WELCOME TO CONSUMEDIA INDONESIA BLOGSITE


Selasa, 19 Agustus 2014

Seafood, Good Food

Seafood tergolong dalam bahan makanan berupa hewan laut dan umumnya termasuk dalam jenis ikan, telur ikan, krustasea, moluska, hingga hewan laut berduri (echinodermata). Hewan laut cenderung lebih lezat dijadikan hidangan dibandingkan dengan hewan air tawar. Beberapa seafood disajikan mentah maupun matang.

Tiram (oyster)

Salah satu hidangan laut golongan kerang-kerangan ini termasuk jenis makanan yang sering disuguhkan di restoran kelas atas maupun hotel bintang lima. Tiram umumnya dikonsumsi mentah bersama air jeruk lemon, wine vinegar dan mignonette, namun dapat pula dimasak.

Tiram yang sering dikonsumsi terdiri dari beberapa jenis seperti pacific oyster, sydney rock oyster, nambucca rock oyster dan angassi oyster. Selain dijual dalam kondisi segar, tiram juga dijual dalam bentuk beku. Tiram dapat dikonsumsi langsung maupun dimatangkan. Karena rasa dan aroma yang khas, tiram juga diolah menjadi saus tiram yang sering digunakan sebagai bumbu pada masakan cina dan beberapa negara Asia lainnya.

Kerang Hijau

Kerang yang satu ini termasuk yang paling sering dikonsumsi. Kerang hijau dikenal dengan nama new zealand green-lipped mussel karena berasal dari Selandia Baru. Ada pula tipe black mussel yang berwarna hitaam kebiruan. Kerang ini termasuk dalam hidangan nasional di Belgia dan mudah pula dijumpai pada hidangan Perancis dan Timur Tengah. Namun perlu hati-hati jika memilihnya, karena hewan ini mudah menyerap racun maupun logam berat

Udang
Salah satu seafood yang termasuk sering diolah menjadi beragam hidangan, seperti tempura, tom yum goong, shrimp cocktail, dan masih banyak lagi. Udang disebut juga shrimp jika ukurannya kecil sedangkan prawn untuk udang berukuran besar. Prawn memiliki ukuran kaki dan dua buah antenna yang berukuran 2,5 – 3 cm. Untuk menghilangkan bau udang biasanya menyisihkan bagian kulit, kepala dan urat di punggung udang. Memasak udang cukup 2-3 menit dan jika lebih dari itu biasanya udang menjadi alot.

Cumi-cumi

Salah satu seafood berjenis hewan tanpa tulang belakang atau moluska ini terkenal dengan olahannya berupa calamari ring. Biasanya cumi-cumi diolah dengan cara ditumis, dibakar dan digoreng, serta tidak dimasak dalam waktu lama karena cumi-cumi mudah alot. Tak hanya dagingnya, bagian tinta pun dimanfaatkan untuk memberikan warna hitam pada pasta, risotto, dan bahkan beberapa restoran menggunakannya untuk mewarnai roti pizza.

Rajungan

Hewan laut berkulit keras atau krustasea ini menjadi salah satu bahan makanan favorit di restoran-restoran seafood. Rajungan masih satu keluarga dengan kepiting. Perbedaannya, habitat rajungan berada di laut sedangkan kepiting di air tawar seperti rawa. 


Bentuk kaki rajungan pipih dan lebih panjang dibandingkan kepiting. Rajungan sering disebut juga blue manna crab karena warna kulitnya yang biru. Hewan laut ini umumnya ditemukan saat pasang surut di wilayah Samudera Hindia, Samudera Pasifik, Timur Tengah sampai pantai Laut Mediterania.

Ikan Buntal


Ikan ini lazim dikonsumsi di Jepang, dikenal dengan nama fugu. Rupanya mengonsumsi ikan ini berisiko meninggal dunia karena mengandung racun tetrodotoxin. Hampir seluruh tubuh ikan ini beracun dan umumnya disajikan menjadi sashimi. Tidak sembarang orang boleh mengolah dan menyajikan ikan buntal. 


Fugu hiki adalah pisau khusus untuk memotong ikan buntal. Sejak 1985 pemerintah Jepang mewajibkan memiliki sertifikat bagi juru masak yang mengolah ikan buntal dan hanya 35% pelamar yang lulus. Walaupun berisiko dikonsumsi, harga hidangan ikan buntal ternyata mahal, harga seporsinya mencapai 5 ribu yen atau sekitar 500 ribu rupiah.

Salmon


Siklus hidup ikan ini cukup unik, salmon bertelur dan menetas di perairan air tawar yang deras, bermigrasi ke lautan, lalu kembali ke air tawar untuk bereproduksi. Ikan ini hidup di wilayah Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Jenis ikan ini di antaranya atlantic salmon, masu salmon, chum salmon, dan chinook salmon atau sering disebut king salmon dengan berat lebih dari 14 kg per ekor. Salmon sering diolah menjadi sashimi dan steak.

Ikan dengan kandungan tinggi omega 3 ini juga dapat diawetkan menjadi smoked salmon dan banyak diproduksi di Norwegia, Skotlandia, Irlandia dan sekitar pantai timur Kanada.

Tuna


Salah satu jenis ikan yang paling banyak dikonsumsi manusia. Bullet tuna adalah jenis tuna paling kecil yang berukuran panjang maksimal 50 cm, sedangkan atlantic bluefin tuna adalah jenis tuna paling besar dan panjang tubuh dapat mencapai 4,6 meter serta dipercaya dapat hidup lebih dari 50 tahun. Umumnya daging tuna berwarna merah dan masyarakat Jepang sering mengolahnya menjadi sushi dan sashimi.

Lobster


Lobster hidup di karang-karang laut khususnya di perairan yang dingin. Tubuh lobster berwarna biru tua hingga kehitaman. Lobster asal Amerika dan Kanada cenderung lebih besar dari Eropa. Seafood yang satu ini termasuk bahan makanan yang cukup mahal dan biasanya disajikan di restoran-restoran kelas atas. Untuk hasil masakan yang optimal sebaiknya menggunakan lobster hidup. Cara terbaik mengolah lobster yakni membekukannya selama 1 jam hingga pingsan lalu direbus.

