru, termasuk tujuh gerai Giant Hypermarket.

Dengan pembukaan gerai pada 2012, praktis per 31 Desember 2012 HERO telah mengoperasikan 46 gerai Giant Hypermarket, 142 gerai Hero dan Giant supermarket, 266 gerai kesehatan dan kecantikan Guardian dan 151 gerai Starmart convenience store. Seiring peningkatan ekspansi, perseroan pada sepanjang 2012 berhasil membukukan laba bersih senilai Rp303 miliar atau tumbuh 10,7% dibandingkan periode yang sama 2011 sebesar Rp273,5 miliar.

Peningkatan laba ini seiring fokusnya perseroan untuk meningkatkan produktivitas terhadap penjualan, di mana penjualan bersih naik sebesar 17,4% atau mencapai Rp 10,51 triliun.

Head of Research eTrading Securities, Bertrand Raynaldi, dalam risetnya di Jakarta, Selasa (26/2), mengungkapkan raihan laba bersih perseroan yang yang bertumbuh 10,7% merupakan hal yang positif. “Pertumbuhan laba bersih perseroan pada 2012 ditopang oleh pertumbuhan penjualan,” katanya.

Ia menambahkan bertumbuhnya penjualan merupakan hasil positif dari ekspansi gerai yang dilakukan HERO. “Di tengah persaingan dalam industri retail dan pertumbuhan pendapatan per kapita Indonesia yang menjadi basis pasar industri retail, strategi efisiensi dan penetrasi pasar dapat menjadi pilihan,” terangnya.
Dari langkah tersebut, perseroan ke depan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas yang pada gilirannya berdampak signifikan terhadap pertumbuhan kinerja keuangannya.(dbs)

Jumat, 15 Februari 2013

Nestle Klaim Kuasai Market Share 80% Produk Sereal

Potensi pasar sereal sebagai bahan makanan sarapan bagi anak di dunia cukup tinggi. Hingga kini, produk sereal Nestle bisa menguasai pasar Asia dan Indonesia.
 
Hal ini diutarakan Jose Oscar Yu, Country Business Manager Nestle Breakfast Cereal saat mengkampanyekan Pekan Sarapan Nasional (PESAN) di gerai Carrefour Medan Fair, Medan, Minggu (17/2/2013).

"Nestle memiliki market yang cukup besar di Asia termasuk di Indonesia. Saingan kami untuk makanan sarapan ini hanya hadir pada lontong sayur, bubur ayam, dan nasi gurih," kata Jose Oscar Yu.

Kendati demikian, untuk makanan sarapan sereal ini Nestle menguasai market share hingga 80 persen. Namun, pangsa pasar yang besar ini belum membuat Nestle mempertimbangkan membuat pabrik pengolahan makanan sereal di Indonesia.

Produk ini masih didatangkan dari pabriknya di Filipina. Nestle memiliki pabrik pengemasan lokal di Indonesia yang berada di Cikarang, Jakarta, dan Surabaya.
Beberapa tahun ke depan Nestle bakal tetap akan mengimpor produk serealnya dari Filipina hingga jika perusahaan bisa membukukan penjualan yang baik, baru pihaknya bakal membuat pabrik pengolahan di Indonesia.

"Sekarang ini kami sudah menjadi market leader untuk makanan breakfast sereal, tapi kami belum bisa memproduksi di Indonesia. Namun demikian, jika mau membuat pabrik di Indonesia setidaknya bisa membukukan pertumbuhan penjualan minimal 20 persen per tahun," kata Jose.

Pihak Nestle telah mengkampanyekan pentingnya sarapan pagi di Indonesia sejak tahun 2008. Sementara itu, kampanye sarapan Pekan Sarapan Nasional atau yang disingkat dengan PESAN yang berlansung mulai 14-20 Februari untuk memberikan pengetahuan bagi masyarakat bahwa sarapan itu penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Ketua DPD Pergizian Pangan Sumatera Utara Dr Zulhaida MKes mengatakan, terdapat perbedaan signifikan antara anak yang sarapan pagi sebelum berangkat sekolah dengan yang tidak sarapan.

"Berdasarkan penelitian, jika anak tidak sarapan bisa berpengaruh terhadap penurunan indeks prestasi dan IQ point," katanya. 


PESAN dideklarasikan empat organisasi profesi ahli gizi dan pangan Indonesia yakni Pergizian Pangan, Persagi, PDGMI dan PDGKI pada 8 Januari 2013 lalu.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Rabu, 13 Februari 2013

2013: RNI Targetkan 250 Gerai Retail

PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) merambah bisnis ritel dengan membuka jaringan pada tahun 2013 sebanyak 150 gerai Rajawali Mart dan 100 gerai Waroeng Nusantara.