Teripang (sea cucumber)


Teripang adalah salah satu hewan laut yang tidak memiliki tulang belakang. Hewan lunak ini hidup tersebar di lautan, mulai dari zona pasang surut hingga laut dalam, khususnya di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Bentuk hewan yang menyerupai timun ini biasanya sering diolah dalam masakan cina. Hanya bagian kulit teripang yang dikonsumsi, sedangkan isi perut disisihkan. Teripang banyak dijual dalam bentuk segar maupun kering.

foodservicetoday

Senin, 03 Februari 2014

Unilever Siapkan Belanja Modal Rp 1,1 Triliun

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), emiten produsen barang konsumsi harian, menyiapkan belanja modal tahun ini sebesar Rp 900 miliar - Rp 1,1 triliun untuk peningkatan kapasitas produksi. Menurut direksi perseroan, anggaran belanja modal di 2014 akan didanai kas internal, pinjaman bank asing, serta pinjaman induk usaha.

"Dana belanja modal kami selalu improve. Tahun lalu Rp 1 triliun. Tahun ini belanja modal sedang kami finalisasi, kisarannya Rp 900 miliar - Rp 1,1 triliun," ujar Sancoyo Antarikso, Direktur Unilever.

Menurut dia, belanja modal tahun ini akan didanai kas internal, pinjaman bank swasta asing, serta pinjaman induk usaha. "Tapi, pendanaan pinjaman bank hanya minoritas," katanya tanpa memerinci lebih lanjut.


Berdasarkan laporan keuangan perseroan, hingga kuartal III 2013 kas Unilever mencapai Rp 520 miliar, naik signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 229 miliar. Pada periode tersebut, Unilever memperoleh pinjaman dari PT Bank Mizuho Indonesia sebesar Rp 250 miliar, JP Morgan Chase Jakarta Rp 150 miliar, dan Standard Chartered Bank Jakarta Rp 100 miliar. "Suku bunga atas pinjaman tersebut single digit," ucapnya.

Sancoyo menambahkan rata-rata nilai belanja modal perseroan dalam lima tahun terakhir cukup besar. Belanja modal Unilever sepanjang 2010-2012 mencapai Rp 4,2 triliun. Alokasi belanja modal ditujukan guna mendukung pertumbuhan kinerja keuangan perseroan.

Meski demikian, dia mengakui, sejak kuartal III 2013 permintaan barang konsumsi harian cukup tertekan oleh sejumlah faktor antara lain kenaikan tarif dasar listrik, pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM), pelemahan rupiah, serta kenaikan suku bunga kredit. Pertumbuhan penjualan Unilever hingga kuartal III 2013 cenderung melambat menjadi 13% dibanding sebelumnya 16%. "Pertumbuhan penjualan melambat, tapi masih oke," paparnya.

Penambahan kapasitas yang dilakukan sejak tahun lalu juga mendorong Unilever mencatat pendapatan sebesar Rp 23 triliun per kuartal III 2013, tumbuh 13,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 20,3 triliun. Peningkatan pendapatan ditopang oleh penjualan di pasar dalam negeri dan ekspor yang masing-masing tumbuh sebesar 10% dan 20%.

Pertumbuhan penjualan ikut menyebabkan beban pokok penjualan perseroan meningkat 13,1% menjadi Rp 11,2 triliun secara tahunan. Laba kotor perseroan tumbuh 14,5% menjadi Rp 11,8 triliun.

Meski demikian, persentase pertumbuhan beban usaha sebesar 17,2% tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan persentase pertumbuhan pendapatan 13,3%, sehingga margin usaha perseroan tertekan hingga kuartal III 2013. Margin usaha Unilever turun 23 basis poin menjadi 23,86% per kuartal III tahun lalu.

Sementara itu, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID), emiten pesaing Unilever di segmen perawatan tubuh, mencatat peningkatan margin usaha sebesar 140 basis poin menjadi 13,8% hingga kuartal III 2013. Peningkatan margin usaha tersebut antara lain terjadi seiring dengan peningkatan beban yang lebih kecil dibanding pertumbuhan pendapatan.

"Meningkatnya beban pokok penjualan sebesar 8,8% menjadi Rp 979,8 miliar yang ditopang oleh kenaikan beban tenaga kerja tidak berdampak pada pertumbuhan laba kotor perseroan sebesar 14,9% menjadi Rp 580,3 miliar. Hal itu pada akhirnya juga menyebabkan kinerja laba usaha, laba bersih, beserta margin perseroan terus tumbuh," kata Takeshi Hibi, Direktur Utama Mandom Indonesia dalam keterangan tertulis.

Hingga September 2013, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 1,56 triliun atau tumbuh 11,4% dibanding periode yang sama tahun 2012. “Peningkatan penjualan produk-produk perseroan baik di pasar domestik maupun ekspor mendorong kinerja pendapatan sepanjang periode tersebut," kata Hibi.

ift.com

Minggu, 18 Agustus 2013

Waralaba Gerai Minimarket Rajawali Ditawarkan 150 Juta, Berminat?

BUMN PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) menawarkan kerjasama waralaba minimarket rajawali. Bagi yang berminat hanya perlu menyiapkan dana Rp 150 juta dan lokasi tempat usaha.

Direktur Utama PT RNI Ismed Hasan Putro mengungkapkan beberapa pihak sudah berminat untuk membuka waralaba atas minimarket yang bernama Waroeng Rajawali. Pada bulan November tahun ini, Waroeng Rajawali siap diwaralabakan.


"Nanti November kita akan mulai waralabakan, masyarakat akan kita libatkan, mungkin bisa dipercepat jadi Oktober. Sudah 400-500 dari BUMN dan masyarakat yang memesan," kata Ismed saat peresemian Gerai Waroeng Rajawali di Hanggar, Pancoran, Jaksel, Jumat (17/8/2013).

Ismed mengungkapkan pihaknya hanya akan menyediakan produk-produk yang dijual. Peminat harus menginvestasikan uangnya sebesar Rp 150 juta dan menandatangani sebuah perjanjian yang berlaku selama 3 tahun. Lokasi diharuskan memiliki lebar minimal 10 meter dengan panjang yang tidak ditentukan.

"Kami hanya mengisi barang. Tempat dan perizinan mereka yang proses. Nanti kita setting tempatnya," katanya.

Persyaratan lain, lanjut Ismed harus tersedia tempat khusus menjual daging sapi, atau semacam lemari pendingin. Selain itu akan ada 1500 item produk yang akan dijual disatu gerai Waroeng Rajawali.

"Nanti ada 1500 item. Syaratnya juga ada ruang untuk showcase daging. Karena daging itu merupakan langkah kita membantu menstabilisasi harga," jelasnya.

Di luar waralaba, RNI berencana membuka 1500 gerai Waroeng Rajawali di seluruh Indonesia hingga bulan Juni tahun depan. Selain itu, RNI pun berencana untuk membuat Hipermarket, atau toko grosir besar minimal 1 toko di kota besar Indonesia. Dalam jangka pendek, Hipermarket akan dibuka di Hanggar Pancoran, di atas lahan seluas 3 hektar.



Senin, 04 Maret 2013

China Gencar Menggempur Pasar Batik Indonesia

Tak hanya perkakas rumah tangga, makanan dan minuman, sepeda motor saja, batik China juga kuasa menggempur pasar Indonesia.

Dua pusat penjualan garmen di Jakarta, Tanah Abang dan Mangga Dua menghadapi serbuan batik asal Negeri Tirai Bambu itu. 

Menurut catatan BPS, sepanjang 2012, impor batik dari China mencapai 1.037 ton dengan nilai US$30 juta atau sekitar Rp285 miliar. Impor terbesar adalah batik mekanik dengan jumlah 677,4 ton dengan nilai US$23,3 juta. Batik mekanik adalah batik cap yang dikerjakan dengan mesin.



Selain volumenya besar, batik asal China ini harganya jauh lebih murah dibandingkan batik lokal. Selisih harganya bisa mencapai Rp20–30 ribu per helai. Untuk batik batik cap berbahan katun, misalnya, i tanah Abang, batik China ini dijual Rp70 ribu per helai. Sementara batik sejenis buatan Pekalongan Jawa Tengah harganya Rp 100 ribu.

Menurut Mustofa, pemilik pabrik batik di Pekalongan, batik China bisa lebih murah karena bahan bakunya juga murah. Selain itu, produkitivitas pekerja di China lebih tinggi ketimbang Indonesia. Sudah begitu, boleh jadi, masuknya batik asal China itu melalui jalur ilegal. Desain yang ditawarkan batik Tiongkok pun lebih menarik.

Melihat situasi pasar batik dalam negeri, makin mengancam produsen batik cap di dalam negeri. Dengan berbekal harga murah dan motif yang menarik, batik China sekarang diperkirakan telah menguasai pangsa 25% hingga 30%. Tentu saja, ini menjadi ancaman bagi pengusaha batik di Pekalongan, Cirebon atau Solo.

Yang menyebalkan, pemerintah tampaknya tak begitu khawatir dengan serbuan batik China ini. Seorang pejabat di Kementerian Perindustrian mengatakan, produk tekstil asal China yang masuk ke Indonesia bukanlah batik beneran. “Tidak seperti batik yang diproduksi oleh para pengrajin,” katanya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
.

Sabtu, 23 Februari 2013

Meluncur Logo Baru AQUA di Usianya ke 40 Tahun

40 tahun Aqua Bersama Untuk Indonesia
Menggenapi usianya di 40 tahun, AQUA Group meluncurkan logo baru di setiap kemasan produk air minumnya. Ini dilakukan demi memberi apresiasi kepada masyarakat yang telah mempercayai keberadaan AQUA selama 40 tahun.

AQUA sebagai pelopor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), mempertegas komitmennya dalam mendukung terwujudnya keluarga Indonesia sehat untuk Esok yang Lebih Baik melalui pengenalan logo baru yang akan menemani hari-hari keluarga Indonesia di tahun-tahun mendatang.

Melalui Visi dan Misi yang dicetuskan oleh mendiang Tirto Utomo, AQUA sendiri selama 40 tahun telah menyimpan banyak cerita dibalik kesuksesan hingga diakui sebagai pemimpin pasar AMDK Indonesia. 


"Sejak berdiri pada 23 Februari 1973, AQUA telah memberikan kontribusi sosial dan ekonomi berkat dukungan seluruh masyarakat Indonesia. Kami ingin berterimakasih dan memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan kepercayaan selam 40 tahun perjalan kami,dan berharap dapat terus memberikan sumbangsi bagi bangsa," ungkap President Director AQUA Group, Charlie Cappetti saat memberikan sambutan peluncuran logo baru AQUA Kamis (21/2/2013) di Harum Manis restaurant.

Charlie juga menambahkan bahwa AQUA juga sangat berkomitmen dalam memberikan kontribusi sosial lingkungan Indonesia yang lebih baik. Dengan memberikan program pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di 16 daerah dimana AQUA beroperasi. 

Dalam kesempatan itu AQUA mengeluarkan dua logo sekaligus pada kemasan yaitu bertuliskan "40 Tahun AQUA bersama untuk Indonesia, dan Logo baru Danone AQUA". 

Tidak banyak perubahan pada logo yang ditampilkan, hanya sedikit memberi sentuhan pada gambar gunung yang lebih berwarna. Perubahan yang tidak terlalu banyak dikarenakan berdasarkan survei yang dilakukan oleh AQUA, konsumen sudah tidak mengingkan banyak perubahan pada logo disebabkan nama dan logo AQUA sudah melekat pada masyarakat. (dbs)

------------------------------------------------------------------------

Sabtu, 16 Februari 2013

Lima Hal dari Peritel Indonesia Yang Perlu Dicermati

Tingginya kebutuhan pasar dan besarnya permintaan konsumen di Indonesia, menjadikan bisnis ritel di negara kita tumbuhcukup pesat. 

Tak hanya para peritel besar seperti Carrefour dan Lotte Mart yang kini menguasai pasar Indonesia, sekarang banyak pelaku bisnis ritel lokal, sebut saja; Indomart, Alfamart, Yogya Toserba, dsb, mulai bermunculan meramaikan kompetisi di sektor itu.

Tentu kondisi ini cukup mempersulit para pelaku usaha ritel domestik. Apalagi munculnya kebijakan pemerintah mengenai kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dan upah minimum karyawan turut meningkatkan biaya operasional produksi setiap bulannya. Sehingga tidak heran bila sekarang ini banyak pengusaha ritel yang lebih memilih tidak menargetkan untuk membuka gerai baru memasuki awal tahun 2013 ini.