"Untuk tahap awal jaringan gerai RNI akan dibangun di Jawa, Bali dan Lombok. Sementara hingga saat ini sudah terdapat 15 gerai Rajawali Mart di Denpasar, Bali dan satu gerai Waroeng Rajawali di Jakarta," kata Direktur Utama RNI Ismet Hasan Putro, di sela peresmian gerai Waroeng Rajawali, di halaman gedung RNI.

Menurut Ismet, ekspansi usaha dalam bentuk pengembangan jaringan ritel tersebut merupakan komitmen perusahaan untuk berbisnis hingga ke hilir serta lebih dekat dengan pelanggan RNI.

Rajawali Mart merupakan gerai yang seperti toko kelontong pada umumnya, sedangkan Waroeng Rajawali memiliki keistimewaan karena menjual produk-produk unggulan yang dimiliki oleh BUMN.

"Waroeng Rajawali memposisikan diri sebagai galeri produk-produk hilir BUMN seperti gula, teh, minyak goreng, obat-obatan, kopi, dan lainnya," ujar Ismet.

Ia menjelaskanan kehadiran Rajawali Mart dan Waroeng Rajawali ini tidak akan mematikan toko-toko kecil, namun memberi manfaat karena mengusung program kemitraan dengan warung-warung di sekitarnya.

"Toko kecil akan diberikan produk-produk RNI Grup dengan harga lebih kompetitive dan pembinaan pengelolaan toko berupa pelatihan, pengelolaan usaha kelontong, dan penyaluran pinjaman lunak untuk modal kerja," kata Ismet.

Menurutnya, pengelolaan gerai Rajawali Mart dan Waroeng Rajawali tersebut dilakukan oleh PT Rajawali Nusindo, anak usaha RNI yang bergerak di bidang distribusi dan perdagangan.

Untuk memperluas jaringan gerai tersebut ditambahkan Ismet, RNI akan menggandeng sejumlah BUMN, seperti Bank BRI terkait pembiayaan pengembangan jaringan.

"Kami juga bekerjasama dengan PT Kereta Api Indonesia, di mana gerai tersebut dapat didirikan di setidaknya 48 stasiun kereta api," ujar Ismet.

Selanjutnya RNI juga membuka peluang untuk bekerjasama dengan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), pengelola bandara PT Angkasa Pura, termasuk hotel-hotel milik BUMN.

Meski demikian Ismet tidak merinci lebih lanjut berapa investasi yang disiapkan untuk mengembangkan jaringan gerai Rajawali sampai dengan akhir tahun 2013.

Ia hanya menjelaskan, sebagai bisnis baru yang digeluti RNI diharapkan selama tahun 2013 gerai Rajawali ini diharapkan dapat meraih pendapatan sebesar Rp 5 miliar-Rp10 miliar. (dbs)

Kamis, 31 Januari 2013

Indofood Tawarkan Dana Riset Bidang Pangan

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood) kembali meluncurkan program bantuan dana penelitian bagi peneliti, mahasiswa dan dosen di bidang pangan lewat "Indofood Riset Nugraha" (IRN) periode 2013-2014.

"Kami ingin terus menumbuhkan dan membudayakan antusiasme riset di bidang pangan dari berbagai disiplin ilmu. Itu sebagai wujud kepedulian kami untuk kemajuan pangan di Indonesia," ujar Direktur Indofood Franciscus Welirang di Jakarta, Kamis. 

Ketahanan pangan nasional, kata dia, menjadi persoalan penting yang membutuhkan perhatian bersama baik pemerintah, kalangan industri dan masyarakat. "14 tahun ketahanan pangan semakin kompleks," katanya. 

Franciscus yang akrab disapa Franky itu menambahkan apa yang dilakukan Indofood adalah untuk menghargai para peneliti. Selama ini, sambung dia, para peneliti kurang dihargai pemerintah.

Tema IRN untuk periode kali ini adalah "Penganekaragaman Pangan Melalui Pemanfaatan Aneka Tepung Komposit Dengan Memaksimalkan Komoditas Lokal". Sedangkan topik penelitian IRN dibagi dalam empat bidang penelitian yakni bidang teknologi pangan dan gizi masyarakat, bidang sosial, ekonomi, budaya, bidang budidaya pertanian dan bidang peternakan.
 