Bolehlah, secara kuantitas gerai Indonesia sudah sangat menjamur hingga ke daerah terpencil, tetapi beberapa pengamat mengatakan terdapat beberapa kelemahan yang perlu dicermati dalam hal menjajakan produk-produk milik para prinsipal. Berikut hal-hal yang perlu dicermati dari para peritel yang dapat menghambat kinerja produk-produk consumer goods.

Cenderung membidik semua kelas
Sebagian besar peritel membesarkan usahanya seperti menjalankan sebuah warung kelontong. Mereka hanya berpikir untuk mencari produk sebanyak-banyaknya dan menawarkannya kepada masyarakat luas. Padahal, sebagai pelaku usaha ritel perlu menentukan prioritas pelanggan yang hendak dibidik. Hal ini penting agar kedepannya perusahaan tersebut bisa secara spesifik menentukan jenis, jumlah, dan harga produk, yang sesuai dengan segmentasi pasar yang akan disasar.

Mengesampingkan pemilihan brand
Dalam menjalankan sebuah usaha, pemilihan brand atau nama perusahaan tentunya memegang peranan penting untuk meyakinkan calon konsumen. Namun sayangnya, sampai hari ini para pelaku usaha ritel tampaknya masih menggunakan nama tokonya yang ala kadarnya, seperti misalnya Sadiman Swalayan, Warung Serba Ada, Kurma Toserba, dan lain sebagainya. 

Tentu hal ini perlu upaya yang lebih kreatif dalam pemberian nama gerai, karena pada dasarnya brand yang digunakan menggambarkan identitas bisnis dan kedepannya akan disesuaikan dengan logo perusahaan, konsep toko, desain interior, serta menjadi aset yang bernilai tinggi, bukan hanya alat pembeda.

Terjebak perang harga
Ini yang krusial, banyak peritel yang mengunggulkan harga murah untuk menarik minat konsumen. Meskipun cara ini cukup ampuh, namun bila ada kompetitor lain yang menawarkan harga lebih murah maka tidak menutup kemungkinan bila konsumen akan pindah ke toko pesaing. 

Mengingat sekarang ini konsumen sudah cukup cerdas, tidak hanya harga murah saja yang mereka incar namun juga kualitas produk dan pelayanan yang diberikan para pelaku bisnis retail.

Kurang kreatif untuk menjemput konsumen
Meskipun konsep awal bisnis ritel berupa toko konvensional, namun harusnya tidak boleh tinggal diam dan menunggu para pelanggan datang. Menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat, tentunya harus lebih kreatif untuk menjemput calon konsumen. 

Salah satunya saja dengan membuat website ritel online yang siap memberikan layanan delivery order untuk memanjakan para konsumen. Konsep seperti ini sekarang mulai dicari kalangan masyarakat yang tinggal di beberapa kota besar.

Lemah di manajemen
Terkadang tak hanya masalah pemasaran saja yang membuat sebuah perusahaan ritel gulung tikar. Lemahnya kontrol manajemen juga menjadi salah satu permasalahan yang sering dihadapi para pelaku usaha. Karena itu harusnya peritel lebih jeli dalam memperhitungkan persediaan barang, mendata semua barang dengan baik dan menggunakan aplikasi penunjang untuk mengontrol seluruh arus penjualan.

Mengingat persaingan bisnis ritel di tahun 2013 semakin ketat, tidak ada salahnya bila memperhatikan lima hal di atas untuk menjaga eksistensi produk-produk kita.(dbs)

Senin, 11 Februari 2013

Semaraknya Bisnis Ritel di Indonesia 2013

Sebagai negeri terbesar ke 4 dunia, Indonesia telah menjadi pasar yang diincar oleh pebisnis ritel lokal dan asing. Bisnis ritel selalu tampak seksi, terutama di kota besar seperti di Jakarta. Hampir di setiap sudut kota Jakarta dapat ditemui beragam gerai ritel mulai dari minimarket, supermarket, swalayan hingga hypermarket. 

Makin semaraknya ritel membuat bisnis ini mengalami perubahan. Tak lagi sekadar tempat belanja, tapi tempat hiburan.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Pudjianto, daya beli masyarakat makin menguat, ditandai dengan meningkatnya income per capitayang mencapai US$ 3.540 US per tahun, menjadi peluang yang besar untuk sasaran paraperitel. 

Dengan jumlah penduduk 257 juta jiwa dengan 65% adalah anak muda usia produktif, menjadikan Indonesia sebagai pasar yang amat menarik,” jelasnya. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,4%pada triwulan II-2012. Pasar ritel Indonesia diperkirakan akan makin atraktif.

Pada umumnya bisnis ritel adalah menjual barang secara eceran pada berbagai tipe gerai seperti kios, pasar, departemen store, atau butik yang biasanya si pembeli secara langsung mempergunakan barang tersebut. Menurut APRINDO, bisnis ritel di Indonesia dibedakan menjadi dua kategori yakni ritel tradisional dan ritel modern.

Format ritel ini muncul dan berkembang seiring dengan perkembangan perekonomian, teknologi, gaya hidup masyarakat, serta faktor kenyamanan seseorang dalam berbelanja.

Pudjianto mengatakan, “Pelaku bisnis ritel tradisional masih banyak bila dibandingkan dengan ritel modern, jika dihitung 1:100. Pelaku bisnis ritel tradisional memang masih banyak, tetapi jika tidak dibenahi dan didukung, tak mustahil ritel tradisional akan tergerus oleh ritel modern”.

Saat ini bermunculan jenis ritelermodern di Indonesia, yakni meliputi pasar modern, pasar swalayan, department store, boutique, factory outlet, specialty store, trade center dan mall, supermall, dan plaza. Format ritel modern ini akan terus berkembang mengikuti perekonomian, teknologi, dan gaya hidup masyarakat.

Pada 1990, ritel modern ternama ada di Jepang,yakni Sogo menjadi yang pertama masuk ke pasar Indonesia. Bisnis ritel di Indonesia pun makin berkembang setelah pada tahun 1998 pemerintah mengeluarkan undang-undang yang membolehkan investor asing untuk memiliki perusahaan ritel di Indonesia.

Sekarang di Indonesia dikenal tiga kategori format bisnis ritel, yakni hypermarket, supermarket, dan minimarket/convenience store.

Didukung oleh tingginya arus urbanisasi, danmeningkatnya kaum kelas menengah dan perubahan gaya hidup, modern ritel di Indonesia diperkirakan akan berkembang dengan cepat.