Adapun 10 komoditi yang menjadi fokus penelitian adalah gandum, jagung, ubi jalar, pisang, singkong, kelapa sawit, garut, kentang, kedelai, dan susu beserta turunannya.

Ketua Program IRN Suaimi Suriady mengatakan program tersebut telah berlangsung sejak tujuh tahun terakhir dan penyesuaian. 

"Kami akan berupaya menjadikan program ini tidak sekadar progam bantuan, tapi hasil penelitiannya mampu dikembangkan dan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan ketahan dan penganekaragaman pangan bangsa Indonesia," ujar Suaimi. 

Bagi mahasiswa dan peneliti yang tertarik mengikuti IRN dapat mengirimkan proposal penelitian yang ditujukan kepada panitian IRN paling lambat 16 April 2013. 

Persyaratan lain adalah proposal penelitian harus dalam rangka menyelesaikan tugas akhir, melampirkan transkrip nilai terakhir, jangka waktu penelitian satu tahun, menyertakan riwayat hidup lengkap mahasiswa dan dosen pembimbing serta penelitian dilakukan di Indonesia.

------------------------------------------------------------------------

Kamis, 17 Januari 2013

Incar Perusahaan Consumer Goods Saratoga Siapkan US$ 480 Juta

PT Saratoga Investama Sedaya, perusahaan private-equity, berencana menginvestasikan dana sekitar US$ 480 juta terutama di perusahaan consumer goods, menjelang penawaran perdana saham (IPO) perseroan yang direncanakan tahun ini. 
 
Pendiri Saratoga, Edwin Soeryadjaya menyatakan langkah tersebut dilakukan memanfaatkan tingginya tingkat konsumsi pasar Indonesia, di tengah perlambatan ekonomi global yang menurunkan harga komoditas seperti batubara dan minyak sawit. 

"Saya ingin menemukan beberapa perusahaan produk konsumen," kata Edwin seperti dikutip Bloomberg

Namun, dia belum menjelaskan nama-nama perusahaan konsumen yang sedang diincar. "Mudah-mudahan bulan depan kami sudah memiliki satu atau dua (pembelian perusahaan) yang bisa diumumkan," tuturnya. Ia menjelaskan Saratoga akan bekerjasama dengan investor lain karena kesepakatan pembelian perusahaan bisa melampaui US$ 90 juta dalam satu proyek.

Saratoga didirikan oleh Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno pada 1998. Saat ini, melalui Asia Fund III, Saratoga mengelola dana sekitar US$ 600 juta. Sebesar US$ 120 juta dari dana yang dikelola telah diinvestasikan.

Peluang pertumbuhan industri consumer goods di Indonesia prospektif di 2013 seiring tingginya tingkat konsumsi pasar. Belanja konsumen di Indonesia mengambil porsi 63% dari keseluruhan perekonomian tahun lalu, menurut data pemerintah. Tingginya tingkat konsumsi di Indonesia juga ditopang besarnya jumlah konsumen kelas menengah.
 
Saat ini Indonesia merupakan ekonomi terbesar ke-16 di dunia yang ditopang 45 juta jiwa konsumen kelas menengah, menurut laporan The McKinsey Global Institute. Di 2020, konsumen kelas menengah diperkirakan mencapai 85 juta jiwa dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional 5%-6% per tahun.

Terdapat potensi peningkatan konsumen kelas menengah di Indonesia dari saat ini hingga 2020 sekitar 40 juta jiwa, atau 15% dari proyeksi total penduduk Indonesia di tahun itu sebesar 265 juta jiwa. Konsumen kelas menengah oleh McKinsey didefinisikan sebagai individual yang memiliki pendapatan US$ 3.600 per tahun.

Adhi Siswaja Lukman, Ketua Umum Gapmmi, menilai industri barang konsumsi terutama makanan dan minuman merupakan salah satu sektor yang tumbuh stabil dalam lima tahun terakhir. Industri makanan dan minuman juga memiliki margin kotor yang cukup tinggi sekitar 30%-40%. "Untuk menjaga margin kotor, produsen menaikkan harga jual mulai kuartal I 2012," ucapnya.

Namun, banyaknya komponen biaya produksi industri barang konsumsi yang naik menjadi tantangan di tahun ini. Mulai dari upah buruh yang meningkat rata-rata 40%, kenaikan harga gas, serta rencana peningkatan tarif dasar listrik. 

Menghadapi hal itu, sejumlah asosiasi industri di sektor barang konsumsi memproyeksikan rata-rata biaya produksi perusahaan consumer bisa naik 3%-10% di 2013 dibanding tahun sebelumnya.(dbs)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...