Pudjianto memperkirakan tahun 2012 ini ritel modern berkembang hingga 11-12%. “Untuk tahun 2013 saya belum bisa perkirakan, mungkin tidak jauh dari angka itu, karena banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk tahun depan seperti kebijakan pemerintah, isu kenaikan TDL (tarif dasar listrik –red), UMR (upah minimum regional –red) yang akan naik 30%-40%, dan lainnya,” jelas Pudjianto.

|  next page : Perkembangan Baru Bisnis Ritel Modern di Indonesia  |

Perkembangan Baru Bisnis Ritel Modern di Indonesia

Diperoleh informasi dari website Data Consult (Business Research Studies Report), dalam periode lima tahun terakhir (2007-2011) jumlah gerai ritel modern di Indonesia mengalami pertumbuhan hingga 17,57% per tahun. Padahal tahun 2007, jumlah gerai hanya 10.365 buah dan pada tahun 2011 jumlah gerai sudah mencapai 18.152 buah yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia. 

Selain itu, diketahui bahwa jumlah gerai Hypermarket naik lebih dari 50% yakni dari hanya 99 gerai menjadi 154 gerai (2007-2011).

Berbeda dengan gerai hypermarket, pertumbuhan gerai supermarket cenderung menurun, yakni pada tahun 2007 tercatat 1.377 gerai turun menjadi sekitar 1.230 gerai (2011). Penurunan tersebut disebabkan beberapa supermarket terpaksa tutup karena kalah bersaing dengan minimarket. Sementara sebagian gerai supermarket diubah menjadi gerai hypermarket.



Kenaikan jumlah gerai terutama dipicu oleh pertumbuhan gerai minimarket, dengan pemain utama Alfamart dan Indomaret. Jika pada 2007 total gerai minimarket hanya 8.889 maka pada 2010 melonjak pesat hingga mencapai sekitar 15.538 buah. 

Dua pemain utama di bisnis minimarket ini sangat cepat pertambahan dan penyebaran outletnya, baik melalui pengelolaan sendiri maupun melalui sistem waralaba (franchise). “Perkembangan gerai minimarket memang sangat cepat. Jumlah gerai Alfamart dan Indomaret saja saat ini sudah mencapai 13.000 gerai, belum terhitung gerai minimarket lainnya,” tutur Pudjianto.

Beberapa tahun belakangan ini muncul fenomena convenience store. Meskipun di Indonesia belum ada peraturan mengenai pendirian convenience store, tetapi menurut lembaga riset Nielsen Indonesia yang dikutip dari situs Berita Bisnis, jumlah total convenience store di Indonesia dua tahun silam (toko ritel yang fokus menjual produk fast moving non sembako dan memiliki konsep gerai seperti lokasi hangout) minimal telah mencapai 450 gerai.

Bisnis ritel sebenarnya adalah usaha dengan tingkat keuntungan yang tidak terlalu tinggi, “Net income bisnis ritel itu hanya 1,5%-2%, tetapi bisnis ini memiliki tingkat likuiditas yang tinggi, karena penjualan ke konsumen dilakukan secara tunai, sementara pembayaran ke pemasok umumnya dapat dilakukan secara bertahap,” jelas Pudjianto.

Pilihan Konsumen
Hingga kini ritel tradisional masih menguasai pasar sekitar 70%, hal ini menunjukkan peluang bisnis ritel modern masih cukup menjanjikan. Selalu akan muncul dan berdiri gerai baru ritel di seluruh Indonesia, karena para pengusaha ritel makin gencar melebarkan jaringannya hingga ke berbagai daerah.

Dengan membaiknya perekonomian Indonesia, makin membaik pula tingkat daya beli dan konsumsi masyarakat Indonesia, dan hal ini juga akan mengubah gaya hidup masyarakat. “Masyarakat menginginkan tempat belanja yang lebih nyaman, aman, bersih dengan produk yang lebih berkualitas. Sangat memungkinkan ritel tradisional akan tergerus dengan keberadaan ritel modern jika tidak ada perubahaan yang dilakukan terhadap ritel tradisional,” jelas Pudjianto.

Sedangkan kriteria produk pangan yang dipilih konsumen, menurut Pudjianto yang juga menjabat sebagai Vice President Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk., “Konsumen tidak hanya mencari produk yang berkualitas, tetapi juga yang bergizi, dapat bermanfaat untuk kesehatan tubuh, karena itu, kami sebagai pengusaha retail juga harus benar-benar menyeleksi barang yang masuk, harus teliti terhadap produsen. Tidak hanya enak, melainkan aman dan bergizi,” jelas Pudjianto. (dbs) 

|  previous  : Semarak Bisnis Ritel di Indonesia 2013  |

Jumat, 08 Februari 2013

Era Kebangkitan Kopi Indonesia

Walaupun saya bukan peminum dan pecinta kopi sejati, tetapi ketika mendengar info terbaru bahwa Indonesia sudah menjadi negara ketiga terbesar penghasil kopi di dunia, membuat saya bangga setengah mati. Indonesia yang tadinya berada diposisi empat, kini menempati urutan tiga menyalip Kolombia. Dimana urutan pertama masih dipegang Brazil dan disusul oleh Vietnam.

Peningkatan produksi tersebut, tentunya dipicu akan besarnya permintaan kopi Indonesia baik di dalam ataupun di luar negeri. Tetapi, apakah dengan banyaknya produksi berarti konsumsi kopi masyarakat Indonesia pun meningkat? Sayangnya tidak, “Konsumsi kopi orang Indonesia hanyalah 0,900 Kg per kapita, sedangkan negara Skandinavia bisa mencapai 12 kg per kapita, sedangkan Italia, Denmark, Norwegia dan Islandia bisa mencapai 10 Kg”, ungkap ibu Tuti Mochtar, Direktur PT.Santino.

Walaupun kebiasaan ngopi sudah dilakukan sejak dulu, namun habit menikmati kopi single origin (kopi premium) belum terlalu besar dan tidak menjadi budaya kita. “Mungkin karena dari dulu kita sudah terbiasa mencicipi kopi yang tidak enak, sedangkan kualitas terbaik dikirim oleh penjajah ke negara mereka”, ungkap Tuti.

Seiring perkembangannya, kecintaan masyarakat Indonesia akan kopi Indonesia (khususnya single origin) mulai meningkat. Tidak bisa kita pungkiri bahwa perkembangan tersebut naik berawal dari munculnya coffee shop asal luar negeri ke pasar ke Indonesia. Kemunculan coffee shop luar negeri tersebut menciptakan gaya hidup baru dan memancing pertumbuhan coffee shop lokal. Bahkan ada beberapa coffee shop yang hadir dengan mengusung penggunaan 100% kopi Indonesia asli.

Pengetahuan beberapa kalangan akan jenis kopi pun juga meningkat, beberapa nama jenis kopi seperti Flores, Linthong, Lampung, Bali Kintamani dan Papua mulai dikenal dan ditawarkan. “Dulu orang asing hanya mengenal kopi Sumatera dan Toraja saja, bahkan tanpa tahu dimana letak Sumatera dan Toraja tersebut”, tambah Tuti.

Senada dengan Tuti, Mira Yudhawati selaku Marketing Manager dari PT. Java Arabica (Caswell’s) pun menanggapi, “Dulunya orang bertanya kopi itu yang pertama adalah harga. Justru sekarang, orang mau mengeluarkan uang lebih untuk kopi yang berkualitas. Bahkan sekarang orang sudah mulai mencari tahu ke arah yang lebih spesifik berdasarkan daerah, padahal dulu pengetahuannya cuma, ini Robusta apa Arabica?”, ungkapnya

Minimnya pengetahuan mengenai kopi juga berlaku pada petani Indonesia yang merupakan ujung tombak di bisnis ini. Rendahnya pengetahuan menyebabkan kualitas kopi menjadi tidak stabil dan dengan hasil yang buruk, otomatis berdampak pada tingkat kesejahteraan pada profesi petani. Alhasil menjadi petani kopi tidak menjadi populer di kalangan generasi muda.

Itulah yang menyebabkan kita berbeda dari produsen kopi lain yang lebih maju. Hal ini bisa jadi dikarenakan kurangnya sosialisasi dari pemerintah akan profesi tersebut, atau bisa jadi karena kurangnya dukungan pasar terhadap petani. “Kenapa petani asing menghasilkan kopi yang lebih baik dan konsisten? Karena petani mereka well educate. Kalau petani well educate, otomatis mereka akan selalu konsisten dalam men-take care kopi. Walaupun hasilnya tidak selalu sama, tetapi perubahannya tidak akan terlalu signifikan”, ungkap Mira.

Untungnya belakangan ini terdapat beberapa lembaga NGO asing ataupun SCAI (The Specialty Coffee Association Indonesia) yang hadir memberikan program pelatihan, dan bertujuan untuk membantu petani baik dari cara tanam, proses dan lain-lain. Pelatihan tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas kopi, meningkatkan kesejahteraan petani dan menumbuhkan minat generasi muda untuk menjadi petani kopi.

Dari hasil pelatihan tersebut, beberapa tahun belakangan ini mulai banyak anak muda yang mulai tertarik untuk menjadi petani kopi, seperti di daerah Jawa Barat, Aceh, Toraja dan daerah lainnya. “Petani sekarang sudah berusaha menghasilkan kopi dengan kualitas yang bagus, padahal kebanyakan dari petani kita hanya memiliki alat-alat sederhana tidak seperti petani di negara lain. Banyak juga NGO luar negeri memberikan edukasi untuk membantu perkembangan petani Indonesia menghasilkan kualitas kopi lebih baik”, ujar Tuti.

Faktor peningkatan perkembangan industry kopi Indonesia pun semata-mata tidak hanya kita lihat pada peningkatan penjualan green bean dan single origin semata. Kopi sachet pun juga turut andil dalam memajukan kesejahteraan petani, memperkenalkan kopi Indonesia, serta meningkatkan devisa negara. Tidak dipungkiri bahwa pasar terbesar bisnis kopi di Indonesia adalah kopi sachet atau kopi instan, bahkan beberapa brand juga hadir mewarnai pasar dunia.

Perkembangan bisnis kopi yang cukup menjanjikan tersebut, membuat beberapa pemain yang dulu hanya bermain di kopi sachet saat ini mulai menggarap pasar kopi premium. Ambil contoh Excelso yang juga membuka cafe dengan nama yang sama merupakan garapan dari produsen kopi Kapal Api. Lalu ada juga kopi Torabika yang juga membuka cafe dengan nama yang sama dengan brand kopinya. Belum lagi pemain baru seperti Wings Food yang belum lama ini merilis brand kopi barunya, Top.

Berkat perkembangan yang positif tersebut, membuat Tuti Mochtar menilai bahwa Industri kopi Indonesia 5 tahun ke depan masih terus menjanjikan. Baginya, baik itu single origin ataupun kopi sachet semuanya sama saja. Yang terpenting adalah mampu mengangkat nama baik Indonesia di kancah dunia. “Satu hal yang lebih penting lagi, semua orang di Industri kopi harus saling membantu dan jangan hanya terfokus akan keuntungan semata”, tutupnya.

foodservicetoday

Selasa, 05 Februari 2013

Harga Daging Sapi di Indonesia Paling Mahal?

Menteri Pertanian Suswono membantah harga daging sapi di Indonesia saat ini termahal di dunia. Namun, dia mengakui bahwa harga daging sapi, khususnya di DKI Jakarta, memang sudah mahal.

"Tidak benar itu, memang daging sapi itu ada jenis-jenisnya, mulai dari yang biasa hingga yang mahal. Kalau daging sapi untuk steak, itu memang mahal," kata Suswono saat ditemui selepas rapat koordinasi di kantor Kementerian Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/1/2013).

Menurut Suswono, harga daging sapi yang mahal tersebut sebenarnya hanya terjadi di DKI Jakarta atau di kawasan Jabodetabek yang juga terkena imbasnya. Hal ini disebabkan pasokan daging sapi ke Ibu Kota terbatas.

Untuk menekan harga daging sapi yang mahal itu, pihaknya meminta pusat-pusat peternakan sapi di daerah untuk menyuplai daging sapi ke Ibu Kota. Pihaknya juga meminta kepada pedagang sapi agar tidak memanfaatkan harga daging sapi yang tinggi tersebut untuk meraih keuntungan yang besar.

"Sebenarnya, margin keuntungan peternak ini sudah tinggi. Padahal, harga wajarnya sekitar Rp 60.000-Rp 70.000 per kg. Saya minta agar peternak tidak mengambil margin yang tinggi," tambahnya.

Seperti diberitakan, harga daging sapi di Indonesia saat ini adalah yang termahal di dunia. Harga di dalam negeri berkisar Rp 90.000 per kilogram, sementara di sejumlah negara lain hanya berkisar Rp 40.000. Pemerintah diminta turun tangan untuk menstabilkan harga daging.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, harga daging pada pekan keempat Januari 2013 mencapai Rp 90.000 per kilogram. Harga tersebut bertahan sejak minggu pertama Desember 2012.

Menurut data Bank Dunia, harga daging sapi rata-rata di Indonesia pada Desember 2012 mencapai US$ 9,76, sementara di Malaysia hanya US$ 4,3 ; Thailand US$ 4,2 ; Australia US$ 4,2 ; Jepang US$ 3,9;  Jerman US$ 4,3; dan India US$ 7,4.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi pekan lalu di Jakarta mengatakan masih tingginya harga daging di pasaran mengindikasikan pasokan yang masih tersendat.

"Saya tidak mau menggugat hasil survei yang menyebutkan pasokan sapi kita cukup, tetapi faktanya sudah tiga bulan ini harga daging tak kunjung turun. Jika ini terus dibiarkan, mendekati puasa dan Lebaran, harga daging bisa menyentuh level Rp 120.000 per kilogram. Itu sudah melampaui daya beli masyarakat," paparnya. (dbs)

Jumat, 01 Februari 2013

Pangsa Pasar Produsen Terigu Domestik Diestimasi 92%

Produksi seluruh produsen terigu domestik tahun 2013 ini diproyeksikan capai 4,99 juta ton, naik 7% dibanding tahun lalu 4,72 juta ton, menurut Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO). Nilai itu setara 92% pangsa pasar dari total konsumsi terigu nasional tahun ini sebesar 5,43 juta ton.

Ketua Umum APTINDO, Franciscus Welirang, menuturkan pangsa pasar produsen terigu domestik yang dominan antara lain karena pemberlakuan bea masuk tindakan pengamanan sementara (BMTPS) terhadap terigu impor asal Turki sejak 5 Desember 2012. 

Kementerian Keuangan menetapkan BMTPS sebesar 20% dari bea impor dikenakan dalam masa penyelidikan safeguard terhadap tepung terigu impor. "BMTPS layak diberlakukan oleh Kementerian Keuangan karena memang terjadi dumping terigu," kata Franciscus. BMTPS terhadap terigu impor asal Turki berlaku selama 200 hari sejak tanggal penetapan.



Selama ini Turki merupakan negara asal terigu impor terbesar di Indonesia. Pada 2010, pangsa pasar impor terigu Turki mencapai 58% dari total impor terigu di Indonesia, dan pada 2011 menurun menjadi 57%. Asosiasi mencatat impor terigu pada 2010 mencapai 775 ribu ton, sementara pada 2011 menurun menjadi 679 ribu ton.

Pangsa pasar terigu impor di 2012 diperkirakan turun menjadi 7% dibandingkan pangsa pasar tahun 2011, 14%. Penurunan itu didorong pertumbuhan investasi produsen terigu lokal di Indonesia sejak 2011.

Produsen lokal yang telah berinvestasi di 2011 antara lain PT Sari Pangan Makmur yang membangun pabrik di tiga daerah, PT Sarana Prima Makmur Sejahtera yang membangun pabrik di Bangkalan, Serang, dan Banjarmasin, serta PT Golden Flour Mills yang membangun pabrik di Banten.

Total kapasitas produksi ketiga produsen tersebut mencapai 1,52 juta ton per tahun. "Produsen terigu berinvestasi di Indonesia karena melihat potensi pasar terigu ke depan yang terus meningkat," ujar Franciscus.

Sementara produsen terigu yang berinvestasi tahun ini yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Wilmar Nabati Indonesia. Indofood Sukses Makmur melalui entitas anak, PT Bogasari Flour Mills, membangun pabrik terigu pada tahun ini. Pembangunan pabrik tersebut pada mulanya akan dibangun tahun lalu, namun masih terkendala lahan.

Pembangunan pabrik baru Bogasari dilakukan untuk menjaga pangsa pasar, seiring bertambahnya investasi baru di sektor industri tepung. Dari 19 perusahaan terigu di Indonesia yang ada di 2011, Bogasari masih dapat mempertahankan pangsa pasar sebesar 57% melalui dua pabriknya.

"Tahun 2000 industri tepung terigu itu hanya berjumlah 4, tahun lalu sudah mencapai 19. Diperkirakan ke depannya akan ada 21 perusahaan," kata Franciscus.

Wilmar Nabati Indonesia juga mulai membangun pabrik terigu di Surabaya akhir 2012 dengan nilai investasi sekitar Rp 300 miliar-Rp 500 miliar. Menurut direksi perseroan, pabrik baru tersebut ditargetkan beroperasi kuartal III 2013.

"Pabrik baru itu sudah mulai pembangunan konstruksi dengan kapasitas produksi 2x500 ton per tahun," ujar Hendri Saksti, Presiden Direktur Wilmar Nabati Indonesia.(dbs)

Kenaikan Tingkat Optimisme Konsumen Picu Perang Merek

Kenaikan tingkat optimisme dan kepercayaan konsumen di Indonesia tahun ini akan memicu perang merek (brand war) untuk menguasai pasar, menurut survei Credit Suisse. Persaingan merek yang semakin ketat akan terjadi untuk merek lokal dan merek internasional di segmen essentials dan discretionary

"Tingginya ekspektasi tingkat optimisme dan kepercayaan konsumen mendorong momentum merek untuk menguasai pasar sehingga memicu perang merek," ujar Karim Salamatian, Head of Non-Japan Asia Consumer Equity Research Credit Suisse.

Menurut dia, untuk memanfaatkan momentum tersebut, merek lokal dan merek internasional akan meningkatkan promosi dan iklan secara konvensional maupun digital. Credit Suisse mensurvei 14.000 konsumen di delapan negara emerging economy, yakni Brasil, Indonesia, China, India, Arab Saudi, Afrika Selatan, Rusia, dan Turki. Di Indonesia, survei dilakukan terhadap 1.500 konsumen.

Berdasarkan survei itu, responden di Indonesia lebih memilih merek asing untuk produk discretionary, sementara merek lokal disukai untuk produk essentials seperti fashion, produk kulit dan sepatu, serta parfum. Tahun ini, belanja konsumen untuk produk discretionary akan meningkat lebih tinggi dibanding produk essentials. Belanja produk discretionary mencakup produk kesehatan, otomotif, kosmetik, dan teknologi serta smartphone.

Di sektor kosmetik, persaingan diperkirakan makin ketat tahun ini, menurut asosiasi industri. Wiyantono, Ketua Bidang Perdagangan Persatuan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (Perkosmi), menilai persaingan akan lebih ketat seiring kenaikan harga jual 10% yang dilakukan produsen kosmetik lokal.

"Kenaikan upah buruh, harga kemasan, dan tarif energi mendorong kenaikan biaya produksi perusahaan kosmetik lokal pada tahun ini," kata Wiyantono, Ketua Bidang Perdagangan Persatuan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (Perkosmi) kepada wartawan. Dia mencontohkan, harga plastik kemasan untuk kosmetik tahun ini naik berkisar 10%-20%.

Menurut dia, biaya produksi kosmetik lokal tahun ini naik rata-rata 7% akibat kenaikan sejumlah komponen produksi. Kenaikan biaya tersebut akan dikonversi dengan menaikkan harga jual sebesar 10%.

Persaingan pasar kosmetik di Indonesia berasal dari produk-produk impor, produk perusahaan asing yang memproduksi di Indonesia, produk-produk impor yang sifatnya ilegal. Produk impor menguasai 13% pasar kosmetik di Indonesia, dengan menjangkau segmen konsumen middle-up. Produk-produk impor datang dari Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Jepang, hingga China.

Sementara produksi kosmetik lokal menguasai 87% pangsa pasar domestik dengan mencakup produksi oleh produsen Indonesia, seperti PT Mustika Ratu dan PT Martina Berto, maupun produksi oleh perusahaan asing seperti PT Unilever Indonesia, PT Procter & Gamble Indonesia, PT L’Oreal Indonesia, hingga PT Mandom Indonesia.

Pangsa pasar perusahaan asing ini cukup besar, dengan menawarkan produk-produk yang sifatnya modern. Untuk Unilever saja, terdapat produk skin cleansing, face care, dan hair care dengan merek-merek terkenal seperti Citra, Vaseline, Pond’s, Dove, Clear, dan Sunsilk. Sementara produk Mandom juga cukup kuat di pasar, dengan merek-merek seperti Gatsby, Pixy, dan Pucelle. L’Oreal dan P&G bahkan memasarkan hingga 300 jenis produk kosmetik di Indonesia.

Produk-produk impor ilegal, khususnya dari China, juga mengambil porsinya sendiri dalam pasar kosmetik Indonesia seiring pemberlakuan sistem notifikasi secara online oleh pemerintah. Agar dapat bersaing, perusahaan kosmetik lokal, baik yang sifatnya usaha menengah kecil maupun perusahaan yang skalanya cukup besar, seperti Mustika Ratu dan Martina Berto, perlu mengembangkan daya saing produk dengan mampu menangkap tren konsumsi oleh konsumen saat ini. (dsb)

Rabu, 30 Januari 2013

2013: Penjualan Susu Olahan Diproyeksi Tumbuh 10%

Penjualan industri susu olahan tahun ini ditargetkan naik 8%-10% menjadi Rp 35,82 triliun-Rp 36,48 triliun dibanding 2012, menurut asosiasi industri. Peningkatan tersebut ditopang pertumbuhan volume konsumsi.

“Pertumbuhan konsumsi menjadi faktor utama pendukung pertumbuhan industri susu nasional tahun ini,” kata Sabana Prawiradjaja, Ketua Umum Asosiasi Industri Pengolahan Susu (AIPS). Peningkatan volume antara lain didukung pertumbuhan jumlah penduduk.

Sabana menambahkan pertumbuhan konsumsi juga di dukung perbaikan daya beli masyarakat, seiring proyeksi pertumbuhan perekonomian Indonesia. “Meningkatnya kesadaran akan kesehatan juga mendorong konsumsi susu tahun ini,” ujar dia.

Pertumbuhan penjualan juga seiring target kenaikan penjualan oleh sejumlah produsen susu. Sabana yang juga Presiden Direktur PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company menuturkan perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 19,8% menjadi Rp 3,24 triliun di 2013 dibanding tahun lalu.

Kenaikan penjualan akan mendorong laba bersih Ultrajaya. Perseroan menargetkan laba bersih sebesar Rp 261,1 miliar pada 2013, naik 34% dibanding proyeksi tahun lalu Rp 194,7 miliar.

“Peningkatan penjualan ditopang penambahan kapasitas produksi pabrik sebesar 20%-30% pada 2013 dibanding tahun lalu,” kata Sabana. Setelah penambahan, kapasitas produksi Ultrajaya akan mencapai 360 juta liter-390 juta liter susu cair per tahun.

Sabana menuturkan penambahan kapasitas produksi akan dibiayai alokasi belanja modal 2013 sebesar US$ 5 juta-US$ 10 juta. Sementara di 2012, perseroan mengalokasikan dana belanja modal sebesar Rp 60 miliar, juga untuk pembelian mesin produksi. Perusahaan juga berencana membangun pergudangan di Jakarta untuk mendukung distribusi.

Ultrajaya masih mencari lahan sekitar 10 hektare untuk membangun pergudangan. Saat ini, jaringan distribusi Ultrajaya menjangkau 50 distributor dan 125.000 toko ritel di seluruh Indonesia. PT Frisian Flag Indonesia, pesaing Ultrajaya di segmen susu cair, memproyeksikan penjualan pada 2013 mencapai Rp 9,4 triliun, naik 20% dibandingkan target penjualan tahun lalu Rp 7,84 triliun.

“Kenaikan volume penjualan didukung kondisi ekonomi In donesia yang baik,” kata Sri Megawati,

Direktur Frisian Flag Indonesia. Pertumbuhan penduduk Indonesia juga menjadi pendorong pertumbuhan penjualan tahun ini. Makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan manfaat susu juga menjadi pendorong pertumbuhan penjualan perusahaan di 2013 dan tahun-tahun mendatang. 

Frisian Flag tahun ini akan terus melakukan berbagai kegiatan promosi untuk mendukung penjualan. “Dalam promosi, kami senantiasa mengkampanyekan manfaat dan kebaikan susu,” ujar Sri. (dsb)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...